Menulis dengan benar, perlu menjadi filosofi mahasiswa kekinian. Era copy-paste pembuatan karya tulis ilmiah di tengah keberlimpahan sumber, menjadi alasan menulis benar perlu dilakukan.
Terlebih, kata “benar”, meminjam istilah KBBI online, bermakna sesuai sebagaimana adanya (seharusnya); betul; dan tidak salah.
Jika demikian, menulis benar berarti sesuai dengan panduan yang ada. Betul dan tidak ada kesalahan kata. Jika kemudian PT, universitas, memiliki buku pedoman penulis karya ilmiah, tentu mahasiswa dalam menulis rujukannya haruslah ke sana kiblatnya. Jangan malah melenceng jauh tidak mengindahkan aturan kepenulisan yang telah ditentukan.
Perlu diketahui, setiap PT, universitas, memiliki gaya khas (selingkung) kepenulisan karya ilmiah. Entah itu makalah, skripsi, dan lainnya. Tentu sebagai mahasiswa, gaya selingkung penulisan karya ilmiah tinggal dilaksanakan secara benar.
Terlebih, kemanfaatannya tidak sekadar agar ada kesatupaduan atau keseragamaan dalam penulisan karya ilmiah. Lebih dari itu, membekali mahasiswa sejak dini agar terbiasa menulis secara benar terhadap karya tulis yang dibuat.
Sebagai pendidik yang demen dengan karya tulis yang benar, penulis selalu menekankan kepada mahasiswa untuk semangat membuat karya tulis ilmiah secara benar dengan indikator:
Pertama, sistematis. Karya tulis yang benar adalah runut sistematika penyajiannya. Sedikit menggambarkan, bila Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri memiliki gaya selingkung terhadap sistematika penyajian karya ilmiah mulai dari cover, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, pembahasan, simpulan dan daftar pustaka.
Mendasarkan kepada contoh gaya selingkung Unugiri tersebut, berarti karya tulis dikatakan benar bila sistematika penulisan makalah memenuhi komponen tersebut. Tidak tertinggal salah satunya, dan tidak terbolak-balik penempatannya.
Kedua, memiliki kualitas. Karya tulis ilmiah yang benar itu memiliki kualitas lebih dalam penyajian. Kualitas yang penulis maksud adalah, sahih sumbernya. Artinya, selain memakai sumber primer, rujukan karya tulis itu juga tidak boleh setengah-setengah dalam penyajiannya.
Sebagai misal, bila saat membuat makalah yang disertai rujukan berbentuk catatan kaki, berati harus utuh menyebutkan dengan gamblang sumber rujukannya. Ada nama penulis dan judul buku, nama, asal, dan tahun penerbitan, hingga halaman yang dikutip.
Sahih yang penulis maksud adalah, kelengkapan rujukannya terwujud. Yakni, tidak kurang bagian-bagiannya oleh berbagai faktor lupa, tidak tahu, kala mengutip.
Selain kesahihan sumber, kualitas karya ilmiah juga bisa diidentifikasi dari konsistensi kata, jenis dan ukuran font. Konsistensi yang penulis maksud adalah ketetapan dalam memilih kata.
Sebagai contoh, bila dalam karya tulis kata “istikamah” dipilah dan digunakan mulai dari awal halaman karena sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka ketika kata tersebut digunakan disetiap halaman, penulisannya harus tetap “istikamah” tidak perlu dicampur dengan “istiqamah”. Jika kemudian dicampur, artinya secara kepenulisan karya ilmiah tersebut tidak konsisten.
Sementara, konsistensi pada “jenis font” juga perlu diperhatikan. Bila pada buku panduang penulisan itu jenis font-nya adalah “Times New Roman”, maka penulisan mulai cover hingga daftar pustaka jenisnya harus sama. Tidak boleh ada font illegal bin campur-campur dimasing-masing halaman. Justru bila hal itu ada, konsistensinya dipertanyakan.
Hal yang lain, juga konsistensi dari sisi ukuran font-nya. Artinya, bila pada buku panduang telah ditentukan ukuran font -12 sebagai misal- sudah selayaknya ukuran yang tertera dilaksanakan. Jangan justru menentukan sendiri yang tidak ada dasarnya.
Ketiga, meminimalisir typo. Mengutip KBBI online, tipo bermakna kesalahan tulis pada teks yang terlanjur dicetak. Artinya, karya tulis yang telah dihasilkan oleh kelompok minim bahkan zero typo.
Lalu, bagaimana itu terwujud?
Tentu, sebelum karya tulis ilmiah dikirimkan kepada dosen dan group kelas, kelompok perlu menelitinya dengan membagi halamannya untuk dilakukan editing kata bersama. Jika hal itu dilakukan, tentu tipo pada karya tulis ilmiah yang dibuat akanlah tidak ditemukan.
Tiga hal di atas, perlu diperhatikan oleh mahasiswa kekinian agar memiliki kewaspadaan dini untuk belajar menulis dengan benar. Karena, menulis karya ilmiah yang sekadar dan alakadarnya, hasilnya juga sekadar dan alakadarnya. Tidak menjadi karya monumental.
Tidak mampu memberi edukasi kepada sesama mahasiswa cara menulis karya tulis ilmiah yang benar. Serta yang lebih berat, tidak pernah mengaplikasikan pengetahuan yang ketahui dalam praktik nyata.
Jika demikian adanya, mahasiswa tidak akan bertambah skill menulisnya. Karena, antara pengetahuan dan praktik nyata, menulis karya tulis ilmiah tidak terwujud dan dilakukan dengan benar.
Kecenderungan yang ada, lebih senang mengikut arus kebanyakan -apa adanya saja- yang justru menyiapkan diri tidak bisa apa-apa. Lalu, apakah ingin yang seperti itu? Jawabannya, penulis pasrahkan kepada panjenengan ya, Lur..!
* Penulis adalah Dosen Prodi PAI Unugiri, dan peraih penghargaan Tesis Terbaik Tingkat Universitas di UIN Walisongo Semarang Tahun 2021.








