Amanah, kata yang amat sering kita dengar hingga jadi sesuatu nan klise di telings. Dan tulisan ini, berupaya menyajikan epistemologi “amanah” secara mendalam dan tidak biasa.
Amanah merupakan sifat dasar orang yang beriman, sebaliknya khianat (lawan dari amanah) adalah sifat dasar orang munafik. Amanah bisa berupa titipan harta benda, barang atau uang, bisa juga berupa kedudukan atau jabatan, atau yang lainnya.
Seorang Mukmin wajib menjaga amanah yang dilimpahkan kepadanya, karena setiap amanah yang diembankan kepadanya akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
Rasulullah bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ia ditanya: (1) tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; (2) tentang ilmunya, untuk apa ia amalkan; (3) tentang hartanya, darimana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanja-kannya; dan (4) tentang fisiknya, untuk apa ia gunakan.” (HR. at-Tirmidzi, Hadits Hasan).
Allah SWT telah memberikan amanah atau kepercayaan kepada orang-orang yang dikehendakinya. Amanah merupakan sifat seseorang yang dapat bertanggung jawab atas apa yang telah diberikan kepadanya.
Siapakah amanah tersebut ?
Anak adalah amanah Allah SWT kepada orang tua yang dikehendakiNya. Kedua orang tuanya berkewajiban memelihara, menjaga, memberi bimbingan, arahan, dan didikan yang layak. Melalaikan pendidikan anak atau melakukan penyelewengan pendidikan anak, berarti telah mengkhianati amanah yang telah diberikan Allah (Aeni, A. N. 2011).
Anak adalah amanah yang akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak dihadapan Allah, sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam firmanNya pada surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan(QS. At Tahrim ayat 6).
Amanah dalam hal ini yang dimaksud adalah anak. Anak yang diberikan oleh Allah kepada para orangtua merupakan amanah yang sangat berharga. Mengapa demikian ?
Berdasarkan ayat di atas, umat manusia diperintahkan untuk memelihara dirinya dan keluarganya dari siksaan api neraka. Andaikan ini adalah orang tua, maka orang tua diperintahkan untuk mendidik anaknya agar bisa menggapai SyurgaNya Allah bersama keluarga.
Untuk siapakah amanah tersebut ?
Mewujudkan anak yang baik dan berkualitas adalah tanggung jawab orang tua.Anak merupakan amanah yang diberikan oleh Allah kepadaorang tua yang harus dipertanggung-jawabkan di akhirat. Karena itu orangtua wajib memelihara, membesarkan, merawat, menyantuni, dan mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang (Anisah, A. S, 2017).
Dalam Al-Qur’an digambarkan bahwa anak merupakan penyejuk pandangan mata (qurrata a’yun), sumber kebahagiaan, dan belahan hati manusia di dunia ini.Keberadaan anak dalam suatu keluarga menjadikan keluarga itu terasa hidup, harmonis, dan menyenangkan, sebaliknya ketiadaan anak dalam keluarga menjadikan keluarga tidak berarti apa-apa, karena kehilangan salah satu ruh yang dapat menggerakkan keluarga itu.
Di mata seorang bapak, anak akan menjadi penolong, penunjang, pemberi semangat, dan penambah kekuatan. Di mata seorang ibu, anak menjadi harapan hidup, penyejuk jiwa, penghibur hati, kebahagiaan hidup, dan tumpuan di masa depan (Al-Hasyimy, 1997:199).
Al Qur’an menggambarkan anak sebagai perhiasan dunia, sebagaimana harta. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Al Kahfi ayat 46, Allah berfirman yang artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”
Keberadaan anak yang digambarkan dalam Al Qur’an tersebut dapat terwujud jika dipersiapkan sejak dini oleh orang tuanya. Pendidikan dan pembentukan kepribadian anak harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya, sebab jika tidak maka anak justru akan menjadi yang sebaliknya, yaitu menjadi bencana (fitnah) dalam keluarga dan akan menjadi gangguan bagi masyarakat dan umat manusia secara keseluruhan.
Kehidupan anak sebagian besar waktunya lebih banyak dihabiskan dalam lingkungan keluarga. Komponen keluarga sangat penting mengingat didalamnya terdapat orang tua sebagai pemimpin yang memiliki otoritas dan bertanggung jawab terhadap pembinaan pribadi anakanaknya.
