Segala sesuatu memang membutuhkan standar dalam penerapan ukuran benar ataupun salah. Sejatinya manusia yang beragama dan berbudaya diatas standar hukum ada yang disebut sebagai kebenaran etika, tingkah laku beradab.
Nabs, hari ini aku ingin bercerita kepadamu. Cerita pertama mengenai seseorang yang kaya-raya dan memiliki harta yang tak akan habis hingga 7 turunan. Konon ia merupakan seorang yang terdidik dan mampu dilihat dari huruf-huruf tambahan didepan serta dibelakang nama aslinya.
Suatu hari ia keluar dari sebuah mobil mewah, dengan jelas aku melihatnya berpenampilan sangat menarik seperti halnya orang-orang kaya yang fashionable pada umumnya.
Di tangan kanannya memegang sebuah dompet yang sangat tebal entah berisi uang atau nomor rekening, akupun sebenarnya tak terlalu peduli.
Namun Nabs, yang menjadikanku tertarik pada saat itu adalah di tangan kirinya yang memegang sebuah apel merah yang sangat segar dan kelihatanya sih manis rasanya seperti senyummu. Heuhehe.
Tanpa kedip mataku terus memperhatikan geraknya dan seketika akupun melihat ia memakan apel itu dengan menggunakan tangan kirinya dan berjalan sangat santai dan membuang sisa apel tersebut tidak pada tempatnya.
Di suatu hari lain Nabs, aku melihat 3 pelajar yang mengenakan pakaian seperti pada umunnya. Mereka sedang berboncengan menggunakan 1 motor dan menuju ke sekolah.
Dengan tergupuh-gupuh mereka langsung menarik gas motornya agar tidak telat masuk gerbang sekolah. Tak lupa ketika di perempatan dekat sekolah, mereka menyisihkan uang sakunya untuk diberikan kepada seorang pengemis yang sudah rentan usianya.
Kita hidup di dalam dunia yang sangat homogeny. Berbagai pandangan mengenai etika pun selalu dikritik secara pedas oleh sebagian kelompok sesama bangsa kita. Mata yang dipergunakan untuk selalu melihat kesalahan kita selalu terpasang 24 jam non-stop.
Dua gambaran peristiwa di atas adalah sebuah realita moral dan pendidikan di dunia kita. Si orang kaya tersebut dengan seenak jidatnya memakan makanan dengan menggunakan tangan kiri dan membuang sampah tidak pada tempatnya.
Namun ia juga memiliki alasan karerna ia adalah manusia kidal yang terbiasa menggunakan tangan kirinya untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Dia juga membayar pajak yang sebagian hasilnya dipergunakan untuk kebersihan lingkungan.
Di lain sisi, kita pasti jijik ketika melihat tiga pelajar yang berboncengan menggunakan sebuah motor dan dengan kebut-kebutan di jalan. Seakan-akan jalan itu milik nenek moyang mereka sendiri. Tapi Nabs, mereka sangatlah baik hati.
Ketika di perempatan dekat sekolah, mereka kutanyai “Kenapa kalian berboncengan cuma menggunakan 1 motor, bukankah itu berbahaya dan melanggar norma hokum lalu lintas?”
Dengan lugunya mereka menjawab “Kasihan dia mas, dia jalan kaki rumahnya jauh pula. Jadi kita bonceng sekalian toh menolong sesama juga kewajiban kita menjadi manusia kan?”
Segala sesuatu memang membutuhkan standar dalam penerapan ukuran benar ataupun salah. Sejatinya manusia yang beragama dan berbudaya diatas standar hukum ada yang disebut sebagai kebenaran etika, tingkah laku beradab.
Tingkah laku beradab bukan hanya ditentukan oleh benar atau salah. Melainkan dengan logika dan rasa, apakah pantas melakukan sesuatu yang bertentangan dengan rasa kemanusiaan, dan keadilan, yang berlandaskan ketuhanan seperti kutipan dari Imam Malik kepada pemuda Quraisy “Pelajarilah adab, sebelum mempelajari suatu ilmu”.








