Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Membaca dan Merenungi Selasa Bersama Morrie

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
22/10/2019
in JURNAKULTURA
Membaca dan Merenungi Selasa Bersama Morrie

Saya jenis pembaca yang sulit memahami buku motivasi secara vulgar. Namun, meski banyak yang menganggap Selasa Bersama Morrie sebagai novel motivasi, saya cukup mudah menerima dan memahaminya.

Sepintas, Selasa Bersama Morrie memang mirip Chicken Soup for The Soul-nya Jack Canfield. Namun, perbedaannya tampak jelas. Sebab, ia ditulis bergaya novel fiksi dengan pesan moral yang samar dan tak menggurui.

Selasa Bersama Morrie merupakan novel pertama Mitch Albom — seorang mantan musisi profesional sekaligus jurnalis dan kolumnis olahraga handal yang tulisan-tulisannya dimuat di Detroit Free Press.

Nabs, novel karya Mitch Albom ini rilis pada 1997 silam. Respon pembacanya pun luar biasa besar hingga menjadikan buku ini berstatus Best Seller. Bahkan, dua tahun berikutnya, tepatnya pada 1999, sebuah film adaptasi dari buku ini pun dibikin.

Selasa Bersama Morrie berkisah tentang pertemuan-pertemuan si penulis, Mitch Albom, dengan sosok bernama Morrie Schwartz. Morrie merupakan dosen sosiologi emiritus di Brandeis University, Massachusetts. Sedangkan Mitch Albom adalah mantan mahasiswanya.

Dalam novel ini, Mitch Albom, si penulis, berkutat dan selalu disibukkan dengan pekerjaan sebagai penulis di surat kabar dan majalah olahraga. Ia terlalu sibuk mengejar materi dan sama sekali tak tahu kalau dosen kesayangannya sedang diambang batas hidupnya akibat penyakit bernama Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).

Hingga suatu malam, dia mendengar nama Morrie disebut di televisi. Barulah Mitch berupaya meluangkan waktu demi mengunjungi dosennya itu lagi. Sejak saat itu, setiap hari Selasa, kedua orang yang 16 tahun putus hubungan itu, saling bertemu untuk membicarakan banyak hal tentang kehidupan.

Iya, hampir setiap hari Selasa — 14 Minggu sebelum kematian Morrie — Mitch selalu bertemu untuk mendengar kisah-kisah tentang kehidupan dari Morrie. Buku ini dibangun berdasar perjumpaan-perjumpaan sang penulis bersama Morrie Schwartz, setiap hari Selasa yang berisi pembicaraan-pembicaraan mengenai makna hidup.

Morrie yang hidupnya sudah di ambang batas, tentu tak tiba-tiba menjadi sosok tegar begitu saja. Awalnya, dia bersedih. Tapi, ketika suatu hari dia menyadari bahwa dunia akan tetap bergerak meski dia terjatuh, Morrie pun berpikir apa yang harus dia lakukan untuk sisa hidupnya itu.

Ia tahu ALS tidak ada obatnya. Ia tahu umurnya sebentar lagi habis. Ia tahu harapan sembuh untuk bisa kembali berdiri, berdansa, berkeliling komplek rumah menikmati suasana pagi sudah tiada lagi. Namun Morrie tetap bahagia.

Ini yang membuat penulis, Mitch Albom, perlahan mampu mengubah sifat buruknya. Dari yang sebelumnya selalu kemaruk dan dibingungkan materi, menjadi sosok yang suka merenung dan mengingat nikmat-nikmat kecil.

Buku berjudul asli Tuesday With Morrie ini, sebenarnya hanya menggambarkan kehidupan kita sehari-hari. Kita yang seringkali lupa dengan apa yang sesungguhnya kita cari.

Kita yang terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum kita miliki, dan selalu abai pada apa yang telah kita dapat dan miliki. Kita yang menilai keberhasilan dari segi kekayaan, jabatan, status sosial dan hal-hal materi lainnya.

Sehingga pada akhirnya, kita menjadi sosok yang, oleh Morrie, disebut  sebagai orang-orang yang hidup tapi seperti orang mati. Hidup hanya seperti robot.

Hidup dalam pandangan Morrie tidak dinilai dari seberapa kaya kita atau seberapa tinggi jabatan kita atau seberapa penting status sosial kita.

Hidup yang bermakna, katanya, ketika kita sudah bisa memberikan sesuatu bagi orang lain, bagi lingkungan, dan bagi masyarakat luas. Karena hanya dengan itu, hidup lebih berarti.

Meski bergenre nonfiksi semi biografi dan berdasar kisah nyata, buku setebal 209 halaman ini sangat enak dibaca karena ditulis dengan gaya fiksi. Buku ini sangat bagus dibaca untuk memicu kepekaan merenung dan bersyukur.

Saya kira, Selasa Bersama Morrie akan membawa pembaca tersentuh dan merenung tentang kehidupan yang sudah dijalani selama ini, dengan cara yang, sungguh tidak menggurui.

Tags: Mitch AlbomSelasa Bersama Morrie
Previous Post

Santri Santuy: Terus Ngaji dan Tetap Santun

Next Post

Cuaca Panas Ekstrem Melanda Indonesia Selama Seminggu ke Depan

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

TP PKK Kecamatan Sugihwaras Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga jadi Berkah, Dukungan Nyata Gerakan Perilaku Hidup Bersih

TP PKK Kecamatan Sugihwaras Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga jadi Berkah, Dukungan Nyata Gerakan Perilaku Hidup Bersih

22/05/2026
Industri Migas dan Pertanian Jalan Beriringan, Bojonegoro Tempati Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jawa Timur  

Industri Migas dan Pertanian Jalan Beriringan, Bojonegoro Tempati Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jawa Timur  

22/05/2026
Kesehatan: Equilibrium Inovasi dan Kebijaksanaan

Kesehatan: Equilibrium Inovasi dan Kebijaksanaan

21/05/2026
Kebangkitan Nasional dan Bunyi Notifikasi

Kebangkitan Nasional dan Bunyi Notifikasi

20/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: