Konflik dan bencana alam di Bojonegoro, tercatat dalam sebuah manuskrip kuno bertarikh 1780 M, ditulis dengan huruf Pegon Jawa.
Pasca banjir besar 2007 silam, seorang mahasiswa jurusan Sejarah asal salah satu universitas di Surabaya, menemukan sejilid manuskrip kuno berbalut lumpur kering yang tersangkut di bawah atap rumah kakeknya, di sebuah rumah terletak di pinggir Bengawan Solo.
Oleh sejarawan muda tersebut, manuskrip tulisan tangan 14 halaman ukuran HVS ditekuk dua itu, diberikan pada kakak keponakan saya yang kebetulan, kala itu kuliah di jurusan Sastra Arab, juga di Kota Surabaya. Dia meminta kakak saya menerjemah manuskrip bertulis pegon tersebut.
Selama hampir tiga bulan, kakak melakukan proses penerjemahan dan transkreasi kalimat bertulis Jawa Pegon pada manuskrip tersebut. Agar kawannya yang seorang sejarawan itu, bisa membaca dan menganalisis maksud di dalam manuskrip tersebut.
Manuskrip itu, konon membuat buku berjudul Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North East Java karya CLM Penders yang seolah paling mampu menggambarkan masa silam Bojonegoro itu, terasa tak sehebat sebelumnya. Itu jelas. Manuskrip ini ada sebelum Penders lahir ke dunia.
Manuskrip beserta terjemahannya itu, telah diserahkan kakak keponakan saya pada kawannya yang seorang sejarawan tersebut. Tapi, salinan terjemahan dalam bentuk dokumen, masih tersimpan dalam folder di laptopnya. Sebuah laptop yang pada 2013 lalu, dihibahkan kepada saya.
Beberapa saat lalu, saya tak sengaja menemukan terjemahan manuskrip itu di laptop, saat iseng membersihkan folder dan melihat-lihat foto lawas. Melihat dan membaca file aneh itu, saya langsung tanya pada kakak saya, dan mendapat cerita seperti yang Anda baca di awal tadi.
“Ndang ape mbok apakne sekarepem, penting ojo mbok buak. Eman-eman lehku nerjemahke angil tenan iku (Silakan mau kamu apakan terserah, asal jangan dibuang. Itu nerjemahkannya sulit banget)”. Katanya, saat saya tanya tentang manuskrip itu.
Kakak berlatar belakang penerjemah dan agak-agak filolog. Sehingga hasil terjemahannya mengesankan. Ia tak hanya bisa menerjemah. Tapi juga ahli men-transkreasi kalimat menjadi bahasa yang mudah dipahami orang lain, dari bahasa ibu yang berbeda.
Saya tak berani ngedit atau mengutak-atik isi ceritanya. Selain takut kuwalat, kakak ternyata jauh lebih pandai urusan editing dibanding saya. Kalaupun ada yang saya edit, hanya menebalkan huruf agar mudah dipahami. Selebihnya saya tak berani.
Oke, berikut ini terjemahan manuskrip bertulis Pegon Jawa tentang kronik masa silam Bojonegoro. Berisi catatan tentang pemindahan kekuasaan, bencana alam, pohon keramat, dan emas cair pemicu berbagai permasalahan.
+++
4 Rajab 1194 H ( 7 Juli 1780 M, ditulis di bagian pojok atas kertas-penj).
Bismillahirrahmanirrahim
Allahuma Sholi Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhamad
(Ditulis tanpa judul, langsung masuk paragraf pertama-penj).
Kadipaten Jipang (cikal bakal Kota Bojonegoro-penj), adalah saksi konflik berkepanjangan dan bencana tiada henti. Dari konflik Majapahit, Demak, Jipang hingga Pajang dan Mataram. Bojonegoro jadi tempat perebutan tahta dan kekuasaan Arya Penangsang dan Joko Tingkir.
Kerajaan Demak sebelumnya hanya kadipaten yang tunduk pada Kerajaan Majapahit, sebelum akhirnya, pada 1482 masehi, melepaskan diri dan menjadi kerajaan sendiri. Saat Majapahit dalam kondisi lemah, Kerajaan Islam Demak lahir ke dunia sebagai kerajaan besar.
Yang besar akan mengecil dan yang kuat akan melemah. Begitulah, beberapa tahun pasca Kerajaan Demak melemah, Kadipaten Jipang (bagian dari Kerajaan Demak) yang kala itu dipimpin Arya Penangsang, berniat memberontak dan merebut kekuasaan Demak.
Sial, niat Arya Penangsang dihalangi penguasa Kabupaten Pajang (juga bagian dari Kerajaan Demak) yang kala itu dipimpin Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Arya Penangsang yang memberontak dan ingin menguasai Kerajaan Demak, berhadapan dengan Joko Tingkir yang juga berniat memberontak dan menguasai Demak.
Ini artinya, pemberontak berhadapan dengan pemberontak. Jipang melawan Pajang. Perseteruan Arya Penangsang dengan Joko Tingkir memang sudah menjadi perang bebuyutan. Dimulai sejak generasi sebelum mereka.
Sisi buruk peperangan adalah tak ada benar dan salah. Semua menjadi benar. Arya Penangsang benar karena dia membalas dendam. Joko Tingkir benar karena dia juga membalas dendam. Andai Arya Penangsang menang, dia akan menyebarkan Islam. Begitupun, saat Joko Tingkir menang, dia juga menyebarkan Islam.
Arya Penangsang santri kinasih Sunan Kudus. Joko Tingkir santri kinasih Sunan Kalijaga. Keduanya seorang santri. Keduanya benar. Tapi konflik kadang tak mengenal benar-salah.
Perang dan konflik perebutan tahta tiada henti itu, berakhir dengan dibunuhnya Arya Penangsang (penguasa Kadipaten Jipang) oleh pasukan Joko Tingkir (penguasa Kadipaten Pajang).
Sesaat setelah memenangkan pertempuran, pada 1568 masehi, Joko Tingkir memindah kekuasaan Demak ke Pajang, dimana ia mendirikan kerajaan baru bernama Kesultanan Pajang. Joko Tingkir memindah Demak ke Pajang. Bahkan, seluruh benda-benda pusaka dan keramat di Demak, dipindah ke Kesultanan Pajang.
Di bawah kekuasaan Joko Tingkir, Kesultanan Pajang menjadi kerajaan Islam yang amat digdaya sebagai penerus Kerajaan Demak. Dampak dari kemenangan Joko Tingkir pula, Kadipaten Jipang (Bojonegoro-penj), diakuisisi menjadi bagian dari Kesultanan Pajang.
Di zaman kekuasaan Arya Penangsang, pusat pemerintahan Kadipaten Jipang berada di Cepu. Namun, saat Joko Tingkir berkuasa, pusat pemerintahan Kadipaten Jipang (yang sudah diakuisisi Kesultanan Pajang-penj) diboyong ke tempat yang kini dikenal masyarakat dengan nama Padangan.
Joko Tingkir memang punya hubungan khusus dengan Padangan. Dia semacam tahu bahwa bumi Padangan cocok jadi pusat pemerintahan Kadipaten Jipang, sebagai bagian dari Kesultanan Pajang. Padangan jadi representasi Kesultanan Pajang dengan corak budaya Islam yang amat kental.
Joko Tingkir juga tahu bahwa di bawah bumi Kadipaten Jipang tersimpan emas cair yang mampu memuliakan masyarakat. Namun, emas cair itu juga punya sisi panas yang bisa membahayakan. Bumi terasa panas dan tanahnya selalu bergerak, karena emas di dalamnya mendidih tak beraturan.
Untuk mengondisikan emas cair bawah tanah agar tak mengamuk, Joko Tingkir mentradisikan dzikir sebagai budaya masyarakat Kadipaten Jipang. Ini sebagai pagar suwuk dan pengaman, agar emas cair yang berada di bawah tanah Kadipaten Jipang tak mendidih dan mengamuk menjadi monster.
Sejak saat itu, Joko Tingkir menjadikan pusat pemerintahan Kadipaten Jipang sebagai kiblat orang-orang yang beribadah dan berdzikir dengan membuka akses sebesar-besarnya pada ulama dari berbagai daerah untuk berdatangan. Di era itu pula, banyak ulama mulai berdatangan ke Kesultanan Pajang. Khususnya di pusat pemerintahan Kadipaten Jipang.
Mereka berdatangan dari berbagai penjuru negara untuk menyebarkan ilmu dan menuntut ilmu. Kedatangan para ulama itu untuk mentradisikan dzikir dan sholawat pada masyarakat. Sehingga, bumi bisa dimanfaatkan dan hawa panas dari emas cair yang ada di bawah permukaan bumi Kadipaten Jipang bisa dingin.
Kadipaten Jipang jadi teritorial penting bagi Kesultanan Pajang. Di sana, dipenuhi para ulama. Tiap hari dzikir dan pembacaan Qur’an terdengar dimana-mana. Hingga konon, tiap menjelang Maghrib, pohon dan bebatuan yang ada di Kadipaten Jipang menggemakan tasbih. Sementara hembusan angin terdengar bersholawat. Dan itu semua, mampu didengar telinga manusia.
Kadipaten Jipang dipenuhi para salik yang memiliki khodam binatang buas sebagai sentimen keilmuan di dalam tubuh mereka. Namun, khodam-khodam itu tak pernah ada yang mengamuk karena mereka mampu mengendalikan diri dan tak pernah larut terbawa emosi negatif.
Tahun-tahun berlalu. Kadipaten Jipang menjadi tanah damai dimana titisan para pemberontak mampu hidup damai dan mengendalikan diri. Kadipaten Jipang jadi tempat dimana anak turun Arya Penangsang dan Joko Tingkir — yang seharusnya berselisih— bisa hidup berdampingan melupakan dendam buyut-buyut mereka.
Hingga ada semacam qoidah (kredo-penj): asal anak turun Arya Penangsang dan Joko Tingkir yang berada di Kadipaten Jipang tak berkelahi, emas cair di bawah bumi Kadipaten Jipang tak akan bergolak dan bencana alam model apapun tak akan pernah terjadi.
Konflik dan Bencana Alam Bojonegoro
Umur Kesultanan Pajang memang tak panjang. Pasca Kesultanan Pajang runtuh, Kadipaten Jipang menjadi bagian dari Kesultanan Mataram sejak 1586 Masehi. Namun, Kadipaten Jipang masih menjadi kawasan islami nan keramat serupa zaman Kesultanan Pajang. Sebab, tradisi zaman Kesultanan Pajang masih dirawat dengan baik.
Tapi, kedamaian di bumi Kadipaten Jipang mulai terkoyak, ketika pada
1725 masehi, Pakubuwono II (Raja Mataram) naik tahta, konflik kepentingan pun kembali terjadi. Tumenggung Hario Matahun l, Adipati Pajang kala itu, diperintah Pakubuwono II untuk memindah pusat pemerintahan.
Pusat pemerintahan Kadipaten Jipang yang semula berada di Padangan, dipindah ke Rajekwesi (bagian timur Kadipaten Jipang). Saat ini lokasinya 10 km dari Kota Bojonegoro. Konflik pemindahan pusat pemerintahan ini pun memicu masalah yang tidak sederhana.
Kadipaten Jipang mulai terusik. Ada masyarakat yang setuju dan tidak setuju. Yang setuju berkeyakinan pemindahan itu demi kemajuan daerah. Sementara yang tidak setuju, mencium intervensi Belanda di balik itu semua.
Kelak sejarah membuktikan, 30 tahun setelah pemindahan pusat pemerintahan Jipang dari Padangan ke Rajekwesi, tepatnya pada Februari 1755, Kesultanan Mataram di bawah kekuasaan Pakubuwono III (anak dari Pakubuwono II yang meminta pemindahan Kadipaten Jipang) membuat perjanjian Giyanti yang ditandatangani oleh VOC Belanda.
Perjanjian Giyanti adalah persekongkolan buruk antara Raja Jawa dan VOC Belanda. Akibat perjanjian itu, Kesultanan Mataram dipecah menjadi dua bagian. Yakni Keraton Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Hal ini membuat VOC Belanda kian kuat mencengkeram pulau Jawa.
Melalui perjanjian itu, menunjukan betapa Kesultanan Mataram, Surakarta, dan Yogyakarta (yang notabene anak cucu dan penerus Kesultanan Islam Pajang), mulai goyah melawan penjajah Belanda.
Mereka lupa bahwa pendahulu mereka adalah kerajaan keramat Kesultanan Pajang (bumi Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya), yang para penjajah tak pernah berani mendekat karena takut dibabat.
……. (Paragraf ini agak mbulet. Isinya coretan-coretan sampai menimbulkan bekas yang dalam di permukaan kertas. Sepertinya si penulis manuskrip ini sedang marah…… Oke lanjut saja ke bawah–penj.)
Kembali ke tahun 1725 masehi. Perselisihan terlanjur terjadi di Kadipaten Jipang. Di antara mereka yang berselisih, tentu saja anak turun Arya Penangsang dan Joko Tingkir. Mereka kembali berselisih dan terus-terusan berdebat mengungkit dendam kakek moyang di masa lalu.
Sial, yang berselisih tak hanya mereka, tapi para khodam binatang buas di dalam tubuh mereka ikut-ikutan.
Khodam-khodam lain yang sebelumnya mampu diam di dalam tubuh manusia, tiba-tiba terpancing ikut keluar dan berperang satu sama lain karena pemiliknya tak mampu mengendalikan emosi negatif. Perdebatan manusia memicu pertempuran antar khodam.
