Ketika manusia mulai percaya bahwa semua jawaban harus datang dari sistem, maka manusia perlahan berhenti mendengar kehidupan itu sendiri.
Malam itu hujan turun pelan di Nitiprayan, Yogyakarta. Angin membawa bau tanah basah dan daun pisang dari halaman belakang. Saya duduk di bangku kayu sambil membaca buku tua karya Ivan Illich. Lampu temaram. Suara jangkrik bersahutan. Entah bagaimana, di antara bunyi hujan dan halaman-halaman buku yang mulai menguning itu, saya merasa seseorang duduk di depan saya.
Ia memakai baju sederhana. Wajahnya tenang, tetapi matanya seperti menyimpan kegelisahan panjang terhadap dunia modern. “Jadi,” katanya sambil tersenyum tipis, “Anda masih percaya sekolah bisa menyelamatkan manusia?”
Saya tertawa kecil. “Di negeri kami, sekolah justru sering menjadi ukuran harga diri seseorang.” Illich mengangguk pelan. “Itulah masalahnya,” katanya. “Ketika belajar dipenjara di dalam sekolah, manusia mulai percaya bahwa pengetahuan hanya sah jika diberi stempel institusi.”
Saya terdiam. Saya teringat anak-anak yang sebenarnya cerdas, tetapi merasa bodoh hanya karena tidak cocok dengan ruang kelas. Saya teringat petani yang memahami cuaca lebih dalam daripada sarjana pertanian, tetapi dianggap tidak ilmiah. Saya teringat ibu-ibu kampung yang hafal tanaman obat, tetapi kalah wibawa di depan iklan farmasi.
“Apakah Anda anti sekolah?” tanya saya. Ia tersenyum lagi. “Tidak. Saya anti ketika sekolah menjadi satu-satunya pintu menuju pengakuan.” Hujan makin deras. Illich lalu mengambil ranting kecil yang jatuh di meja dan memutarnya perlahan di tangannya.
“Manusia modern,” katanya, “sedang kehilangan kemampuan dasar untuk hidup.” “Maksudnya?” “Kita tidak lagi percaya pada kemampuan komunitas. Semua harus diserahkan pada institusi. Orang sakit menyerahkan tubuhnya sepenuhnya kepada rumah sakit. Anak menyerahkan rasa ingin tahunya kepada kurikulum. Warga menyerahkan hidupnya kepada birokrasi.”
Ia berhenti sejenak. “Lalu manusia lupa bagaimana saling merawat.”
Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu yang lama saya rasakan tetapi sulit saya jelaskan. Saya lalu bertanya, “Tapi bukankah teknologi membuat hidup lebih mudah?” “Ya,” jawabnya cepat. “Tetapi pertanyaannya bukan mudah atau sulit. Pertanyaannya: apakah teknologi membuat manusia lebih merdeka?” Ia mencondongkan tubuh.
“Sepeda,” katanya, “lebih manusiawi daripada kota yang memaksa semua orang membeli mobil. Radio komunitas lebih sehat daripada media raksasa yang menentukan cara berpikir jutaan manusia. Alat yang baik adalah alat yang memperbesar kemampuan manusia untuk hidup bersama—bukan alat yang membuat manusia bergantung.”
Saya teringat desa-desa yang dulu hidup dengan lumbung, gotong royong, sumur bersama, dan pasar kecil—sebelum semuanya perlahan digantikan aplikasi, pusat perbelanjaan, dan sistem besar yang jauh dari manusia.
“Di Indonesia,” kata saya pelan, “kami punya tradisi gotong royong. Tapi sekarang semuanya mulai dihitung dengan uang.” Illich memandang hujan di luar. “Modernitas sering datang sambil membawa janji kemajuan,” katanya lirih. “Tetapi diam-diam ia mencabut akar hubungan manusia.” Kami lama terdiam.
Lalu saya bertanya sesuatu yang mengganggu saya sejak tadi. “Kalau begitu, apakah Anda menolak kemajuan?” Ia tertawa kecil. “Tidak. Saya hanya tidak percaya bahwa pertumbuhan tanpa batas adalah tanda kesehatan.”
Ia lalu menunjuk jalan raya di kejauhan. “Ketika jalan diperbesar terus-menerus, kota justru makin macet. Ketika rumah sakit tumbuh terlalu besar, manusia makin takut pada tubuhnya sendiri. Ketika sekolah diperluas tanpa henti, masyarakat justru kehilangan tradisi belajar alami.”
“Jadi semua ada batasnya?” “Ya,” katanya mantap. “Setiap sistem punya titik ketika ia berhenti melayani manusia dan mulai mengendalikan manusia.” Saya menatap wajahnya yang tenang itu.

Tiba-tiba saya teringat banyak hal di sekitar saya sendiri: anak-anak yang kelelahan mengejar nilai, petani yang dipaksa membeli benih industri, masyarakat yang merasa tidak mampu berpikir tanpa sertifikat ahli, dan kota-kota yang makin modern tetapi makin sepi dari percakapan antarwarga.
“Mungkin,” kata saya perlahan, “yang hilang bukan teknologi, tetapi hubungan antarmanusia.” Illich tersenyum lebar kali ini. “Ya,” katanya. “Peradaban yang sehat bukan peradaban yang paling canggih, tetapi yang masih memungkinkan manusia saling bertemu sebagai manusia.”
Hujan mulai reda. Di kejauhan terdengar suara denting tiang listrik ronda malam. Saya merasa percakapan itu seperti datang dari masa lalu, tetapi anehnya justru berbicara tentang masa depan. Sebelum ia pergi, saya sempat bertanya: “Jika Anda hidup hari ini, apa yang paling Anda khawatirkan?” Ia memandang layar computer di meja saya yang masih menyala.
“Ketika manusia mulai percaya bahwa semua jawaban harus datang dari sistem,” katanya pelan, “maka manusia perlahan berhenti mendengarkan kehidupan itu sendiri.” Lalu ia berdiri. Dan entah bagaimana, setelah percakapan malam itu, suara hujan terasa berbeda.








