Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Semangat Al-Birru: Pelajaran Kesepuluh dari Kiai Ahmad Dahlan

Ahmad Fuady by Ahmad Fuady
20/05/2022
in Figur
Semangat Al-Birru: Pelajaran Kesepuluh dari Kiai Ahmad Dahlan

Jadilah orang berilmu pengetahuan dan mengetahui kebenaran (alhaqq), serta semangat berkorban untuk sesama (albirru).

Selama Ramadan aku berpuasa dari menonton film. Aplikasi penyedia layanan streaming menonton film baru aku unduh dan pasang lagi di gawai sepekan lalu. Kemarin aku baru saja menamatkan menonton drama berseri berjudul Happiness.

Happiness menceritakan tentang perjuangan penghuni apartemen di tengah wabah Penyakit Menggila. Apartemen ini menjadi salah satu episentrum penyebaran wabah sehingga diisolasi dan penghuninya dikarantina. Penyakit Menggila ini disebabkan oleh virus yang menyerang otak manusia sehingga menyebabkan manusia yang terinfeksi menjadi zombi yang haus darah.

Alur cerita berpusat kepada upaya sepasang polisi (detektif kriminal dan pasukan khusus polisi yang menangani terorisme) yang menghuni apartemen tersebut selama proses isolasi dan karantina. Diceritakan bahwa pada akhirnya sepasang polisi ini memilih untuk berbuat dan mengupayakan solusi bagi penghuni apartemen lainnya.

Meski ada pilihan lain untuk mencari aman dengan berdiam di dalam rumah, sepasang polisi ini memilih mengambil risiko dan berkorban untuk penghuni apartemen lainnya. Mereka mengatur strategi, membagi logistik, menjadi penengah di situasi krisis dan ketidakpercayaan sesama penghuni, serta harus bertahan di tengah fitnah dan ancaman pembunuhan.

Kiai Dahlan menyebut contoh tindakan yang dilakukan sepasang polisi tersebut sebagai tindakan kebajikan atau dalam bahasa Alquran disebut al-Birru. Albirru berarti baik dan kebaikan. Namun, albirru memiliki penekanan yang berbeda dibandingkan dengan alhaqq, meski secara bahasa maknanya sama.

Alhaqq berarti memiliki pengetahuan tentang kebenaran. Alhaqq ini menjadi pangkal dari segala kebaikan dan amal saleh. Mengetahui kebenaran tanpa dipraktikkan tidaklah sempurna. Mempunyai ilmu haruslah ditindaklanjuti menjadi amal nyata. Itulah alhaqq yang berbuah amal saleh. “Mencari kebenaran itu sukar dan menjalankan kebenaran itu lebih sukar dan berat,” kata Kiai Dahlan.

Sang Kiai juga menekankan bahwa meski kita memiliki pengetahuan tentang cara mencuri dan merampok, tidaklah otomatis disebut pencuri atau perampok selama tidak melalukan tindakan itu. Memiliki ilmu tentang ajaran Islam tetapi tidak melakukan ajaran tersbut dalam amal nyata, maka tidaklah disebut sebagai orang Islam yang sesungguhnya.

Nah, menurut Kiai Dahlan, albirru bukanlah orang yang tahu kebenaran dan beramal salih. Albirru adalah orang yang rela mengorbankan diri dan harta benda yang dicintainya untuk orang lain.  Semangat albirru adalah mengutamakan orang lain dibandingkan diri sendiri.

Albirru adalah berani mendermakan harta benda yang dicintai untuk diberikan ke orang lain. “Mereka mendahulukan kepada orang lain, mengalahkan (kepentingan) dirinya walaupun dirinya sendiri membutuhkan,”  pesan Kiai Dahlan sembari mengutip hadis riwayat Bukhari.

Orang yang telah mengamalkan semangat albirru inilah yang disebut abrar. “Kamu sekalian walaupun sudah menjalankan amal saleh, kamu belum diakui baik, belum menjadi orang abrar. Sehingga kamu berani menguliti (mbeset) kulitmu sendiri. Artinya sehingga kamu berani membelanjakan harta bendamu yang sangat kamu cintai,” pesan berulang-ulang Kiai Dahlan kepada santrinya dalam setiap kesempatan Pengajian Wal-Ashri. “Kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri, belum menjadi Islam sejati,” pungkas Sang Kiai.

Ajaran Kiai Dahlan di atas adalah pemaknaan, perenungan, dan tindakan yang dilakukan Kiai atas ajaran Alquran dalam surat Ali Imran ayat 92: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (albirru) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”

Kiai Dahlan tampaknya getol betul terhadap tiga keutamaan ini: Jadilah orang berilmu pengetahuan dan mengetahui kebenaran (alhaqq), semangat beramal saleh sesuai kebenaran yang diilmuni, serta semangat berkorban untuk sesama (albirru).

Tags: Ahmad DahlanMuhammadiyahPesan Kiai Dahlan
Previous Post

Kisah Para Penggerak Dunia Pendidikan dari Bumi Wali

Next Post

Politik Hukum Kebangkitan Nasional

BERITA MENARIK LAINNYA

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme
Figur

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno
Figur

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia
Figur

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Konflik Dr. Manhattan dan Rorschach di Watchmen (2009): Filsafat Moral dan Perlawanan Terakhir terhadap Dunia yang Korup

Konflik Dr. Manhattan dan Rorschach di Watchmen (2009): Filsafat Moral dan Perlawanan Terakhir terhadap Dunia yang Korup

15/07/2026
KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges

KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges

14/07/2026
Jenderal Moerdani dan Pondok Pesantren yang telah Mendidiknya

Jenderal Moerdani dan Pondok Pesantren yang telah Mendidiknya

14/07/2026
Angkat Lokalogi, Kelas Jalanan Ajak Warga Mendekatkan yang Dijauhkan

Angkat Lokalogi, Kelas Jalanan Ajak Warga Mendekatkan yang Dijauhkan

13/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: