Setelah genosida tahun 1994, Rwanda adalah negara yang hancur dengan ekonomi remuk dan masyarakat yang terpecah. Di tengah kesedihan dan kehancuran itu, Paul Kagame muncul membawa obor, menyembuhkan luka-luka dan nestapa rakyat Rwanda. Pada tahun 2000, ia resmi menjadi presiden dan mengawali misi besar, membangun kembali Rwanda dengan pijakan rekonsiliasi dan keadilan.
Di setiap sudut desa dan kota, Kagame menanamkan persatuan dan menghilangkan diskriminasi, hingga Rwanda mengalami revolusi ekonomi. Dalam waktu singkat, ekonomi yang sebelumnya terpuruk perlahan-lahan bangkit, Kagame berfokus memperbaiki jalan-jalan, membangun sekolah, dan membuka peluang bisnis baru. Kota-kota mulai berkilau dengan kehidupan baru. Anak-anak yang sebelumnya hidup dalam bayang-bayang kekacauan akhirnya memiliki peluang mengejar impian dengan penuh semangat.
Rwanda dan kisah gemilang Paul Kagame adalah contoh bahwa patahan perubahan sangat ditentukan visi sebuah kepemimpinan. Rwanda membuktikan dengan dedikasi terhadap reformasi sosial dan ekonomi, dapat mencapai kemajuan dan meningkatkan kehidupan rakyat.

Baiklah, mari kita uraikan pada hal yang lebih dekat dengan kita—masyarakat Bojonegoro. Sebelum itu, kita tak boleh naif, saat ini Bojonegoro masih menghadapi permasalahan mendasar, padahal dilihat dari sisi manapun, Bojonegoro memiliki banyak sekali potensi.
Misalnya, Bojonegoro adalah daerah dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terbesar kedua di Jawa Timur, dengan APBD sebesar Rp8,2 triliun. Dengan angka itu seharusnya Bojonegoro bisa berkembang pesat—tak lagi bergelut dengan kemiskinan, lambatnya pertumbuhan ekonomi, dan tantangan lingkungan yang semakin parah.
Pada Maret 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat kemiskinan Bojonegoro mencapai 11,69%. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional 9,03% dan rata-rata Jawa Timur sebesar 9,79%. Tingkat kemiskinan itu juga lebih tinggi dibandingkan kabupaten Nganjuk (10,17%) dan Madiun (10,63%).
Selain itu, meski sektor pertanian menjadi tumpuan hidup 43,54% penduduk Bojonegoro, namun kontribusi pada sektor pertanian hanya sekitar 10%. Hal itu menjadi salah satu faktor utama tingginya kemiskinan di pedesaan.
Tidak lain dan tidak bukan, rendahnya penerapan inovasi dan teknologi dalam pertanian, serta kurangnya akses terhadap bibit dan pupuk yang berkualitas menjadi penyebabnya. Meski kita tahu, situasi itu diperburuk oleh kondisi geografis Bojonegoro yang rentan perubahan iklim yang menyebabkan sering mengalami kekeringan panjang di musim kemarau dan banjir di musim penghujan.
Masalah lainnya, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro pada tahun 2023, hanya sebesar 2,47%, jauh lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,05% dan Jawa Timur sebesar 4,95%. Rendahnya pertumbuhan ekonomi itu menempatkan Bojonegoro di posisi tiga terendah di Jawa Timur, dibandingkan Lamongan (4,28%) dan Tuban (4,36%), Bojonegoro nampak jauh sekali tertinggal.
Melalui data dan angka-angka di atas kita dapat melihat dengan mata telanjang, meskipun Bojonegoro kaya akan sumber daya, khususnya sektor minyak dan gas bumi, namun masih sangat rentan mengalami penurunan kesejahteraan.
Nah, pada bagian ini, rasanya penting untuk mengurangi ketergantungan yang tinggi pada pendapatan Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas, agar apabila produksi minyak dan gas menurun, bahkan habis, APBD Bojonegoro tidak terlalu berdampak pada kemampuan membiayai program-program pembangunan dan pelayanan publik.
Paul Kagame membangun Rwanda tak sendiri, ia hanya memantik massa untuk mengakhiri kegelapan. Pun demikian dengan Bojonegoro, selain pemimpin yang visioner, generasi muda perlu mendorong kreativitas untuk membawa Bojonegoro keluar dari kubangan permasalahan ini.
Partisipasi Politik Pemuda
Pilkada 2024 nanti adalah momen calon pemimpin dan generasi muda Bojonegoro menentukan masa depan. Dalam konteks pilkada, partisipasi politik generasi muda tidak hanya perkara memilih pemimpin yang tepat, tetapi juga harus ikut berkontribusi membangun demokrasi, juga proses pembuatan kebijakan yang berpihak pada kepentingan Masyarakat dan anak muda khususnya. Untuk itu, generasi muda harus melihat pilkada sebagai peluang turut serta dalam proses politik, dan memastikan suara anak muda didengar.
Dalam tulisan ini, sebagai anak muda, saya menggarisbawahi bahwa perubahan yang diharapkan anak muda tak hanya sekedar perbaikan infrastruktur atau layanan publik belaka, tetapi juga bagaimana transformasi sosial lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dengan kondisi Bojonegoro, sesungguhnya kita membutuhkan pemimpin yang berani mengambil langkah-langkah konkret menangani isu-isu pemberdayaan ekonomi lokal, perubahan iklim, peningkatan kualitas pendidikan, dan penciptaan lapangan kerja yang layak. Isu-isu yang menghantui sebagian besar anak muda itu harus dijawab dengan tegas oleh calon pemimpin.
Sekali lagi, Pilkada 2024 bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga menentukan arah pembangunan Bojonegoro lima tahun ke depan. Untuk itu, anak muda Bojonegoro harus menyadari bahwa anak muda memiliki peran strategis mendorong perubahan yang dibutuhkan Bojonegoro, Untuk mewujudkan perubahan tersebut, generasi muda harus menjadi solusi, baik melalui keterlibatan dalam politik maupun melalui inisiatif-inisiatif sosial yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Saya yakin, dengan dukungan generasi muda, Bojonegoro dapat menjadi daerah yang tidak hanya sejahtera secara ekonomi tetapi juga memiliki arah pembangunan yang jelas dan terarah. Kecemerlangan yang pernah terjadi di Rwanda sangat mungkin terjadi di Bojonegoro, dengan catatan, anak muda terus mengembangkan kapasitas, untuk menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan di masa depan.
Catatan terakhir saya, melalui kisah Paul Kagame di Rwanda begitu pula persoalan di Bojonegoro, kita memerlukan pemimpin yang mendukung arah perubahan yang lebih baik—karena dengan begitu generasi muda juga akan lebih siap menghadapi perubahan dan mengarahkan Bojonegoro menuju masa depan lebih baik, masa depan yang lebih cemerlang, makmur dan sejahtera.







