Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Memahami Lingkungan: dari Hantu, Kehidupan, dan Ketakutan-ketakutan

Radinal Ramadhana by Radinal Ramadhana
08/06/2021
in Peristiwa
Memahami Lingkungan: dari Hantu, Kehidupan, dan Ketakutan-ketakutan

Hari Lingkungan Hidup Sedunia harus jadi momen memahami lingkungan secara bil-ilmi, bukan bil-ghoib lagi.

Tiap kali berbicara soal lingkungan atau alam, pasti ada kolektivitas rasa takut yang dirasakan. Entah takut pada bencana atau takut pada perubahannya. Nah, agar lingkungan tak sekadar menebar ketakutan, sebanyak 27 komunitas masyarakat sipil Bojonegoro tergabung dalam Aliansi Peduli Lingkungan gelar malam refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Acara refleksi diadakan pada malam, (5/6) di Kopitani tersebut, berkonsep diskusi dan pertunjukan musik. Diskusinya sangat menarik. Sebab dihadiri sejumlah narasumber yang kompeten terhadap bidang masing-masing.

Pada sesi diskusi menghadirkan empat Nara sumber, diantaranya Aw Syaiful Huda, Direktur Bojonegoro Institute (BI), Dedi Mahdi, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro, Anita Firdaos, Koordinator World Clean up Day (WCD) Bojonegoro dan Nur Cholis atau Pak Cho, Ketua Forum Peduli Bencana Indonesia (FPBI) Bojonegoro.

Diskusi yang diinisiasi mayoritas anak-anak muda ini, sangat penting untuk dilaksanakan. Setidaknya, ini membuktikan bahwa anak muda juga peduli lingkungan. Selain itu, agar menggugah para Pemangku Kebijakan atau Pemda agar mulai memerhatikan lingkungan secara serius dan tidak klise.

Sebab, sejauh ini, banyak oknum yang memperlakukan alam secara klise. Mereka mengingat alam dan lingkungan hanya untuk bargaining power jangka pendek seperti kebutuhan minta sumbangan atau minta sedekah belaka.

Sehingga, nasib hutan serupa hantu. Ia diingat untuk sekadar membangun bargaining power dan menakut-nakuti. “Jangan lewat hutan itu, awas ada hantunya” atau “jangan tinggal di hutan kami, kalau tak mau ngopeni”.

Nah, kalimat-kalimat menakutkan semacam itu, sesungguhnya kalimat yang tak sopan pada alam, khususnya hutan. Sialnya, Pemangku Kebijakan ingat peran hutan hanya saat ada kepentingan. Serupa anak kos-kosan yang ingat orangtua hanya saat kehabisan uang. Tentu ini su’ul adab. Dan su’ul adab pada lingkungan, sangat rentan kuwalat.

Karena itu, diskusi tentang lingkungan yang dilaksanakan Aliansi Peduli Lingkungan ini harus sering diadakan. Selain agar masyarakat lebih sopan pada alam, juga agar hutan dipahami secara bil-ilmi, bukan bil-ghoib lagi.

Selain diskusi yang asik, pertunjukan musik pada kegiatan ini juga tak kalah menarik, Acara ini dibuka oleh kelompok musik Thutak Thutuk Gathuk (TTG) dengan lagu-lagunya yang bertema lingkungan. Seperti Sungai, Hujan, Aroma Nasi dan Laut Tanpa Pantai.

Panggung acara pun cukup sederhana. Beberapa bagian panggung nampak dibuat dari batang dan ranting pohon yang mati, serta beberapa hiasan tambahan, sehingga terkesan estetik.

Diskusi berjalan dengan hikmat. Suasana Angkringan Kopi Tani cukup sejuk, disertai angin malam yang mendayu-dayu. Oleh sebab itu, kita semua tak akan jauh dari lingkungan dan menikmati keindahannya.

Alunan musik TTG membersamai obrolan kawan-kawan, dari obloran lingkungan hingga impian. Dari kopi menuju aneka bakaran. Semua terasa hikmat, jika kita semua mampu bersatu dengan alam dan lingkungan.

Tags: HantuIsu LingkunganMemahami lingkungan
Previous Post

Sawah dan Tragedi Pertumpahan Darah

Next Post

Kearifan Lokal Suku Tengger: Tradisi Bekti Marang Guru Papat

BERITA MENARIK LAINNYA

Pameran Temporer 2026: Membuka Jejak Peradaban Bojonegoro
Peristiwa

Pameran Temporer 2026: Membuka Jejak Peradaban Bojonegoro

13/09/2026
Peradaban Islam Bengawan: Dari Catatan hingga Kesenian
Peristiwa

Peradaban Islam Bengawan: Dari Catatan hingga Kesenian

12/09/2026
Cegah Pencemaran Bengawan, Warga Bedahan Gayam Gelar Aksi Jaga Bumi 
Peristiwa

Cegah Pencemaran Bengawan, Warga Bedahan Gayam Gelar Aksi Jaga Bumi 

11/09/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Ironi Lulusan Sarjana di Desa: Ketika Gelar Kalah Pamor dari Menantu Juragan dan Abdi Negara

Ironi Lulusan Sarjana di Desa: Ketika Gelar Kalah Pamor dari Menantu Juragan dan Abdi Negara

14/09/2026
Pameran Temporer 2026: Membuka Jejak Peradaban Bojonegoro

Pameran Temporer 2026: Membuka Jejak Peradaban Bojonegoro

13/09/2026
Peradaban Islam Bengawan: Dari Catatan hingga Kesenian

Peradaban Islam Bengawan: Dari Catatan hingga Kesenian

12/09/2026
Cegah Pencemaran Bengawan, Warga Bedahan Gayam Gelar Aksi Jaga Bumi 

Cegah Pencemaran Bengawan, Warga Bedahan Gayam Gelar Aksi Jaga Bumi 

11/09/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: