Hadirnya proses membaca yang kita lakukan, hingga kemudian menghasilkan perubahan perilaku, itulah yang dinamakan belajar.
Belajar dan iklim belajar adalah dua hal yang tidak perlu dipisah. Belajar menjadi penting, agar kita bersemangat mengentaskan kebodohan diri. Sementara iklim belajar juga penting dibentuk, agar belajar menjadi kebiasaan kolektif, mudah ditemui di lingkungan terdekat kita.
Berbagai upaya menciptakan lingkungan belajar, salah satunya tercermin dari peringatan Hari Buku Nasional (Harbuknas) yang setiap 17 Mei dilakukan. Harbuknas bagi penulis, tidak sekadar peringatan belaka.
Ia perlu dijadikan momentum, bahwa membaca dan menumbuhkan kegemaran membaca perlu menjadi aksi. Apalagi, pandemi yang belum usai, membuat kita banyak stay at home. Jika demikian, perilaku membaca harus menjadi kebutuhan dasar sebagaimana makan.
Membaca hingga membiasa, dalam laku kehidupan, perlu lingkungan yang mendukung. Bahkan, keberadaannya sengaja dikonstrukS. Lingkungan yang penulis maksud baik berupa people (orangtua, teman, sahabat, dll.) dan tempat.
Terkait tempat belajar, tentu ruangan untuk belajar itulah yang dimaksud. Bukan hanya sekolah an sich. Melainkan, segala tempat yang bisa dijadikan sebagai aktivitas belajar agar bisa terwujud.
Sebut saja perpustakaan. Sebagai tempat berisikan deretan buku, tentu aktivitas membaca di perpustakaan akan memberi sugesti kuat dalam belajar dari pada di rumah yang nihil dari aktivitas belajar.
Karenanya, menciptakan lingkungan belajar itu perlu sebagai upaya memperkuat semangat belajar yang bukan sekadar belajar, melainkan aktivitas kebersamaan belajarnya dilakukan penuh kesungguhan.
Menciptakan lingkungan belajar, bukan berarti kita sendiri yang harus belajar. Melainkan berupaya, agar orang lain -di sekeliling kita- juga diminta dan melakukan aktivitas belajar, hingga akhirnya terbentuk lingkungan belajar.
Pada akhirnya, motivasi belajar yang terbentuk bukan karena egosentris, melainkan orang lain juga tersadar untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan.
Jika orang di sekeliling kita melakukan hal itu, rasa untuk bermalas-malasan sirnalah sudah.
Selain menciptakan lingkungan belajar, memiliki buku (bahan belajar) juga diperlukan untuk memupuk aktivitas belajar. Maka bagi yang tidak memiliki bahan belajar, pergi ke perpustakaan adalah sarana tepat untuk belajar.
Hanya saja, saat wabah Covid-19 ini, secara fisik kita memang tidak bisa ke perpustakaan. Untung saja, hal itu masih bisa disiasati dengan hadirnya perpustakaan digital sebagaimana pada laman perpusnas.go.id, atau perpustakaan lain yang menyediakan fasilitas e-book.
Jika memiliki rizki lebih, maka membeli buku hingga kemudian dijadikan perpustakaan pribadi adalah contoh menarik bagaimana agar aktivitas belajar tetap terbentuk selama pandemi ini.
Apalagi, toko online yang menjajakan aneka buku juga sudah banyak bertebaran di medsos. Tinggal pesan, kiriman fisik buku tanpa harus berkerumun bisa didapat.
Hal tersebut selain sebagai bentuk apresiasi karya penulis Indonesia, juga dalam rangka menumbuhkan kebiasaan membaca. Jika sudah terbentuk, dimanapun berada, membaca akan menjadi sesuatu yang didekatkan kepada diri apapun jenis aktivitas yang kita lakukan.
Sebagai contoh, saat penulis bersama istri pulang dalam rangka memeriahkan Pemilihan Umum (Pemilu) sebelum Covid-19, penulis melihat gadis di kereta yang sibuk membaca buku. Dan itu menggugah sekali bagi penulis.
Benang merah yang bisa diambil, pasti kalau gadis tersebut tidak terbiasa membaca, tidak mungkin aktivitas membaca itu dilakukan sembari bepergian. Yang bisa penulis simpulkan juga adalah, jika membaca sudah menjadi karakter, ia akan bisa dilakukan di manapun tempat dan keadaannya.
Hanya saja, karakter pembaca seperti itu tidak banyak dilakukan oleh masyarakat kita apalagi generasi milenial sekarang.
Tentang arti belajar sendiri, mengutip Prof Dr Ratna Wilis Dahar MSc (2011:2) dalam bukunya Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran menjelaskan, bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.
Ini artinya, hadirnya proses membaca yang kita lakukan, hingga kemudian menghasilkan perubahan perilaku, itulah yang dinamakan belajar.
Lebih lanjut, Prof Ratna juga menambah (hal. 3), setelah semua bentuk perubahan (yang disebabkan oleh proses fisiologis, mekanis, dan kematangan) dikeluarkan dari kategori perubahan yang mencerminkan belajar, akhirnya perubahan apakah yang tinggal sebagai hasil belajar?
Jawabannya, belajar dihasilkan dari pengalaman dengan lingkungan, yang di dalamnya terjadi hubungan antar stimulus dan respon.
Sebagai penutup, tanggung jawab belajar dan menciptakan lingkungan belajar perlu diwujudkan dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Tidak lain agar manusia yang melakukan aktivitas belajar, menjadi panorama yang bisa dilihat secara kasatmata menjadi panorama keseharian di manapun tempatnya. Salam membaca dan menulis ya.!
Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah UNUGIRI Bojonegoro.








