Kini, kembali ia menyusun harapan-harapan kecil dalam tidur siangnya.
Tia-tiba langkah itu terhenti. Langkah yang digerakkan terus maju meski ada sedikit pesimistis dan bersabar melangkah. Akan tetapi, tiba-tiba gerak langkah itu mengalami kemunduran. Tidak lagi berada di koridornya.
Sadar, sadar akan realita kehidupan. Bak ujung utara dan selatan. Sulit untuk bertemu dan disatukan. Dan jika bisa, timbangannya akan berat sebelah. Dan panjang perjalanannya pun akan berbeda.
Misalkan perjalanan itu ada tiga titik, maka 2 titik perjalanan yang akan ia tempuh. Tidaklah balance jadinya. Sulit memang untuk menyeimbangkan. Tidak apa-apa. Tidak semua kemunduran akan mengalami kemerosotan.
Dengan keyakinan hati, “Bismillah, aku mundur. Karena perjalananku sangatlah panjang.” rintihnya.
Sangat jauh dan lama perjalanan ini ia lalui. Semakin dikejar semakin ia menjauh. Sehingga ia bertindak untuk tidak mengejar lagi. Akan tetapi, ia mundur karena ini teramat resah untuk ada di bait-bait skenarionya.
“Benar, benar bukan dunianya untuk aku singgahi !” yakinnya pada diri sendiri.
Perlahan terabaikan, buih-buih rasa mulai dihapuskan. Mulai menikmati dan membenahi progres citanya.
10.080 menit ia berada dalam kenyamanan. Waktu yang begitu lama ia abaikan. Sayap-sayap kerinduan yang selalu menerbangkan kepadanya. 10.080 menit hilanglah itu semua. Semenitpun tidak berharga untuknya.
Sedih, memang sedih. Sebab, harapan-harapan yang telah disusunnya kemarin seketika hilang dan memudar. Memudar tersebab diusahakan untuk dipudarkan. Karena ada titik pemisah yang tak akan mampu untuk dicampakkan.
Akan tetapi, tidakkah kamu pernah berpikir ? sudah berapa lama kesedihan yang ia produksikan?
Entahlah, ia tidak salah. Hanya saja penantian yang mengharuskan keikhlasan. Penantian yang membutuhkan kesabaran. Dan penantian yang perlu dilukiskan.
Innallaha Ma’ashobirin.
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar. Dengan bermodalkan Q.S. Albaqarah ayat 153 ini menjadi benteng untuk pertahanan agar selalu berada dalam kesabaran. Baik kesabaran akan penantian, ujian, ataupun cobaan.
Tentunya kesabaran dalam kemunduran dan penghapusan harapan-harapan yang telah tersusun. Karena Allah tidak pernah sia-sia dalam memberikan sebuah kejadian.
10.080 menit telah mampu menghapuskan coretan-coretan keabadiannya. Waktu yang sangat bermakna baginya. Namun, juga menjadi waktu yang terpilu dalam penghapusan harapan tersebut karena waktu tersebut telah mampu menghapuskan poin-poin permanen diharapannya.
Kini, kembali ia menyusun harapan-harapan kecil dalam tidur siangnya. Tersentak ia bangun, “Aduh, aku telah bermimpi. Aku telah memiliki arah yang berbeda.” Ucapnya.
MasyaAllah, benar sekali. Allah telah membukakan harapan baru untuknya. Menuliskan dan menyusun harapan-harapan baru dalam prolog kehidupannya. Pergilah, kini waktumu telah usai. Dan kembalilah karena luka yang tersisa. Dan bertahanlah karena rasa yang ada. Sebab, ada kisah yang belum usai.








