Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Fazerdaze dan Cerita tentang Musik Shoegaze yang Menggelitik Telinga

Mahfudin Akbar by Mahfudin Akbar
15/02/2020
in Altertainment
Fazerdaze dan Cerita tentang Musik Shoegaze yang Menggelitik Telinga

Shoegaze merupakan sub-genre dari alternative rock. Ciri khas utama dari Shoegaze adalah efek distorsi gitar yang sangat kental. Permainan efek ini menimbulkan feedback suara riff gitar yang khas.

Kebiasaan berselancar di Youtube membuat saya terdampar ke sebuah video klip dari Fazerdaze berjudul Lucky Girl. Entah kenapa, lagu tersebut bisa dengan mudah diterima telinga saya.

Fazerdaze sebenarnya adalah nama pangggung dari seorang penyanyi Selandia Baru keturunan Indonesia, Amelia Murray. Perempuan kelahiran 1993 tersebut memang sengaja menggunakan Fazerdaze sebagai nama panggungnya.

Warna musik dari Fazerdaze ini memang sangat berbeda dengan musik kekinian. Ketika pertama kali mendengar, saya serasa dibawa ke masa lampau. Musiknya benar-benar berbeda.

Selain Lucky Girl, beberapa lagu lain dari Fazerdaze juga mampu menggelitik telinga saya. Contohnya Little Uneasy dan Take It Slow. Lagu yang bisa dengan mudah masuk ke telinga dan otak saya.

Setelah melakukan penelusuran, Fazerdaze konon mengusung genre Shoegaze. Itu adalah sub-genre musik yang populer di Britania Raya. Ada yang menyebutnya dengan istilah Dream Pop.

Shoegaze merupakan sub-genre dari alternative rock. Ciri khas utama dari Shoegaze adalah efek distorsi gitar yang sangat kental. Permainan efek ini menimbulkan feedback suara riff gitar yang khas.

Shoegaze sendiri mulai muncul dan berkembang di kota London, Inggris, pada akhir 1980-an. Ia muncul setelah menanjaknya popularitas musik Punk Rock di Britania Raya.

Istilah Shoegaze sebenarnya adalah sebuah ejekan. Suara utama Shoegaze yang dominan dengan efek membuat si gitaris sering melihat ke bawah pada kaki mereka untuk melihat pedal. Nama Shoegaze pun muncul Karena kecenderungan para personel pemegang gitar yang melihat ke arah sepatu mereka.

Penggunaan efek dan permainan distorsi gitar yang kencang memang cukup dominan dalam genre Shoegaze. Setidaknya itu yang saya rasakan dari lagu-lagu Fazerdaze.

Setelah ditelusuri lebih lanjut lagi, ada ciri khas lain yang nampak pada Fazerdaze. Yakni cara bernyanyi yang cenderung malas-malasan. Itu bisa didapatkan dari band atau musisi Shoegaze seperti My Bloddy Valentine, Bedroom, Slavia Path, atau Cemeteries.

Bagaimana dengan perkembangan musik Shoegaze ini di Indonesia? Karena musik bersifat universal, genre Shoegaze ini bisa dengan mudah masuk ke Indonesia. Maka muncullah beberapa band Indonesia yang mengusung Shoegaze.

Contohnya adalah Sugarstar dan Themilo. Dua band asal Jakarta tersebut sudah ada sejak awal 2000-an silam. Bisa dibilang, mereka adalah band yang cukup sukses dalam membawakan genre Shoegaze di Indonesia.

Untuk band yang lebih baru ada Heals. Grup yang berasal dari Bandung ini mengusung aliran Nu-Gaze atau versi yang lebih modern dari Shoegaze. Heals yang hadir lewat beberapa single andalan macam False Alarm, Wave dan Myselves punya tempat tersendiri di skena musik alternatif tanah air.

Jadi Nabs, jika kamu ingin mendengarkan musik yang berbeda, cobalah untuk mendengarkan band atau musisi yang mengusung aliran Shoegaze. Fazerdaze dan Heals bisa kamu masukin playlist jika tertarik mendengarkan Shoegaze.

Tags: FazerdazeShoegaze
Previous Post

Bakorwil Bojonegoro dan Lembaran Baru bernama East Java Super Coridor

Next Post

Ketika Niqabmu Tak Sesuai Anu-mu

BERITA MENARIK LAINNYA

5 Alasan Kenapa Hari Ulang Tahun Laki-Laki Tak Ubahnya Hari-Hari Biasa
Altertainment

5 Alasan Kenapa Hari Ulang Tahun Laki-Laki Tak Ubahnya Hari-Hari Biasa

26/09/2026
Briefing Akbar KIBO 12: Sambutan Awal Menjelang Hari Inspirasi 2026 di Bojonegoro
Altertainment

Briefing Akbar KIBO 12: Sambutan Awal Menjelang Hari Inspirasi 2026 di Bojonegoro

19/09/2026
Konflik Dr. Manhattan dan Rorschach di Watchmen (2009): Filsafat Moral dan Perlawanan Terakhir terhadap Dunia yang Korup
Altertainment

Konflik Dr. Manhattan dan Rorschach di Watchmen (2009): Filsafat Moral dan Perlawanan Terakhir terhadap Dunia yang Korup

15/07/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Mitos Ledre: dari Remukan hingga Jodoh Idaman

Mitos Ledre: dari Remukan hingga Jodoh Idaman

09/10/2026
Festival Ledre Bojonegoro: Perempuan Penggerak Perekonomian

Festival Ledre Bojonegoro: Perempuan Penggerak Perekonomian

09/10/2026
Kampus: Jangan Sampai Sibuk Mengurus Diri, Lupa Mengurus Masa Depan

Kampus: Jangan Sampai Sibuk Mengurus Diri, Lupa Mengurus Masa Depan

08/10/2026
Pekerja EMCL Kerja Bakti Bersama Masyarakat Sekitar Kedung Keris

Pekerja EMCL Kerja Bakti Bersama Masyarakat Sekitar Kedung Keris

08/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: