Muhammadiyah jamak dikenal sebagai organisasi pengamal al-Maun. Semangat al-Maun diidentifikasi sebagai raison d’etre kelahiran Muhammadiyah oleh Kiai Dahlan.
Intisari al-Maun, dalam kacamata almarhum Kuntowijoyo, adalah semangat liberalisasi atau pembebasan. Pembebasan dari kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan dari kondisi terpinggirkan lainnya.
Teologi al-Maun lahir sebagai cerminan pribadi Kiai Dahlan sebagai Kiai Amal; Manusia Aksi. Orang beragama adalah orang yang beramal. Pemikiran agama, dalam kacamata Kiai Dahlan, haruslah berujung kepada amal perbuatan nyata. Amal salih adalah bukti otentik dari manusia untuk bekal menuju kematian.
Muhammadiyah juga pernah memopulerkan spirit baru dinamai Teologi al-‘Ashr. Nilai yang digali dari surat al-‘Ashr yang meliputi empat poin utama: Iman atau tauhid, semangat amal salih, keunggulan iptek dan seni, serta internalisasi etika, moral, dan akhlak di ruang publik.
Terakhir, ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengenalkan semangat optimisme yang digali dari nilai sakral al-Quran bernama Teologi al-Insyirah. Inti utama dari Teologi al-Insyirah adalah jangan merasa kerdil di hadapan masalah dan kesulitan. Karena bersama kesulitan, tersedia aneka macam kemudahan dan jalan keluar. Satu kesulitasn yang muncul, bersamanya tersedia macam-macam solusi.
Sejarawan Inggris, Arnold Toynbee mengenalkan teori challenge dan response dalam laju peradaban manusia. Peradaban manusia beegerak dinamis dengan rumus tantangan dan tanggapan. Peradaban manusia timbul-tumbuh dari respons terhadap tantangan berupa masalah yang muncul dari lingkungan alam dan sosial.
Manusia dan peradaban berjalan resiprok. Manusia adalah subjek utama pembentuk dan pengubah peradaban. Sebaliknya peradaban adalah arena sekaligus produk dari aktivitas keadaban manusia. Aktivitas pembentuk perubahan dalam peradaban manusia tidaklah berjalan lempeng tanpa kendala, sebaliknya, penuh dengan aneka maslah dan tantangan.
Ketegangan kreatif hasil dari hubungan resiprokal antara manusia dengan peradaban tidak bisa menihilkan perihal masalah dan tantangan. Malahan, masalah dan tantangan dinanti-nanti kehadirannya sebagai peletup energi optimisme. Tentu, ini bukan kita berarti berharap untuk mendapat masalah, tetapi sebalaiknya, jangan merasa rendah diri di depan masalah.
Hari ini, Ahad 17 April 2022, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro mengajakan acara kajian rutin setiap bulan Ramadan. Kajian rutin Ramadan tahun ini mengangkat tema Teologi al-Insyirah dengan pembicara utama Profesor Tobroni dari Universitas Muhammadiyah Malang.
“Teologi al-Insyirah ini memberi peluang bagi kita semua untuk menghasilkan inovasi, kreativitas, dan perubahan,” terang Prof Tobroni. “Kesulitan itu adalah tahapan yang harus kita lalui untuk memperoleh kejayaan,” lanjut beliau. Semangat al-Insyirah ini mengajak kita semua untuk menghadapkan wajah ke masa depan bukan untuk menengok masa lalu.
Prof Tobroni juga menandaskan bahwa dalam Teologi al-Insyirah, manusia memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan kerja sebagai manifestasi kekhalifahannya. Kerja tidak hanya, aksi-aksi manusiawi yang menihilkan eksistensi Tuhan. Oleh sebab itu, pelibatan Tuhan dalam setiap aktivitas kerja amatlah keharusan.
Kata kunci penting lainnya dari Teologi al-Insyirah adalah pentingnya memiliki harapan. Dalam setiap kesulitan dan tantangan, harapan adalah hal yang tidak boleh sirna. “Harapan yang paling tinggi adalah kepada Allah,” terang Prof Tobroni.