Hal ini membuat emas cair di bawah permukaan bumi Kadipaten Jipang memanas, bergolak dan mengamuk. Tanah bergerak tak bisa dihentikan. Jalanan rusak. Sungai meluap. Tanah bantaran longsor. Rajekwesi tak bisa melihat matahari selama beberapa hari.
Para pejabat kebingungan. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan. Beberapa di antara pejabat itu pun sowan ke ndalem kasepuhan Kadipaten Jipang di Padangan, untuk mencari pertolongan dan solusi. Mereka menemui sejumlah sesepuh untuk dimintai pertolongan.
Satu di antara sesepuh yang ditemui adalah Kiai Samad. Sosok ulama kharismatik yang zaman itu, menjadi rujukan dan tempat berdamai bagi anak turun Arya Penangsang dan Joko Tingkir yang sedang berselisih. Mbah Samad kiai yang netral dan tak pernah terlibat kepentingan politik.
Mbah Kiai Samad sesungguhnya seorang faqih (ahli fiqih), tapi memiliki karomah. Beliau digambarkan
bermata bulat besar dengan tatap mata tajam, sementara alisnya tebal dan berhidung mancung. Konon, tiap beliau berjalan, ilalang miyak dengan sendirinya, sementara pepohonan terdengar sayup-sayup bersholawat.
Mbah Samad sesungguhnya bukan asli Kesultanan Pajang. Ia bagian dari rombongan kapal asal Hadramaut yang berlabuh di pelabuhan Gresik. Entah karena isyarat apa, beliau naik perahu menempuh perjalanan melawan arus sungai Bengawan Solo, dari arah timur Gresik ke arah barat Kadipaten Jipang.
Di Kadipaten Jipang, Mbah Samad mendirikan rumah kecil di pinggir sungai, sembari mengajar ngaji masyarakat. Mbah Samad bernama asli Sayyid Hammad Ibrohim. Tapi, lidah orang Jawa lebih akrab memanggil beliau dengan nama Kiai Samad.
Mbah Samad yang ditemui para pejabat dan dimintai pertolongan itu pun, segera berdoa, lalu memberikan sejumlah batang pohon kepada para pejabat utusan Rajekwesi. Mbah Samad meminta para pejabat utusan itu mengambil sejumlah batang pohon di dekat rumah beliau.
Jumlah batang pohon yang diambil sebanyak 28 batang pohon. Dari 28 batang pohon dengan ukuran sebesar tangan manusia itu, oleh Mbah Samad segera di-sholawati dan disuwuk doa. Lalu, batang pohon itu diberikan pada para utusan pejabat agar segera ditancapkan di berbagai tempat di dalam teritorial Rajekwesi.
“Pohon-pohon iku tanamen, Insya Allah aman!”.
Mbah Samad ngendikan pada utusan itu untuk menanam pohon tersebut, secara tegas. Kalaupun kelak terpaksa ada yang ditebang, sebisa mungkin ditebang dengan membaca bismillah.
Pada para pejabat, Mbah Samad berkata bahwa pepohonan bertasbih dan bersholawat. Bahkan, tasbih pepohonan lebih ikhlas daripada manusia. Menebang pohon berarti menebang makhluk yang bertasbih. Kecuali menebang diniati demi kepentingan yang lebih baik bagi kehidupan masyarakat.
Oleh para pejabat utusan Rajekwesi, pohon-pohon itu ditanam dan tak butuh waktu lama, Rajekwesi dan Kadipaten Jipang (kelak bernama Bojonegoro), kembali aman seperti sedia kala. Sementara anak turun Arya Penangsang dan Joko Tingkir juga sudah berdamai.
Melihat keramat pohon dari Mbah Samad, warga Rajekwesi pun memperbanyak jumlah pohon itu dengan berbagai macam cara, dengan harapan sebagai penumbal bencana.
Bencana yang terjadi di Kadipaten Pajang (Bojonegoro-penj), entah konflik manusia ataupun bencana alam, konon akibat adanya pohon dari Mbah Samad yang secara tak sengaja ditebang tanpa mengucap bismillah
Alhamdulillahirobbilalamin
Allahuma Sholi Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhamad
+++
Kakak saya berkata, setelah menerjemah dan membaca manuskrip itu, dia merasa bahwa buku berjudul Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North East Java karya CLM Penders yang sering dikutip calon bupati saat berkampanye itu, terasa tak sekeren sebelumnya.








