Selain menjadi tempat penyangga tatanan negara indonesia (petani), sawah juga bisa menjadi tempat pertumpahan darah.
Timor Timur, 1990. John Bapthista merupakan petani yang bisa dibilang berhasil. John memiliki lahan yang amat sangat luas. Di dalamnya ada padi, arugula, caisin, pakcoy, cabai, bawang daun, buncis, dan lain sebagainya.
John merawat lahan dengan penuh kasih sayang. Dia sering berbicara pada tumbuhan ketika berkebun. Dan tak lupa, John memanjatkan do’a kepada Tuhan sebelum mulai aktivitas kebun.
John menggarap lahan bersama istrinya, Sarmento Kristiani (Kristin). Bersama dua orang anak, Paulus dan Gabriel.
Di dekat lahan keluarga John, ada lahan yang dimiliki oleh Dominikus Soarez. John dan Soarez merupakan tetangga. Sering ngopi bersama, berburu babi di hutan, dan mabuk bersama.
Ketika memiliki banyak makanan atau hasil panen, John memberikan sebagian makanan ke keluarga Soarez, begitupun sebaliknya. Hubungan mereka sangat baik.
Lahan milik John dan Soarez berdekatan. Ketika istirahat setelah berkebun, keluarga John dan Soarez senantiasa menikmati makanan, ngerokok, dan ngopi bersama.
Dominikus Soarez juga berkebun bersama istri dan anaknya, Sarmento Soarez dan Lucas Soarez.
Pada suatu hari, terjadi adu mulut antara John Bapthista dan Dominikus Soarez yang disebabkan ihwal air. Pengairan air di sawah. Sebelumnya, mereka telah bersepakat untuk mengairi sawah mereka yang berdekatan secara bergiliran.
Namun John tidak terima dengan Soarez karena Soarez melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati. Dominikus Soarez menggunakan air yang sangat banyak, John tidak terima.
Setelah adu mulut yang disaksikan oleh burung, tetumbuhan, istri dan anak, keadaan semakin memanas. Dengan spontan, John mengambil golok yang tersimpan di gubuk. John langsung menebaskan golok ke leher Dominikus Soarez.
Dominikus Soares menghembuskan napas terakhir, disaksikan oleh anak dan istrinya. Setelah tragedi tersebut, tersimpan dendam antara keluarga Soarez dan John.
Tragedi tersebut membekas dalam ingatan keluarga Soarez, khususnya Lucas. Lucas kecil, menjadi saksi hidup ayahnya dipenggal kepalanya oleh John Bapthista.
Keluarga John sudah meminta maaf kepada keluarga Soarez ihwal kejadian tersebut. Dan keluarga Soarez telah menerima permintaan maaf keluarga John.
Tahun demi tahun berlalu. Lucas telah merantau, menginjakkan kaki di beberapa daerah. Setelah kembali ke kampung halaman, dia tetap menjalin hubungan baik dengan John Bapthista yang sudah menua.
Lucas Soarez juga masih menggarap lahan warisan ayahnya, Dominikus Soarez. Saban pagi, Lucas senantiasa menyeduh kopi bersama John Bapthista.
Setelah bertahun-tahun tragedi meninggalnya Dominikus Soarez, tepat pada tanggal dan bulan yang sama ketika usai menikmati secangkir kopi berdua di halaman rumah, Lucas langsung mengeluarkan golok yang tersimpan di tas. Dan langsung memenggal kepala John Bapthista. Di tempat ngopi itulah, John meninggal dunia.








