Dengan semua keterbatasan yang ada, Lazio masih bisa konsisten berada di papan atas Serie A Italia. Sesuatu yang sulit dilakukan oleh klub yang pernah terkena krisis finansial. Namun Il Biancoceleste mampu menunjukkan konsisteninya di kompetisi ketat di mana dan berlimpah jadi faktor penting.
Lazio memastikan satu tiket babak grup Liga Champions Eropa. Itu terjadi setelah mereka berhasil mengalahkan Cagliari dengan skor tipis 2-1. Setelah 12 tahun, Elang Ibukota akhirnya kembali ke Liga Champions Eropa.
Bagi para pendukung Lazio, musim 2019/2020 jadi periode yang indah, mengesalkan dan mendebarkan. Di paruh pertama, Lazio tampil luar biasa. Mereka berhasil konsisten di papan atas sekaligus jadi salah satu tim dengan produktivitas tinggi di Serie A.
Bahkan, Lazio sempat memuncaki klasemen sementara Serie A Italia. Target awal yang hanya lolos ke Liga Champions Eropa, kini dinaikkan jadi juara Liga Italia. Secara matematis, hal itu bisa terjadi.
Sepanjang musim, Lazio bersaing ketat dengan Juventus. Selisih poin antara Juventus sebagai pemuncak klasemen dan Lazio sebagai runner up tak pernah lebih dari 6 poin. Lazio benar-benar jadi ancaman berbahaya bagi dominasi Juventus.
Sayang, peforma impresif Lazio terhenti setelah Serie A hiatus karena pandemi corona. Setelah Serie A dilanjutkan usai libur selama 2 bulan lebih, peforma Lazio menurun drastis. Bahkan, mereka sempat terancam gagal lolos ke Liga Champions.
Beruntung, di laga penting melawan Cagliari, Elang Ibukota berhasil mengamankan kemenangan. Kemenangan yang mengantarkan Lazio ke babak grup Liga Champions Eropa untuk pertama kalinya setelah 12 tahun menunggu.
Kesabaran dan Kegigihan Lazio
Lazio termasuk dalam golongan tim papan atas Serie A Italia. Di tahun 90-an dan awal 2000-an, Lazio jadi kekuatan yang menakutkan. Dengan sokongan dana berlimpah dari sang Presiden klub saat itu, Sergio Cragnoti, Lazio berhasil membangun kekuatan besar.
Bintang-bintang sepakbola saat itu berhasil diboyong Cragnoti ke Lazio. Mulai dari Juan Sebastian Veron, Marcelo Salas, Hernan Crespo, Christian Vieri, hingga Gaizka Mendieta yang saat itu memecahkan rekor sebagai pemain termahal dunia.
Sayangnya, akibat bangkrutnya perusahaan yang dimiliki oleh Cragnoti, Lazio langsung terjun bebas. Hutang klub yang menumpuk hingga Triliyunan Rupiah membuat Lazio harus menjual para pemain bintangnya. Termasuk sang kapten tim dan kesayangan suporter, Allesandro Nesta.
Usai bangkrut, Lazio dipegang oleh pengusaha Italia lainnya, yakni Claudio Lotito. Berbeda dengan Cragnoti yang jor-joran, Lotito adalah tipe orang yang ingin membangun kekuatan klub dengan finansial yang sehat.
Lotito secara sabar melunasi hutang-hutang Lazio yang jumlahnya sangat fantastis. Untuk melunasinya, dibutuhkan waktu satu dekade lebih. Kesabaran yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Di sisi lain, di bawah Lotito, Lazio masih jadi relevan di Italia. Di era Lotito, Lazio sukses meraih 3 gelar Coppa Italia dan 2 Piala Super Italia. Bagi klub yang punya dana minim, raihan trofi ini tentu sangat apik.
Lazio memang sulit menembus Liga Champions karena materi pemain yang tak terlalu mentereng. Namun mereka sempat menembus Liga Champions pada musim 2007/2008. Sayangnya langkah mereka terhenti di babak grup.
Pada musim 2015/2016, Lazio sebenarnya mendapatkan kesempatan untuk tampil di Liga Champions setelah menduduki peringkat ketiga klasemen Serie A. Sayangnya, di babak play off, Lazio dijegal oleh Bayer Leverkusen. Jadi, penampilan Lazio di babak play off itu tak dihitung.
Dengan semua keterbatasan yang ada, Lazio masih bisa konsisten berada di papan atas Serie A Italia. Sesuatu yang sulit dilakukan oleh klub yang pernah terkena krisis finansial. Namun Il Biancoceleste mampu menunjukkan konsisteninya di kompetisi ketat di mana dan berlimpah jadi faktor penting.
Setelah menunggu sekian tahun, Lazio akhirnya kembali berkiprah di babak utama Liga Champions. Pencapaian yang luar biasa jika melihat materi pemain yang dimiliki. Dibandingkan dengan Inter Milan, AS Roma atau AC Milan, Lazio tentu kalah pamor.
Namun Biancoceleste membuktikan bahwa dengan deretan pemain yang tak terlalu mahal, prestasi memuaskan bisa diraih. Kesabaran dan ketelatenan dari semua elemen, termasuk suporter adalah kunci untuk meraih itu semua.








