Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Wangi Bunga Mawar Ibu Kota dan Bau Anyir Darah di Lubang Buaya

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
29/09/2021
in Cecurhatan
Wangi Bunga Mawar Ibu Kota dan Bau Anyir Darah di Lubang Buaya

Sebuah catatan sederhana, kala berkunjung ke area Lubang Buaya, Jakarta.

Angin bulan September berhembus. Perjalanan dari kota ke kota telah berlalu. Memperoleh banyak ibrah/pelajaran untuk bekal mengarungi samudera kehidupan yang fana dan penuh tanda tanya ini.

Ketika menginjakkan kaki di sebuah Kota Santri yang ada di Jawa Barat, hal tersebut merupakan salah satu di antara beberapa hal yang melatar belakangi lahirnya tulisan ini.

Sebelumnya, jarang terbesit dalam fikiran untuk menulis ihwal sebuah kisah yang ada kaitannya dengan pembantaian yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta kaki tangannya.

Ketika akan kembali ke kampung halaman, seorang santri alumnus Pondok Pesantren Gontor, memberi sebuah buah tangan berupa buku yang mengisahkan mengenai kisah nyata aksi PKI terhadap kiai, santri, dan kaum muslimin.

Dalam buku tersebut, mengisahkan kebengisan PKI dan kaki tangannya dalam rangka melakukan kudeta, wabilkhusus kisah-kisah yang terjadi di pulau Jawa.

Hal tersebut membuat ingatan saya ketika ziarah di Lubang Buaya bangkit. Berkunjung di sebuah tempat yang menjadi saksi bisu orang-orang PKI memasukkan tujuh jenderal ke sebuah lubang.

Jakarta, 6 Januari 2020. Mendung bergelantungan di langit Ibu Kota. Saya dan kawan-kawan menuju ke daerah Lubang Buaya pada pagi hari. Sekitar pukul 08.30 WIB.

Bus yang kami tumpangi bergerak dengan lambat karena pada waktu itu, kondisi jalanan Ibu Kota sedang macet.

Sepanjang perjalanan, mata tak henti-hentinya menengok ke kanan dan ke kiri dari balik kaca jendela bus. Menyaksikan berbagai fenomena alam dan sosial yang ada di Jakarta.

Adakalanya bus melaju dengan kecepatan sedang, dari Jakarta Pusat ke Jakarta Timur. Menuju sebuah tempat yang berada di Jalan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur.

Sekitar pukul 09.00 WIB, kami tiba di area Monumen Pancasila Sakti. Puji syukur, saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena telah diberi nikmat yang tak terkira karena bisa menginjakkan kaki di tempat yang biasanya sering muncul di sampul buku ataupun lembar kerja siswa (LKS) Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) tersebut, hehe.

Kedatangan kami disaksikan oleh burung-burung yang terbang dengan riang, gerimis, pepohonan yang rindang, daun-daun yang berguguran, genangan air, dan lain sebagainya.

Tidak lupa kami mengabadikan momen dengan mengambil gambar di beberapa objek. Di area Monumen Pancasila Sakti, terdapat monumen Pancasila, ruangan yang berisi relief, replika sumur tempat pahlawan revolusi dibuang, museum diorama, dan lain sebagainya.

Dipandu oleh seorang pemandu wisata. Mengantarkan kami ke beberapa objek, dan pemandu wisata yang juga anggota TNI AD itu berbicara ihwal sejarah yang berkaitan dengan beberapa objek yang ada di Monumen Pancasila Sakti.

Itulah, Nabs, secuil kisah ketika berkunjung di area Monumen Pancasila Sakti yang menjadi saksi bisu G30S/PKI atau Gestapu.

Semerbak wangi puspa mawar di Ibu Kota, tidak akan mampu menghapus bau anyir darah di Lubang Buaya. Memorabilia yang penuh dengan ibrah. Tidak ada cara lain selain memaafkan secara dhohir dan batin atas peristiwa bersejarah itu. Semoga pembaca dimanapun berada, bisa memetik ibrah/pelajaran dari peristiwa tersebut.

Mari, panjatkan do’a kepada semua pejuang Indonesia yang telah gugur mendahului kita, wabilkhusus pahlawan revolusi; Jenderal TNI Ahmad Yani, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigjen TNI Donald Isaac Pandjaitan, Mayor Jenderal M.T. Haryono, Mayjen R. Suprapto, Mayjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Czi. Pierre Tendean. Alfatihah!

Tags: G30SGestapuTragedi September
Previous Post

Hikayat Bencana Alam Bojonegoro dalam Sebuah Manuskrip Kuno

Next Post

Ki Hadjar Dewantara dan Sistem Pendidikan Among Yang Terlupakan

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: