Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Atribut Cinta dan Hakekat Suporter Bola

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
13/03/2023
in Cecurhatan
Atribut Cinta dan Hakekat Suporter Bola

Matahari hampir tenggelam, tapi magrib belum juga datang, ketika saya berjumpa dua karib berwajah ceria di sebuah tempat berlabuh, di pinggiran kota. Mereka berdua adalah kawan-kawan para suporter bola.

Kami memang berbeda ideologi dan keyakinan, tapi tetap berhubungan baik sebagai seorang sahabat dan teman. Bagi kami, perbedaan adalah modal utama dialektika dan gerak peradaban.

Bayu dan Okta, begitu saya memanggil mereka. Dua orang pendukung Arsenal yang akhir-akhir ini berperangai bahagia. Tentu, memuncaki klasemen English Premiere League (EPL) adalah musabab keceriaan di wajah mereka.

Para suporter adalah orang-orang hebat yang tak pernah salah. Kemana-mana, mereka seperti menggenggam ucapan Leo Tolstoy dalam novel terbaiknya, War and Peace: everything that I understand, I understand only because I love.

Melalui mahakarya itu, Mbah Tolstoy seperti tahu bahwa kelak peperangan tak hanya terjadi akibat perseteruan Rusia dan Prancis. Tapi juga hal-hal kecil dengan perbedaan identitas yang mencolok seperti klub-klub bola.

Berjumpa kawan suporter memang rentan berseteru. Untungnya, tiap kali berjumpa kawan suporter bola, entah kenapa, saya sering ingat Green Street Hooligans (2005). Dan tiap kali ingat film itu, fanatisme di dalam tubuh saya akan hilang begitu saja.

Bawaannya hanya ingin bercanda secara bijaksana. Sebab, hanya kebijaksanaan yang mampu mengalahkan fanatisme buta. Harus diakui, politisasi, kapitalisasi, dan industrialisasi sepakbola membuat banyak orang sulit bercanda dengan bijaksana. Hal ini yang melahirkan fanatisme buta.

Padahal, tiap kata f(a)(n)a(ti)sme, selalu mengandung kata anti di dalamnya. Ini alasan kenapa mereka yang fanatik terhadap sesuatu, di saat yang sama, pasti akan anti terhadap sesuatu. Dan itu sangat saya hindari.

Bayu dan Okta suporter Arsenal. Sementara saya pendukung Liverpool. Mereka berdua suporter Arsenal garis fundamentalis. Sementara saya Liverpudlian garis rahmatan lil alamin. Kami berbeda keyakinan sejak dalam pikiran.

Bayu dan Okta mencintai Arsenal dengan sepenuh hati, melalui jersey bahkan organisasi. Selalu nonton tiap pertandingan. Dan amat ahli menyembunyikan tangis kala The Gunners menelan kekalahan. Saya mungkin tak sehebat mereka berdua.

Tapi bagi saya, mengagumi Liverpool adalah perkara sufistik. Saya jarang pakai atribut Liverpool. Saya juga tak ikut fans klub Liverpool. Saya hanya mengagumi Liverpool, itu saja. Bahkan saya sering tak peduli jika Liverpool tak juara. Karena bagi saya, juara tak perlu dibela.

Kecintaan saya pada Liverpool, berada pada level yang sulit dijelaskan. Seperti yang pernah diungkapkan Rabrindanath Tagore dalam Stray Bird: Mendung yang datang tak lagi membawa hujan atau badai dalam kehidupanku, tapi sekadar menambah warna-warni langit. 

Bayu dan Okta sebagai suporter Arsenal, tentu berbeda dengan saya yang pengagum Liverpool. Tapi kami akan selalu berkawan dengan baik-baik saja. Tentu karena kami suporter dengan spesies lelaki yang bijaksana ~

Mereka bahkan sempat mengucap selamat pada saya, pasca Liverpool menggulung MU dengan skor 7-0 tanpa balas. En7-0y the his7-0ry menjadi tagar dan pembuka perbincangan kami. Sebuah perbincangan yang menyenangkan tentu saja.