Segala bentuk otoritas itu diterapkan kepada anak dalam upaya membentuk kepribadian anak yang sesuai dengan acuan nilai agama dan norma yang ada di masyarakat. Semua perilaku anak dibawah kendali orang tua, dan setiap sikap anak selalu menjadi bahan tinjauan setiap orang tua.
Keluarga memiliki peran sebagai media sosialisasi pertama bagi anak. Peran inilah yang membuat orang tua memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan fisik dan mental seorang anak.Di keluargalah anak mulai dikenalkan terhadap ajaran-ajaran yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam agama maupun masyarakat.
Semua aktivitas anak dari mulai prilaku dan bahasa tidak terlepas dari perhatian dan binaan orang tua. Perhatian, kendali dan tindakan orang tua merupakan salah satu bentuk pola asuh yang akan memberikan dampak panjang terhadap kelangsungan perkembangan fisik dan mental anak.
Pola asuh adalah suatu model perlakuan atau tindakan orang tua dalam membina dan membimbing serta memelihara anak agar dapat berdiri sendiri. Lebih dari itu pola asuh ini akan membentuk watak dan karakter anak di masa dewasanya, karena tidak mungkin memahami orang dewasa tanpa ada informasi masa kanak-kanaknya karena masa itu adalah masa pembentukan (Dan Dreikurs ,1954) dalam Bacon (1997).
Artinya, perlakuan orang tua kepada anak-anaknya sejak masa kecil akan berdampak pada perkembangan social moralnya dimasa dewasanya. Perkembangan social moral inilah yang akan membentuk watak, sifat dan sikap anak kelak meskipun ada beberapa factor lain yang berpengaruh dalam pembentukan sikap anak yang tercermin dalam karakter yang dimilikinya.
Secara teoritis, pola asuh yang dilakukan orang tua memiliki 3 jenis yang terdiri dari pola asuh otoriter, permisif dan otoritatif.Ketiga pola asuh itu memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian anak, untuk itu pola asuh orang tua sangat menentukan watak, sikap dan prilaku anak.Di sinilah pentingnya pendidikan keluarga, dalam pendidikan keluarga seyogyanya dibutuhkan aturan yang benar dan memiliki kekuatan sehingga bisa mengikat para anggota keluarga untuk mematuhi dan melaksanakannya.
Islam sendiri sudah jelas memiliki aturan yang benar tentang pembinaan keluarga dalam hal ini pendidikan keluarga, mulai dari membangun keluarga, interaksi antara ayah dan ibu, bagaimana pola asuh dijalankan dengan melihat dua karakter yang berbeda yaitu orang tua dan anak.
Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber pokok ajaran Islam sudah menggariskan semua aturan untuk berbagai interaksi dalam sebuah keluarga sebagai salah satu acuan pembinaan akhlak mulia.
Oleh sebab itu, amanah ini diperuntukkan bagi para orang tua agar menerimanya dengan ikhlas.
Amanah dari siapakah ?
Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah (titipan) yang Allah berikan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani, dan barakhlaqul karimah serta memiliki intelegensi yang tinggi.
Amanah alias anak ini adalah titipan dari Allah SWT yang telah mempercayai para orang tua untuk mengemban amanah tersebut. Karena sebagian orang tua ada yang belum atau tidak dikaruniai oleh Allah.
Apa saja keunikan amanah tersebut ?
Meskipun banyak terdapat kesamaan dalam pola umum perkembangan, setiap anak meskipun kembar memiliki keunikan masing-masing, misalnya dalam hal gaya belajar, minat, dan latar belakang keluarga. Keunikan ini dapat berasal dari faktor genetis (misalnya dalam hal ciri fisik) atau berasal dari lingkungan (misalnya dalam hal minat).
Dengan adanya keunikan tersebut, pendidik perlu melakukan pendekatan individual selain pendekatan kelompok, sehingga keunikan tiap anak dapat terakomodasi dengan baik. Misalnya: Pada KB untuk kelompok anak usia 3 tahun terdapat minat yang berbeda-beda. Ani suka diajak menari atau menyanyi dan tubuhnya mudah mengikuti irama musik. Sedang Tono lebih suka mencoret-coret atau menggambar, dan Abdu lebih suka berjungkir balik atau memanjat pohon dibanding kegiatan lainnya.
