Tidur dinihari dan bangun kesiangan, awalnya memang tampak seksi dan keren sekali. Cuma, seiring bertambahnya kegiatan di luar kesenangan pribadi, keseksian itu hilang berganti banyak masalah.
Seorang kawan kaget ketika saya mengiriminya sebuah file tepat pukul lima pagi. Dia langsung menelpon dan bertanya, sejak kapan saya bisa bangun pagi? Tentu kami tertawa.
Bangun pagi memang bukan perkara sederhana bagi saya. Selama bertahun-tahun, periodisasi hidup saya agak terbalik. Pagi yang bagi sebagian orang waktunya bangun tidur, saya justru berangkat tidur.
Dan kebiasaan itu, kau tahu, sudah terpupuk rapi sejak zaman tinggal di pondokan asrama. Tentu untuk mengubahnya butuh upaya yang tidak sederhana. Seperti perokok yang harus berhenti merokok secara mendadak: sulit.
Sebabnya tentu beragam. Mulai dari nggak bisa tidur karena kepikiran si dia nonton bola hingga begadang yang tiada artinya. Pelan-pelan, kebiasaan itu bisa saya atasi. Tapi ternyata muncul masalah lain.
Selain karena suka melakukan kegiatan pada dinihari, saya merasa, tidur setelah subuh adalah godaan yang sulit diatasi. Ia sejenis goda dengan level yang setara harta, tahta dan, tentu saja, wanita.
Saya dan kawan-kawan seasrama, dulu memang punya kebiasaan tidur setelah jamaah subuh. Itu sejenis kenikmatan yang langka dan amat istimewa. Sialnya, kebiasaan itu masih terbawa, bahkan ketika saya sudah pulang ke rumah.
Nabs, tidur dinihari dan bangun kesiangan memang laku yang jumud dilakukan lelaki usia 20-an. Dengan menjalani rutinitas semacam itu, secara tak langsung konon bakal mendapat legitimasi sebagai pria dewasa.
Tidur dinihari dan bangun kesiangan, awalnya memang tampak seksi dan keren sekali. Cuma, seiring bertambahnya kegiatan di luar kesenangan pribadi, keseksian itu hilang berganti banyak masalah.
Saya sering telat masuk kuliah. Sering bingung mau ngapain sesaat jelang bangun tidur. Dan sering kehilangan potensi mendapat rejeki pagi hari. Tak ayal, semester awal kuliah saya berantakan.
Tidur dinihari dan bangun kesiangan sudah tak seksi lagi. Sudah tak keren lagi. Terlebih, sejak saya membaca sebuah laporan di Paris Review tentang kebiasaan bangun tidur Haruki Murakami yang teramat mencengangkan.
Meski produktif menulis dan hasil tulisannya amat keren, Mbah Haruki amat rajin bangun sebelum subuh. Tentu itu pukulan telak bagi saya. Tak ada alasan lagi bagi saya untuk bangun kesiangan hanya karena malamnya sok-sokan menulis.
Coba baca paragraf yang saya terjemah secara bebas dari Paris Review ini:
“Saat saya sedang menulis novel, saya bangun pukul 4 subuh dan bekerja selama lima hingga enam jam. Pada siang hari, saya berlari sejauh 10 kilometer atau berenang sejauh 1500 meter (atau keduanya), lalu saya baca-baca sedikit dan mendengarkan lagu. Saya tidur pukul 9 malam.”
Lihatlah, Haruki Murakami bisa bangun pukul 4 subuh. Setelah itu nulis. Setelah itu lari-lari. Dan kembali tidur pada pukul 9 malam. Wow! Tentu saja itu amat luar biasa sekali. Terlebih, tulisan-tulisan Murakami tak diragukan keanggunannya.
Lha saya, sudah sok-sokan begadang untuk nulis, udah bangunnya kesiangan, tapi toh tetap saja tak menghasilkan apa-apa. Justru malah rugi karena potensi datangnya jodoh di pagi hari banyak yang melintas tanpa tersapa secara maksimal ~
Pelan-pelan pikiran saya sudah mulai berubah. Jika dulu begadang dan bangun kesiangan itu keren, sekarang sudah nggak. Kini, begadang atau tak begadang, bangun pagi tetap lebih keren dan lebih kece dibanding bangun kesiangan.
Tapi memang tidur jam 9 atau jam 10 atau jam 11 itu sulit. Seringnya bisa tidur pukul 4 atau 5 jelang subuh. Dan itu, konon, memicu bangun kesiangan. Meski sesungguhnya, alasan itu tak bisa dibenarkan.
Buktinya, banyak juga kok yang tidurnya jam 3 atau jam 4 atau jam 5 jelang subuh, tetap bisa bangun jam 6 atau jam 7 pagi. Tapi entah kenapa, kalau dicoba rasanya kok tetap sulit jua. Bangun siang tetap terasa niscaya, di tengah tubuh yang bobok dinihari.
Saya ingat Mbah Murakami lagi, kalau nggak salah, doi pernah bilang:
“Otot manusia itu seperti binatang pekerja yang cepat belajar, sekaligus ingin hidup sesantai mungkin. Jika tak dilatih, otot-otot bisa melunak, termasuk otot-otot kaki untuk berlari dan otot-otot tangan untuk menulis. Begitu pula otak manusia. Jika tak dilatih dan dibiasakan untuk berpikir seperti dalam aktivitas menulis, dia akan lekas pikun.”
Nah, saya mulai sedikit ada gambaran. Mereka yang tidur dinihari tapi tetap bisa bangun amat pagi, mungkin karena selalu dipaksa dan ditelateni. Sebab tanpa dipaksa, sikap malas bangun kian manja dan kian berganda. Karena itu harus dipaksa. Agar tidur jam berapa saja, bangun pukul 5 pagi tetap niscaya.
Bangun pagi, bisa jadi bukan urusan berangkat tidur jam berapa. Tapi lebih pada urusan mental. Ia harus dipaksa. Harus dibiasakan. Saya sedang memaksanya, sedang membiasakannya. Meski tentu, masih amat sulit.








