Mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro) belajar bersama warga Desa Bulaklo, Kecamatan Balen, Bojonegoro.
Kelompok 21 KKN-T Unigoro gelar penyuluhan pengendalian hama terpadu untuk warga Desa Bulaklo, Kecamatan Balen, Bojonegoro.
Nabs, dengan tema “Mengedepankan Pengelolaan Agroekosistem dan Teknologi yang Berbasis pada Sumber Daya Alam” pada Senin (08/08).
Acara tersebut bertempat di Balai Desa Bulaklo, Kecamatan Balen, Bojonegoro, Nabs.
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 50 orang yang terdiri dari gabungan Gapoktan, Karang Taruna (Kartar), Ibu-Ibu PKK, dan perangkat desa.
Tujuan dari kegiatan untuk menciptakan kesadaran para petani khususnya di Desa Bulaklo tentang pengurangan penggunaan petisida dan beralih ke pupuk organik.
Penyuluhan ini didukung oleh Purwanto selaku Kepala Desa Bulaklo serta narasumber sekaligus pemateri dari Pusat Pelayanan Agen Hayati (PPAH) Dander.
Dari PPAH ada Ibu Tiswatin. Ibu Tiswatin menyampaikan materi dengan jelas dan rinci tentang cara pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dilakukan secara organik dan memanfaaatkan agen hayati serta pembuatan pupuk cair dari bahan yang bisa ditemukan dilingkungan sekitar yaitu pupuk PGPR (Plant Growth Promoting Rezobacteria).
“Pengendalian OPT dengan pestisida kimia seringkali menyebabkan pencemaran pada lningkungan.” Ujar Ibu Tiswatin.
Menurutnya, banyak petani yang masih kurang mengetahui tentang agen hayati, sehingga petani masih sering menggunakan pestisida kimia. Tumbuhan yang bagus pertama dirawat dari akar bukan batang atau daun.
Bahan yang digunakan untuk membuat PGPR diantaranya, akar bambu, leri (air sisa rebusan beras), air gula dan air gula yang didiamkan selama kurang lebih 7 (tujuh) hari dan pengaplikasiannya bisa dilakukan pada sore hari.
“Semoga dengan adanya penyuluhan pegendalian hama terpadu (PHT) ini, dapat menambah pengetahuan dan mengurangi penggunaan pupuk kimia khususnya di Desa Bulaklo, Kecamatan Balen, Bojonegoro.” Harap M. Abdul Aziz Pirman selaku Ketua Kelompok 21 KKN-T Unigoro.








