Jadilah orang berilmu pengetahuan dan mengetahui kebenaran (alhaqq), serta semangat berkorban untuk sesama (albirru).
Selama Ramadan aku berpuasa dari menonton film. Aplikasi penyedia layanan streaming menonton film baru aku unduh dan pasang lagi di gawai sepekan lalu. Kemarin aku baru saja menamatkan menonton drama berseri berjudul Happiness.
Happiness menceritakan tentang perjuangan penghuni apartemen di tengah wabah Penyakit Menggila. Apartemen ini menjadi salah satu episentrum penyebaran wabah sehingga diisolasi dan penghuninya dikarantina. Penyakit Menggila ini disebabkan oleh virus yang menyerang otak manusia sehingga menyebabkan manusia yang terinfeksi menjadi zombi yang haus darah.
Alur cerita berpusat kepada upaya sepasang polisi (detektif kriminal dan pasukan khusus polisi yang menangani terorisme) yang menghuni apartemen tersebut selama proses isolasi dan karantina. Diceritakan bahwa pada akhirnya sepasang polisi ini memilih untuk berbuat dan mengupayakan solusi bagi penghuni apartemen lainnya.
Meski ada pilihan lain untuk mencari aman dengan berdiam di dalam rumah, sepasang polisi ini memilih mengambil risiko dan berkorban untuk penghuni apartemen lainnya. Mereka mengatur strategi, membagi logistik, menjadi penengah di situasi krisis dan ketidakpercayaan sesama penghuni, serta harus bertahan di tengah fitnah dan ancaman pembunuhan.
Kiai Dahlan menyebut contoh tindakan yang dilakukan sepasang polisi tersebut sebagai tindakan kebajikan atau dalam bahasa Alquran disebut al-Birru. Albirru berarti baik dan kebaikan. Namun, albirru memiliki penekanan yang berbeda dibandingkan dengan alhaqq, meski secara bahasa maknanya sama.
Alhaqq berarti memiliki pengetahuan tentang kebenaran. Alhaqq ini menjadi pangkal dari segala kebaikan dan amal saleh. Mengetahui kebenaran tanpa dipraktikkan tidaklah sempurna. Mempunyai ilmu haruslah ditindaklanjuti menjadi amal nyata. Itulah alhaqq yang berbuah amal saleh. “Mencari kebenaran itu sukar dan menjalankan kebenaran itu lebih sukar dan berat,” kata Kiai Dahlan.
Sang Kiai juga menekankan bahwa meski kita memiliki pengetahuan tentang cara mencuri dan merampok, tidaklah otomatis disebut pencuri atau perampok selama tidak melalukan tindakan itu. Memiliki ilmu tentang ajaran Islam tetapi tidak melakukan ajaran tersbut dalam amal nyata, maka tidaklah disebut sebagai orang Islam yang sesungguhnya.
Nah, menurut Kiai Dahlan, albirru bukanlah orang yang tahu kebenaran dan beramal salih. Albirru adalah orang yang rela mengorbankan diri dan harta benda yang dicintainya untuk orang lain. Semangat albirru adalah mengutamakan orang lain dibandingkan diri sendiri.
Albirru adalah berani mendermakan harta benda yang dicintai untuk diberikan ke orang lain. “Mereka mendahulukan kepada orang lain, mengalahkan (kepentingan) dirinya walaupun dirinya sendiri membutuhkan,” pesan Kiai Dahlan sembari mengutip hadis riwayat Bukhari.
Orang yang telah mengamalkan semangat albirru inilah yang disebut abrar. “Kamu sekalian walaupun sudah menjalankan amal saleh, kamu belum diakui baik, belum menjadi orang abrar. Sehingga kamu berani menguliti (mbeset) kulitmu sendiri. Artinya sehingga kamu berani membelanjakan harta bendamu yang sangat kamu cintai,” pesan berulang-ulang Kiai Dahlan kepada santrinya dalam setiap kesempatan Pengajian Wal-Ashri. “Kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri, belum menjadi Islam sejati,” pungkas Sang Kiai.
Ajaran Kiai Dahlan di atas adalah pemaknaan, perenungan, dan tindakan yang dilakukan Kiai atas ajaran Alquran dalam surat Ali Imran ayat 92: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (albirru) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
Kiai Dahlan tampaknya getol betul terhadap tiga keutamaan ini: Jadilah orang berilmu pengetahuan dan mengetahui kebenaran (alhaqq), semangat beramal saleh sesuai kebenaran yang diilmuni, serta semangat berkorban untuk sesama (albirru).








