Seperti Jurnaba yang mengabarkan degub kebahagiaan, sebagai seorang Jurnabiyin, mari menjadi pegalau yang bahagia. Yang setia pada pilihan dan menjalaninya dengan sedikit kecemasan, tapi tetap tanpa beban.
Membuka laman Jurnaba.co menuntun saya membaca kembali tulisan Intan Setyani, “Wahyu Rizkiawan dan Implementasi Gojlokan Dekonstruktif”. Ada nama saya dan suhu menulis saya, Ahmad Farid, disebut di sana.
Alis saya bertaut. Hati saya berdegup. Imajinasi berkeliaran. Saya menelaah tulisan Intan seraya tertawa dan sesekali membayangkan wajah penulisnya. Asekkk ~
Entah keisengan atau keberanian dari mana, perempuan yang belakangan ini saya tahu sebagai adik kelas semasa Aliyah itu, mengatakan bahwa Farid dan saya adalah pegalau. Pegalau tapi punya fans. Asemmm.
Saya tidak tersinggung sama sekali. Justru senang. Karena merasa saya pegalau yang bahagia. Tentu ini berbeda jika ditanyakan ke Farid. Entah Farid galau yang berbahagia atau galau yang merana, saya tidak tahu. Ampuun, Suhu.
Sore ini tampias gerimis menyapa lembut. Waktu yang amat cocok bagi jomblo santuy seperti saya mengutuk menikmati kegalauan. Sembari mendengar lagu-lagu Dialog Senja, Garamerica hingga Banda Neira, balasan untuk Intan ini saya bikin.
Galau membuat tangan lebih mudah menulis. Dengan mendengarkan nurani dan membiarkan pikiran tak terbebani, kata demi kata membentuk sebuah makna. Makna yang disampaikan tulus untuk para pembaca. Ciee
Sejatinya, saat orang-orang merasa galau, pikiran mereka sedang kacau. Akan tetapi tidak semua orang merasa demikian. Buktinya, jomblo yang menulis ini, tidak kacau pikirannya. Cuma, ya, urusan cintanya kacau balau. Hikks
Deq Intan yang baik, seringkali galau itu kita ciptakan sendiri. Sebab pelbagai masalah hidup yang tak pernah terselesaikan. Tugas yang kita abaikan. Sampai cinta yang bertepuk sebelah tangan, misalnya.
Padahal, hidup ini sederhana. Rumusnya berawal dari B dan berakhir di D. B atau born dan D atau die. Di antara B dan D ada C atau choose. Atau Cinta. Atau Cieee. Halah.
Sesederhana itu. Namun kita lebih suka membuat hidup ini rumit. Dengan segala derita, luka dan hal-hal remeh yang tak pernah ada akhirnya. Konon sih karena cinta choose (pilihan) hidup.
Menghadapi segala bentuk masalah, kau tahu, tak semudah menghadapi fotocopian makalah. Sebab selalu ada pilihan berat dan penuh rintangan. Tugas kita mungkin hanya meneguhkan keyakinan, bukan justru terpuruk dalam cemas dan ketakutan.
Kazimierz Dabrowski, seorang psikolog Polandia yang meneliti para penyintas Perang Dunia II mengatakan bahwa rasa takut dan kecemasan serta kesedihan sering mewakili derita yang dibutuhkan demi perkembangan jiwa. Karena itu, kita tidak perlu galau tentang cemas dan rasa takut.
Karena sifatnya niscaya, cemas dan takut yang berlebihan hanya akan membuat kita tak pernah ke mana-mana. Tertekan dan menyalahkan keadaan. Padahal sudah jelas bahwa hidup adalah pilihan.
Karenanya, menjadi galau boleh-boleh saja. Bahkan itu baik untuk emosi kita. Dengan catatan, perasaan galau itu tidak mendominasi ya, Deq. Sehingga rasa galau mampu membangun kepercayaan diri yang lebih kuat.
Tak peduli seberapa sering orang membicarakanmu. Tak peduli seberapa banyak usaha mereka untuk menjatuhkanmu. Kata Mbak Celine Dion My Heart Will Go On. Tapi kata tetangga saya Life must Go On. Hidup harus terus berjalan.
Seperti Jurnaba yang mengabarkan degub kebahagiaan, sebagai seorang Jurnabiyin, mari menjadi pegalau yang bahagia. Yang setia pada pilihan dan menjalaninya dengan sedikit kecemasan, tapi tetap tanpa beban.
Asal tak berlebihan, rasa cemas itu penting sebagai alarm. Agar kita selalu ingat dan waspada. Dan teruntuk kamu, Deq Intan pegalau yang ada di sana, bolehkah kita beranjak menuju bahagia?








