Covid-19, bisa jadi membahayakan dan mengancam kehidupan kita. Tapi di lain sisi, ia memicu kita untuk mau kembali menengok rumah: sosok dekat yang sering kita tinggalkan.
“Dengan kondisi ini, saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah”. Sejak Presiden Jokowi mengumumkan ajakan berada di rumah, tagar #dirumahsaja banjir di sejumlah media sosial.
Di rumah saja menjadi urusan yang menyenangkan. Karyawan bisa kerja di rumah. Para pelajar bisa belajar di rumah. Mahasiswa bisa tetap ngampus, melalui Google Classroom, misalnya.
Dengan berada di rumah, kamu punya kontribusi besar ikut meminimalisir persebaran virus Corona. Berada di rumah juga mengurangi potensi masalah akut yang dihadapi sejak lama: kemacetan lalu lintas.
Di rumah saja. Coba ulangi kalimat itu dengan seksama. Di rumah saja. Di rumah saja. Di rumah saja. Adakah perasaan pasrah yang unik? Rumah. Rumah. Rumah saja.
Semacam ada perasaan nostalgik dan melankolia dalam kalimat: di rumah saja. Terutama bagi kamu yang memang jarang memperhatikan rumah. Jarang melihat hal-hal kecil darinya.
Masih ingat nggak, di bagian rumah mana paling kamu sukai? Di ruang mana — selain kamarmu— tempat paling sering kamu tempati? Di mana kamu paling betah berlama-lama? Sejak kapan kita melupakan rumah?
Tak peduli rumah masa kecil. Rumah kamu sendiri. Rumah kontrakan. Rumah kos-kosan. Atau apapun asal kamu pernah menggunakannya sebagai tempat merebah lelah, coba ingat. Adakah sesuatu yang asing?
Bisa jadi kamu lupa pernah mematahkan salah satu engsel pintu yang berada di rumahmu. Bagian mana ya? Atau jangan-jangan, kamu lupa warna bagian belakang pintu rumahmu?
Ada vas bunga di meja ruang tengah. Tempat biasanya kamu nglilir saat malam hari dan bergegas minum air putih. Masih ingat apa tulisan di muka vas bunga itu? Yah, padahal kan itu yang nyoreti kamu?
Ternyata, ada banyak hal di rumah yang telah kamu lupakan. Hal-hal kecil yang dulu membuat kamu merasa betah di rumah, kian hari kian tenggelam gara-gara kamu sudah dewasa. Sudah keren. Dan sudah punya banyak hal lain.
Covid-19, bisa jadi membahayakan dan mengancam kehidupan kita. Tapi di lain sisi, ia memicu kita untuk mau kembali menengok rumah: sosok dekat yang sering kita tinggalkan.
Sosok yang sering kamu cari dan tempati hanya saat ketika kamu merasa lelah menghadapi kenyataan. Lalu kembali meninggalkannya karena di luar sana, ada yang lebih mencuri perhatianmu.
Rumahmu. Rumah yang sering kamu tempati untuk pulang dari rutinitas itu, sesungguhnya adalah makhluk hidup. Makhluk yang membiarkan manusia di dalamnya nyaman untuk bertahan hidup.
Dari rumah. Kamu berangkat bekerja. Berangkat belajar. Berangkat menjalani rutinitas harian. Ke rumah. Kamu pulang dari kerja. Pulang dari belajar. Pulang dari rutinitas harian.
Rumah. Berangkat. Pulang. Tiga hal. Tiga ruang. Tiga titik pembentuk bangun ruang segitiga. Tiga titik segitiga dalam kehidupanmu. Titik pemberangkatan. Proses perjalanan. Dan titik pulang.
Seringnya kamu lupa pada rumah. Apakah indikasi bahwa kamu sering lupa darimana kamu berangkat? Dan ke mana kamu kelak akan berpulang? Dan hanya ingat pada proses perjalanan saja?
Ya, ya, ya, Covid-19 sesungguhnya sekadar mengingatkan. Bahwa kamu pernah berangkat dari rumah. Kamu sedang menjalani perjalanan. Dan kamu kelak akan pulang. Ke rumah.
Ingatan tentang rumah. Tentang pulang. Sudah selayaknya membuat kamu berhati-hati dalam perjalanan. Agar bisa selamat. Saat kembali pulang. Saat kembali ke rumah.








