Di setiap proyek kehidupan, selalu terkandung tragedi dan keselamatan.
Nabs, mari kita awali tulisan ini dengan sebuah puisi. Tentang proyek. Tentang upaya dan ambisi. Tentang keselamatan dan tragedi.
Barangkali terbelit fatamorgana
dari janji gombal penguasa.
Jembatan lahir atas nama taraf hidup masyarakat
di tengah melankolis ekonomi matakasat.
Terhuyung-huyung seteguk tuak riang menyulut
cipta pulas dininabobokan mabuk berahi: maut menjemput.
Pada suatu pagi aku merasakan debaran jantung:
nurani lega melingkar-mengalung.
Distikon di atas—yang tanpa judul, tarikh, dan pengarang—gambarkan Tuhan sungguh digdaya atas laku ambekan kita di luar ciptaan yang telah kita nikmati dan eksploitasi berikut kehadiran jembatan baru di masyarakat perbatasan Bojonegoro-Blora, Jembatan terusan.
Para tetua, emak-emak, dan gerombolan anak kecil begitu antusias melihat Bupati Bojonegoro dan Wakil Bupati Blora beserta jajaran menandai pembangunan dengan grounbreaking Rabu siang kala itu.
Sebelumnya, masyarakat setempat terlebih dahulu mengadakan selametan di area makam Ki Nanggul Yudho—dikenal sebagai orang yang babat alas di Desa Luwihaji serta rasa hormat pribumi akhirnya diabadikan sebagai nama jalan—malam hari dengan harapan lancar proses pembangunan sampai selesai.
Benarkah di tengah proses pembangunan tersebut sungguh tidak terjadi suatu hal. Saya kira dengan kejadian berulangkali kendala alat berat yang tidak bisa difungsikan sementara padahal berkali-kali pula diadakan bancaan berarti menandakan ada keganjian.
Mungkinkah itu gangguan dari barang halus atau semacam ‘kiriman’, yang jelas keberadaan itu nyata terjadi. Tentu sebagai makhluk ciptaan kita hanya bisa menaruh kendali kepada Yang Esa.
Jembatan dengan bentangan sejauh 200 meter itu menghabiskan dana sebesar 97 miliar sekian. “Duet rupo opo wi” celetuk warga ‘cilik’ selepas mengetahui lalu abai atas apa yang sudah dimiliki kendati sudah bekerja dan tua. Yang jelas nominal itu bukan godong ringen atau sesuatu yang abstrak dan jelas-jelas anggaran dari pemerintah setempat.
Syahdan, jembatan Terusan Bojonegoro-Blora telah selesai dan menjadi kado tahun baru 2021 bagi lingkungan desa perbatasan dan masyarakat luas.
Menjadi berkah tersendiri bagi kebutuhan mulai dari pendidikan dan ekonomi. Kewajiban kita sebagai saudara patut memanjatkan puji syukur “karena syukur tidak bisa memanjat sendiri.” begitu meminjm guyonan dari KH. Anwar Zahid—Kiai kondang in asli Bojonegoro. Tapi sebentar, dengan hati yang tulus nian ikhlas mari sejenak kita sungguh-sungguh melisankan rasa syukur. Alhamdulillah.
Wujud terima kasih ketika melihat Anak-anak ‘gemoy’ bisa berangkat ngaji diniah saat siang bolong ngontel dengan perasaan riang di bawah terik matahari yang menyengat tapi tidak dengan semangat tersengat, tanpa harus menunggu perahu ‘getek’ dan segala rintangan yang menyertai.
Lalu menyaksikan Bapak-bapak yang membawa damen atau suket untuk pakan ternak dari seberang provinsi dengan raut muka sederhana tapi besar harapan, siapa tahu kelak hewan peliharaan bisa dibuat modal ewoh mantu.
Akan tetapi, keberadaan jembatan baru tersebut di luar kemudahan akses juga meninggalkan kabar duka dari ‘tragedi’ yang sudah terjadi. Hingga sampai sekarang ini menurut sumber menuturkan terdapat 4 sampai 5 orang yang sudah terenggut nyawa, pilunya lagi rerata kejadian itu sehabis merayakan ‘sepi’ dengan menenggak minuman barangkali tuak atau sejenisnya.
Dengan keadaan pening memaksa diri mengendarai motor yang sudah barang tentu serta kita ketahui bersama bahwa dalam berkendara orang mabuk kepayang tidak diperbolehkan, lalu menabrak pembatas bahu jalan dan pada akhirnya meninggal dunia.
Sungguh kasihan melihat orang seperti itu, meminjam istilah orang jawa bangeten. Di luar nalar menjustifikasi cemoohan juga tidak menyelesaikan masalah melainkan mengakui sebab-akibat yang sudah atau akan terjadi memiliki resiko sesuai koridor.
Dari berbagai ‘tragedi’ yang sudah kita simak bersama, dalam keadaan dunia yang berangsur membaik dari kepungan virus walaupun Omicron sudah sampai di Indonesia mari sekali lagi melafalkan syukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bisa membuang angin dan ambekan.
Dan jika handai tolan dari pembaca yang budiman merasakan kemelut dalam hidup dan hati rentan tersakiti coba sejenak keluar rumah mendongakkan wajah ke atas seraya memandang langit dan berkata dengan keras: “Gusti!” lalu dibalas guntur menggelegar menyambar maka lanjutkan dengan berucap “Mboten sios, Gusti. Alkamdulillah.” Maka masalah telah selesai, walau sementara.








