Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Sebuah Resume: Kisah Patah Hati dan Tak Semua Perempuan Layak Dibenci

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
04/02/2020
in Cecurhatan
Sebuah Resume: Kisah Patah Hati dan Tak Semua Perempuan Layak Dibenci

Kebencian pasca patah hati memang rentan terjadi pada hati lelaki. Tapi, satu hal yang harus diingat: tak semua perempuan layak dibenci, ada kalanya dia cukup diabaikan saja.

Ini hari yang ganjil. Sejak siang hari, ada tiga mahasiswa dan aktivis muda yang mengirim tulisan secara beruntun di Jurnaba. Uniknya, semua tulisan bertema patah hati beserta remeh-temeh kesedihannya.

Saya masih belum tergerak merespon fenomena itu, hingga sore sebelum Maghrib, seorang kawan di Surabaya, yang juga seorang aktivis muda, menelpon saya dengan suara yang agak berat dan tergesa.

Katanya di dalam sambungan telepon itu, dia tertimpa masalah. Barusan, kekasihnya mengambil manuver luar biasa: memutuskannya. Tentu saja, itu menambah daftar panjang kisah patah hati yang saya dengar hari ini.

Sebagai lelaki yang pernah muda dan tahu rasanya patah hati, tentu saya ingin menulis resume tentang empat cerita beruntun soal patah hati itu.  Setidaknya agar menambah menjadi 5 kisah. Biar kayak Pancasila.

Cerita pertama soal tulisan Muhammad Andrea, tentang ingatan akan bus kota dan kenangan luka yang masih menganga. Bagi saya, itu cecurhatan yang wajar dimiliki tiap lelaki remaja yang pernah jatuh hati.

Ada kutipan menarik dalam tulisan tersebut: amung kenal lan tresno, ora sampai dadi keluargo. Ini tentu kalimat menye-menye tapi tak sepele. Ia tak sepele karena menjadi keniscayaan: bahwa hati boleh jatuh cinta pada siapa saja, tapi urusan menikah dan berkeluarga, takdir jua yang berbicara.

Kisah kedua ditulis oleh Joko Kuncoro. Jokun menulis kisah tentang kawannya yang digantung dan tak diberi kepastian oleh gadis yang diincarnya. Gadis yang di saat sama, sudah memiliki pasangan. Ini kisah patah hati yang serupa penyakit kanker. Melukai secara perlahan.

Secara tersirat, Joko membeber betapa absurdnya sifat perempuan. Yang di satu sisi masih ingin terus diperhatikan, tapi di lain sisi tak memberi kepastian. Bagi saya, lagi-lagi ini sebuah keniscayaan. Bahwa lelaki menang milih, perempuan menang menentukan.

Kisah ketiga yang ditulis M. Abid Amrullah adalah kisah ngenes nan bijaksana. Bertandang ke pernikahan mantan tentu bukan urusan sederhana. Butuh keberanian seekor singa dan ketenangan seekor gajah untuk melakukannya.

Dan Abid, dalam ceritanya, membuktikan dirinya sosok lelaki sejati. Lelaki yang jembar dadanya. Lelaki yang boleh saja berkonflik dengan mantan, tapi wajib takzim pada kedua orang tua mantannya. Sebab bagaimanapun, dia pernah menyayangi sosok yang pernah lahir dari tubuh mereka berdua.

Kisah ke-empat yang tidak atau belum tertulis, adalah kisah kawan yang menelpon saya sebelum Maghrib tadi. Dia mengatakan jika baru saja putus dengan kekasihnya. Tentu saja ini kisah sedih di awal Februari yang konon identik dengan bulan cinta.

Tentu saja saya tak bisa berkomentar apa-apa. Sebab bagi saya, menjadi lelaki harus pernah patah hati. Meski cuma sekali. Cemburu dan sakit hati boleh berkali-kali, tapi patah hati harus cuma sekali. Ya, seperti disunat. Emang mau disunat lebih dari sekali?

Kebencian pada perempuan pasca patah hati memang rentan terjadi. Tapi, satu hal yang harus diingat: tak semua perempuan layak dibenci, adakalanya dia cukup diabaikan saja.

Sebab, untuk membenci karena cinta, hakikatnya jauh lebih sulit dan butuh lebih banyak energi daripada mencintai. Karena itu, untuk sekadar membenci pun, bahkan kamu harus berpikir dua kali.

Sebab, jika kebencian itu dipantik oleh rasa cinta, jangan-jangan untuk dibenci pun dia masih belum layak. Oleh karena itu, cukup diabaikan dan dibiarkan saja. Biar tak membebani langkah demi menjemput masa depan yang jelas-jelas amat cerah.

Tags: KebencianLelaki Sejatipatah hati
Previous Post

Saat Aku Berkunjung ke Pernikahan Mantan

Next Post

Imperialisme Atas Nama Cinta

BERITA MENARIK LAINNYA

Ketika AI Pandai Bicara, Remaja Harus Lebih Pandai Berpikir
Cecurhatan

Ketika AI Pandai Bicara, Remaja Harus Lebih Pandai Berpikir

23/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya
Cecurhatan

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

23/05/2026
Kesehatan: Equilibrium Inovasi dan Kebijaksanaan
Cecurhatan

Kesehatan: Equilibrium Inovasi dan Kebijaksanaan

21/05/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Ketika AI Pandai Bicara, Remaja Harus Lebih Pandai Berpikir

Ketika AI Pandai Bicara, Remaja Harus Lebih Pandai Berpikir

23/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

23/05/2026
TP PKK Kecamatan Sugihwaras Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga jadi Berkah, Dukungan Nyata Gerakan Perilaku Hidup Bersih

TP PKK Kecamatan Sugihwaras Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga jadi Berkah, Dukungan Nyata Gerakan Perilaku Hidup Bersih

22/05/2026
Industri Migas dan Pertanian Jalan Beriringan, Bojonegoro Tempati Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jawa Timur  

Industri Migas dan Pertanian Jalan Beriringan, Bojonegoro Tempati Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jawa Timur  

22/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: