Pantai bukan hanya soal gemuruh ombak. Tetapi saksi perlawanan yang terus bergemuruh dan berombak.
Erni merupakan perempuan Jawa yang telah lama menjadi anak buah kapal. Sehari-hari, ia menghabiskan waktu di samudera.
Menyaksikan gelombang, ikan lumba-lumba yang berenang dengan riang, ikan marlin, dan desir angin samudera.
Suatu hari, Erni dan kawan-kawan berhenti di pantai Pangandaran. Dekat dengan sebuah batu yang konon bentuknya mirip ikan hiu, masyarakat sekitar menyebutnya batu hiu.
Erni singgah beberapa hari di sekitar pantai Pangandaran. Menyaksikan fenomena alam dan sosial yang terjadi di sana. Pasir pantai, nyiur yang melambai-lambai, dan lalu-lalang perahu menambah hidup suasana pantai Pangandaran.
Membuat Erni betah tinggal di sekitar pantai Pangandaran. Dia bersama kawan-kawannya, mendirikan beberapa gubuk untuk berlindung. Ada yang dalam satu gubuk diisi oleh 2 dan ada yang 1 orang, Erni memilih sendiri.
Suatu hari, datanglah petugas berseragam cokelat yang tidak semanis cokelat, bahkan pahit. Membuat kehidupan yang manis, menjadi pahit.
Petugas tersebut memberitahu kalau Erni telah melanggar hukum wabilkhusus ihwal pertanahan. Selain mendirikan rumah, Erni juga bercocok tanam.
Erni tidak menyerah begitu saja. Petugas cokelat, saban seminggu sekali, berkunjung ke kediaman Erni. Meminta Erni untuk segera mengosongkan rumah dan sepetak tanah yang menjadi ruang hidup.
Erni tidak gentar. Badai, ombak, dan gelombang samudera ditaklukannya, apalagi hanya sekadar berhadapan dengan petugas cokelat.
Seperti halnya manusia biasa, Erni juga memiliki rasa takut. Tetapi rasa takut mampu dikelola Erni dengan elegan. Karena Erni mempunyai prinsip, hidup adalah melawan ketakutan.
Dan suatu hari ketika senja, bukan petugas cokelat yang datang. Melainkan preman kampung. Tiga orang preman mendobrak pintu gubuk Erni.
“Brak”, suara pintu yang didobrak dengan tendangan super. Sontak, Erni waktu itu sedang tiduran agak kaget, karena Erni juga kurang enak badan.
“Hei..perempuan yang tak bersuami, segera pergi dari sini. Kalau tidak, kami akan gagahi kamu, hahaha”.
“Wah…makanan empuk nih, Bos”, ujar preman yang bertopi plus berambut gondrong.
Erni tidak berdaya. Senja kala itu, menjadi saksi bisu, untuk pertama kalinya, tubuh Erni dipegang sana-sani, diremas-remas, dan menjadi pemuas nafsu bejat ketiga preman kampung tersebut.
Ranjang yang biasa digunakan tidur Erni, karena perlakuan tiga orang preman kampung menjadi reot. Erni lemas dan tak berdaya. Ketiga preman langsung pergi begitu saja. Tidak ada orang yang menolong Erni. Tanaman yang ditanam oleh Erni di pekarangan, juga dirusak.
Suatu hari, Ujang datang berkunjug ke rumah Erni. Ujang merupakan ketua serikat petani dimana Erni tinggal.
Ketika didatangi Ujang, Erni nampak ling-lung. Namun Ujang dengan sabar dan menggunakan sanubari ketika berkomunikasi dengan Erni.
Pada suatu hari, ketika senja mewarnai Parahyangan dan sekitarnya, dan matahari tenggalam di Pantai Pangandaran, memori otak Erni seakan mengulang kejadian pada waktu senja kala itu.
Erni bercerita dengan tatapan kosong tentang peristiwa yang tidak diinginkan oleh Erni itu. Sontak, ketika Ujang mendengarkan cerita Erni, Ujang langsung naik darah. Dan akan mencabok plus mengkepret tiga preman tersebut.
Pada suatu hari, Ujang sudah bersiap membawa kujang untuk melaporkan peristiwa tersebut ke petugas cokelat dan berniat mencabok plus mengkepret pelaku.
Hari demi hari berlalu. Tidak ada laporan dari petugas cokelat. Ujang geram, kemudian ia mengumpulkan petani lokal, nelayan, pemuka agama, dan elemen masyarakat lain untuk bersikap atas peristiwa yang dialami oleh Erni.
Mereka tergabung dalam serikat petani, menggeruduk markas petugas cokelat. Dan menginterogasi petugas cokelat. Petugas ketakutan dan membeberkan apa yang sebenarnya terjadi pada Erni.
Ternyata, Djawatan Kehutanan yang tidak pati becus mengurusi wilyah hutan dan Djawatan Pertanahan yang terkandung mafia tanah di dalamnya, menjadi dalang peristiwa senja yang tidak diinginkan oleh Erni itu.
Dari keterangan petugas cokelat, Erni telah menduduki tanah tanpa izin dan mencuri aset. Kemudian dibantah dengan Ujang sembari mengacungkan kujang ke mata petugas cokelat. Karena berdasar konstitusi, tanah dan air digunakan untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk golongan tertentu.
Petugas cokelat gemetaran. Kemudian serikat petani tidak meneruskan aksi. Keesokan harinya, petugas cokelat membawa pasukan lengkap dengan senjata laras panjang, memenuhi bibir pantai yang elok di bumi Parahyangan.
Menjadikan daerah pantai Pangandaran menjadi daerah pengamanan. Warga sudah ada yang menduduki tanah dan bercocok tanam ataupun mendirikan bangunan.
Setiap lima jam sekali, ada bunyi tembakan di udara. Petugas cokelat memburu Ujang. Operasi pengamanan dari hari ke hari, tidak mampu menemukan Ujang.
Setelah operasi pengamanan usai. Warga tetap menduduki tanah dan bercocok tanam seperti biasa. Ketika pada suatu hari akan ada rumah dan kebun kelapa warga yang dibuldoser, warga sudah membuat border.
Beberapa buldoser datang. Tidak membuat warga takut. Ketika buldoser datang, border yang terbuat dari solidaritas organik warga siap menghadang.
Perlawanan dibalas dengan perlawanan, dan akhirnya mental. Petugas cokelat dan kawan-kawannya tidak mampu merebut kembali tanah warga. Karena perjuangan warga di sekitar pantai didorong oleh beberapa kalangan: ajengan/kiai, pelajar, nelayan, buruh, petani, mahasiswa, jurnalis, pengacara, dan lain sebagainya.
Ujang dan warga di sekitar pantai Pangandaran, berhasil mencatat sejarah ihwal perlawanan dan membuat kesejahteraan rakyat. Kalau sebelum pendudukan tanah, warga di sekitar pantai Pangandaran bermigrasi ke luar daerah bahkan ke luar negeri.
Ketika berhasil menduduki tanah, melakukan musyawarah lahan garapan, kerja organisasi, dan bercocok tanam. Warga di sekitar Pantai Pangandaran mampu bertahan hidup dari hasil tanah dan air.
Erni akhirnya menikah dengan Ujang. Kisah cinta dan perjuangan mereka terukir dalam garis kehidupan. Dan akan terkenang selamanya oleh tanah dan air Pangandaran.
Di Sekitar Samudera Hindia, Pamungkas Januari 2022








