Nabsky, beberapa waktu lalu saya mendengar kabar pilu. Di bagian timur Indonesia telah terjadi insiden. Kasus kekerasan dengan senjata api yang merenggut korban jiwa. Perang dan senjata api, seolah saling melengkapi hilangnya nalar kemanusiaan manusia.
Dari peristiwa memilukan tersebut, timbul pertanyaan dalam benak saya. Apa sih tujuan diciptakannya senjata api? Padahal, di kehidupan sehari-hari, kamu jarang bahkan tidak pernah menggunakan senjata api, kan? Ingat: korek api bukan senjata api lho ya. Ia pusaka api. Hmmm
Nabs, sepertinya ada jalur setapak antara senjata api dan perang. Perang diciptakan untuk memudahkan jual beli senjata api. Sebenarnya, dunia tanpa perang itu bisa-bisa aja. Tapi, demi kelangsungan hidup perusahaan senjata api, perang terus diadakan.
Lalu apa yang kamu bayangkan jika di dunia ini tidak ada senjata api? Tentu bagi kamu yang hidup di wilayah tanpa konflik, tidak akan terlalu merasakan perbedaan. Namun bagi kamu yang berada di wilayah konflik, tentu akan sangat merasakan perbedaan.
Tanpa perang, hidup bakal menyenangkan. Tanpa senjata api, perang kemungkinan kecil terjadi. Kalaupun ada permasalahan, bisa diselesaikan dengan senjata lain; senjata tanah, senjata air, senjata udara misalnya.
Mari kita dekonstruksi bahwa senjata tidak melulu harus api. Meski, kenyataannya, berbagai senjata masih bisa memicu perang tanpa kehadiran api. Pedang, clurit dan tombak contohnya. Terlepas dari itu semua, jalan senjata adalah opsi terakhir yang harusnya tidak diprioritaskan.
Memang benar, ada atau tidaknya senjata tidak dapat mengeliminasi konflik. Sebab, sejatinya manusia selalu mempunyai kepentingan yang berbeda. Tapi bukankah masih banyak cara elegan untuk bisa menyelesaikan perbedaan tersebut?
Kita masih bisa berdiskusi, menggunakan jalur hukum, hingga menggelar pertandingan tinju untuk menentukan kalah/menang. Sesungguhnya, itu opsi untuk mempertipis penggunaan senjata lho, nabs.
Kepemilikan senjata api, bagi sebagian orang dapat menimbulkan rasa superior. Tanpa dibarengi akal sehat, hal itu dapat memicu seseorang melakukan kekerasan. Seolah jadi jalan pintas menyelesaikan masalah. Salah dikit, dor!
Kekerasan bersenjata api sudah menjadi keresahan global. Dari tahun 1990 hingga 2016, tercatat sudah 6.5 juta jiwa menjadi korban. Dan yang mendominasi statistik tersebut adalah negara-negara di Benua Amerika.
Dibandingkan negara lain, kekerasan bersenjata api Indonesia relatif jarang. Namun demikian, saya yakin kamu semua mengidamkan dunia tanpa teror dari eksistensi senjata api kan? Jika iya, kita sama.
Kamu dapat menonton film Hackshaw Ridge sebagai contoh. Film adaptasi kejadian nyata menceritakan seorang prajurit bernama Desmond Doss. Doss, dalam film berlatar perang dunia II, adalah seorang prajurit yang menolak menggunakan senjata.
Sebagai seorang prajurit, Doss memilih jalur medis dan bertekad menyelamatkan para korban perang. Hal itu jadi masalah bagi Doss. Para komandan tentu tak setuju dengan konsep tentara-tanpa-senjata yang diyakini Doss. Namun dengan tekad kuat, Doss mampu membuktikan keyakinannya.
Desmond Doss adalah gambaran nyata sosok utopis. Dia membuktikan bahwa dalam perang sekalipun, ketiadaan senjata api bukan masalah. Bahkan tindakan Doss berpotensi mendamaikan kedua belah pihak yang sedang berperang.
Jadi, nabsky, kalau kamu punya masalah dengan seseorang, masih banyak cara elegan kok untuk menyesaikannya. Kamu dianugerahi Tuhan dengan akal dan intuisi untuk menghadapi masalah. Dan itu lebih efektif daripada senjata api. Seperti kata V dalam film V for Vendetta, “Idea is bulletproof.”