Menjadi guru yang baik, berarti seseorang harus bersedia dan mampu mengenali siapa anak didiknya. Pengenalan terhadap anak merupakan hal yang penting, karena setiap anak adalah unik (Pearsons & Sardo, 2006).
Namun kenyataan menunjukkan bahwa pada umumnya guru mengabaikan tentang keunikan anak. Bagi guru lebih mudah memberikan pendidikan yang sama dan adil menurut konsep guru, dengan kata lain guru tidak memperhatikan kebutuhan anak.
Menurut Ormrod (2003) guru cenderung menuntut siswa untuk menurut atau taat dengan menunjukkan perilaku yang baik di mata guru sebagai akibatnya anak akan mendapat stimulasi dengan cara yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, dan pada gilirannya akan memunculkan terjadinya problema perkembangan.
Siapa saja yang terlibat dalam mengemban amanah tersebut ?
Keterlibatan orang tua dalam pendidikan itu sendiri dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk aktivitas yang dilakukan orang tua baik di rumah atau pun di sekolah, sehingga akan memberikan keuntungan baik bagi orang tua, anak maupun sekolah.
Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak merupakan hal mutlak yang harus dilakukan pada setiap lembaga pendidikan, sehingga mampu mengoptimalkan pencapaian perkembangan dan tujuan program pendidikan anak.
Hal tersebut sejalan dengan tujuan penulisan artikel ini, agar guru dan orang tua pada setiap lembaga pendidikan menyadari akan pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak dan mampu mengenali faktor yang mempengaruhinya, sehingga akan meningkatkan intensitas dan kualitas keterlibatan orang tua.
Orangtua tersebut adalah ibu dan ayah. Ibu merupakan orang yang sangat berharga dalam terlahirnya seorang yang diamanahkan Allah. Selain itu, Ayah juga turut memberikan kontribusi penting bagi perkembangan anak, pengalaman yang dialami bersama dengan ayah, akan mempengaruhi seorang anak hingga dewasa nantinya.
Peran serta perilaku pengasuhan ayah mempengaruhi perkembangan serta kesejahteraan anak dan masa transisi menuju remaja. Perkembangan kognitif, kompetensi sosial dari anak-anal sejak dini dipengaruhi oleh kelekatan, hubungan emosional serta ketersediaan sumber daya yang diberikan oleh ayah.
Kunjungan ke rumah anak yang dilakukan oleh guru (Home visit). Program home visit penting dilakukan oleh guru terutama terhadap keluarga anak dimana orang tua mereka sangat sulit untuk terlibat secara langsung di sekolah.
Program ini dapat berfungsi sebagai pembuktian kepedulian guru terhadap orang tua dan anak. Program ini bertujuan agar guru lebih memahami anak atau orang tua dengan mengetahui latar belakang mereka dan orang tua juga lebih dapat terbuka dan memahami guru.
Daftar Rujukan
Aeni, A. N. (2011). Menanamkan disiplin pada anak melalui dairy activity menurut ajaran Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim, 9(1-2011), 1-13.
Aisyah, S., Amini, M., Chandrawati, T., & Novita, D. (2014). Perkembangan dan konsep dasar pengembangan anak usia dini.
Anisah, A. S. (2017). Pola asuh orang tua dan implikasinya terhadap pembentukan karakter anak. Jurnal Pendidikan UNIGA, 5(1), 70-84.
Diadha, R. (2015). Keterlibatan Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini di Taman Kanak-Kanak. Edusentris, 2(1), 61-71.
Hidayati, F., Kaloeti, D. V. S., & Karyono, K. (2011). Peran ayah dalam pengasuhan anak. Jurnal Psikologi, 9(1).
Martani, W. (2012). Metode stimulasi dan perkembangan emosi anak usia dini. Jurnal Psikologi, 39(1), 112-120.
Dina Dahliana berasal dari Solok, Sumatera Barat. Bagi yang ingin berkomunikasi lebih lanjut dapat menghubungi via instagram (curahan_syair).








