Mitos memang tak perlu empiris dengan realitas. Sebab, ia ada untuk menghibur masa kecil kita.
Ketika kamu masih kecil, kamu ingin segera dewasa. Ketika kamu beranjak dewasa, kamu ingin kembali kecil lagi. Ketika kamu gendut, kamu ingin kurus, begitu seterusnya.
Masa kecilku penuh dengan dongeng-dongeng. Dari dongeng sebelum tidur hingga dongeng menjelang magrib. Dari cerita-cerita mistis hingga kisah dengan unsur teologis.
Kisah sederhana dan singkat ini berusaha menunjukan betapa masa kecil kita begitu indah dengan banyaknya mitos yang, andai kita bayangkan saat ini, jadi lucu sekali.
Bapak pernah bercerita, misteri punden dan kekeliruan orang-orang dalam berziarah di punden. Punden adalah makam Dayang. Mbah Buyut yang mebubak (membuka) desa.
Bagi Masyarakat Desa Bogangin, Mbah Buyut Sendi julukannya. Mbah Sendi itu juga nama julukan. Semua orang-orang desa tak pernah tahu nama aslinnya, lahirnya dimana dan dari mana beliau berasal.
Hanya cerita dari turun temurun. Konon, Mbah Sendi membuka Desa Bogangin dengan memberi sesaji di suatu tempat. Tempat tersebut cukup luas, berdampingan dengan sumur yang besar.
Tempat tersebut biasa disebut sumur gede. Disitulah Mbah Sendi berdomisili. Dengan rumah yang terbuat dari anyaman bambu dan atap dari alang-alang.
Konon pasca pemberian sesaji, ada angin kencan menerjang gubug itu. Gubug tersebut diseret angin. Sehingga menjadi filosofi dan banyak tafsiran. Ada yang Gubug Keterak Angin (Bogangin)
Itulah sekilas tentang Bogangin. Setelah itu, Mbah Sendi wafat. Beliau meminta dimakamkan berbeda dari orang-orang umum. Pada intinya ingin kuburannya sendiri tidak tercampur di makam umum.
Pada periode Mbah Lurah pertama Desa Bogangin. Makam itu sudah dirawa dan diberi cungkup (payon). Ada beberapa mitos yang masyarakat yakini terjadi hingga sekarang.
Calon Lurah Wajib Berziarah
Ketika ada calon lurah atau kepala desa. Maka calon tersebut wajib ziarah ke makam Mbah Sendi. Konon, akan diberi petunjuk. Jika dia ditemui ular. Maka akan kabul hajatnya.
Tapi, jika ditemui sosok hitam dan menyeramkan. Secara gambaran menurut orang setempat hajatnya tidak terkabul. Saya menganggapnya hanya mitos. Tapi saya juga tak melarang orang-orang desa begitu meyakini.
Keris dan Sesaji
Konon, keris dan sesaji di makam Mbah Sendi sangat ampuh. Jika orang berhasil menemukan keris itu. Bisa dikatakan orang itu akan sukses. Makmur kehidupannya. Tapi yang gagal, akan sial hidupnya.
Pengambilan keris itu harus dengan sesaji. Kembang tujuh rupa, minyak misik, dan ingkung. Keris itu muncul setiap malam jumat kliwon.
Konon, sampai saat ini, belum ada yang bisa mengambil keris itu. Saya juga tak tahu. Keris itu benar-benar ada atau tidak. Apa hanya sebatas cerita dari mulut ke mulut. Ataukah masih tersembunyi di balik bawah cungkup.
Mungkin saat ini kita bisa berkata bahwa itu semua hanya cerita. Sebab, keris atau apapun itu memang tak pernah ada. Dan hanya ada di kepala-kepala para pencerita.
Tapi, dulu semasa kita kecil, itu semua seperti benar-benar menghantui timeline hidup kita. Begitulah masa kecil, sesuatu yang lucu jika kita ingat saat sudah dewasa.








