Untuk pemimpin dan calon pemimpin haruslah cerdik dan cermat untuk selalu meningkatkan kualitas dan kapasitas pribadinya.
Yuval Noah Harari menyebut dua faktor yang menyebabkan manusia menjadi makhluk hidup yang dapat bertahan hidup dan sukses melampaui tantangan zaman. Pertama adalah komunikasi dengan diciptakannya simbol berupa bahasa.
Kedua adalah kemampuan untuk menyusun perkumpulan atau organisasi sehingga dapat memenuhi hajat hidup manusia. Bahasa dan komunikasi adalah tanda manusia bergantung dengan sesamanya. Pemenuhan kebutuhan tidak bisa jika hanya mengandalkan kemampuan individu.
Organisasi dan perkumpulan adalah wadah sehingga komunikasi dapat melembaga sebagai sebuah kemauan bersama mencapai tujuan bersama.
Puncaknya adalah ditunjuknya seorang pemimpin dalam organisasi. Pemimpin dipilih dan diangkat berdasarkan kualitas dan kemampuan individu yang menonjol. Primus interpares. Pemimpin, karena kualitas dan kemampuannya, diserahi amanat untuk mengurus kebutuhan dan kepentingan para pihak yang dipimpinnya.
150 adalah batas maksimal, setiap individu dalam suatu lokasi mampu mengurus keperluan dirinya. Lebih dari jumlah itu, kata Harari, kebutuhan akan adanya organisasi yang terkelola dengan baik menjadi primer. Organisasi akan berjalan baik, efektif, dan berada di rel yang dicitakan membutuhkan adanya seorang pemimpin.
Masyarakat modern dewasa ini amat majemuk karakter kepribadiannya. Beraneka ragam pula kebutuhan dan keinginanya. Aspirasi, cita-cita, dan harapan-harapan manusia saat ini tentu tidak sama dengan sepuluh atau seratus tahun lalu. Namun, kebutuhan akan organisasi dan pemimpin, tidaklah lekang oleh waktu. Dari level terkecil keluarga hingga level besar seperti negara.
Kesadaran akan organisasi mengantarkan Kiai Dahlan mendirikan persyarikatan yang dinamai Muhammadiyah. Gagasan dan amal nyata harus bertahan lama, lebih lama dari usia manusia penggagasnya adalah alasan pendirian Muhammadiyah. Organisasi adalah payung antargenerasi untuk menjaga estafet semangat, cita-cita, dan tujuan bersama.
“Kebanyakan pemimpin-pemimpin rakyat,” kata Kiai Dahlan, “Belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah.”
Pemimpin disadari oleh Kiai Dahlan sebagai denyut nadi organisasi, dan seterusnya, sebagai pelita bagi kebutuhan umat dan rakyat. Ketiadaan pemimpin dalam organisasi, atau pemimpin yang tidak memiliki kualitas dan kemampuan akan menjadi sumber celaka bagi umat dan rakyat, alih-alih sebagai berkah.
Umat serta rakyat membutuhkan organisasi yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang mampu menjadi teladan ke arah kebenaran, mencerdaskan yang dipimpinnya, tahu dan mampu menyelesaikan persoalan yang dipimlinnya, serta tidak menjadikan yang dipimpinnya sebagai pemanis portofolio: Atas nama unat dan rakyat.
Nasihat Kiai Dahlan itu bermakna ganda: Untuk pemimpin dan calon pemimpin haruslah cerdik dan cermat untuk selalu meningkatkan kualitas dan kapasitas pribadinya. Untuk calon yang akan dipimpin: Berhati-hatilah dalam memilih, mengangkat, dan mendelegasikan mandat kepada calon pemimpin.
Salah satu sifat yang harus ada pada seorang pemimpin, menurut Kiai Dahlan, adalah memiliki kemauan untuk rela berkorban jiwa, raga, dan harta. Kriteria ini seruoa dengan kalimat sakti yang dipopulerkan oleh Hadji Agoes Salim: Pemimpin adalah menderita. Pemimpin adalah orang yang berkorban di garis muka.
Kiai Dahlan menjadi figur pemimpin yang layak dijadikan teladan. Pengorbanan beliau adalah contoh nyata tentang bagaimana seorang pemimpin. Ketika persyarikatan Muhammadiyah kesulitan keuangan untuk menjalankan kegitan sekolah, Kiai Dahlan melelang dan menjual barang-barang yang dimilikinya untuk dijadikan biaya operasional Muhammadiyah. Beliau tidak hanya manusia amal, tetapi juga seorang pemimpin teladan.
Dalam kesempatan lain, Kiai Dahlan mengutarakan pentingnya seorang pemimpin menjadi teladan dalam berkorban harta benda dibanding berkorban nyawa. Jiwa manusia tanpa dikorbankan, jika sudah waktunya, akan berjumpa dengan kematian. “Tapi beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini.”
Pemimpin itu berkorban harta benda, bukan sebaliknya, berlomba-lomba untuk menumpuk harta benda dan kekayaan. Pesan nyata dari seorang Kiai yang relevan dengan kondisi saat ini.