Awalnya saya heran. Kenapa pendukung Arsenal bisa ikut bahagia saat Liverpool menghabisi MU? Tapi keheranan saya terjawab, ketika saya ingat sebuah peribahasa: عدو عدوي هو صديقي— Musuhnya musuhku adalah temanku.

Namun memang Arsenal ini selalu akrab dengan siapapun. Arsenal hanya tak pernah akrab dengan gelar juara saja. Sebagai klub yang telah lama lupa rasanya jadi juara, saat ini Arsenal beserta pendukungnya wajib bersyukur dan merasa berbahagia.

Arsenal, kau tahu, terakhir juara EPL pada kompetisi 2003 – 2004 masehi. Tahun dimana Erling Haaland dan Kylan Mbappe masih usia PAUD dan TK. Haaland dan Mbappe, waktu itu mungkin belum tahu bahwa di dunia ini ada sebuah klub sepakbola bernama Arsenal.

Dan Arsenal, kini berada di puncak klasemen sementara. Itu alasan kenapa Bayu dan Okta harus bahagia. Meski, kebahagiaan itu tak menjamin Arsenal jadi juara di akhir kompetisi. Akhir kompetisi masih jauh. Sementara puncak klasemen bisa direbut kapan saja.

Eduardo Galeano, raksasa esai asal Uruguay dalam Soccer in Sun and Shadow menyebut, suporter bola adalah kekuatan ghaib sekaligus nyata yang bisa mempengaruhi jalannya pertandingan hingga memaksa angin mengubah arah bola, demi kemenangan timnya.

Saya tentu sepakat dengan Mbah Galeano. Setidaknya apa yang ia katakan memang ada benarnya. Tapi menurut saya, itu hanya kebenaran relatif. Sebab, alih-alih mengubah arah bola, mengubah status jomblo tak pernah juara saja butuh waktu yang sangat lama.

Seperti halnya kecintaan Bayu dan Okta pada Arsenal, saya juga menjago Liverpool sejak kecil. Bedanya, saya pendukung Liverpool yang tidak frontal. Kalah dan menang bagi saya tak penting. Saya cinta Liverpool bagaimanapun keadaannya.

Ini alasan sejak awal saya mendaku diri sebagai Liverpudlian garis rahmatan lil alamin. Tentu dengan prinsip thariqatuna thariqatul muhabbah — jalan kami jalan cinta. Tak peduli Liverpool kalah atau menang, cinta tetap cinta. Meski kadang, sudah cinta tapi tak berjodoh. Hmmm ~

Arsenal puasa gelar baru 19 tahun. Di banding Liverpool, tirakat itu belum ada apa-apanya. Kau tahu, Liverpool telah berpuasa gelar selama 30 tahun. Arsenal baru tirakat selama 19 tahun. Liverpool tirakat sudah 30 tahun. 19 tahun adalah usia remaja. 30 tahun adalah usia penuh tekanan sosial “kapan nikah?”.

Ya, begitulah. Mencintai klub bola serupa mencintai seorang kekasih. Kadang kecewa, kadang tambah cinta, dan kadang harus berlapang dada dengan kenyataan yang harus kita terima.

Bukankah itu wujud dari cinta? Saat kita mencintai seseorang, tapi takdir tak berkata demikian, apakah kita akan marah-marah? O, tentu tidak. Dia yang kita cinta juga berhak bahagia dengan takdir yang dia terima. Begitupun kita. Meski, tentu saja itu sulit.

Tadi malam (12/3), Arsenal menang lagi atas Fullham dengan skor penuh cuan 3-0. Lalu saya mbatin, jangan-jangan ini sebuah isyarat. Bahwa Arsenal harus tirakat dan puasa gelar selama 30 tahun seperti Liverpool? Hmm..

Tags: ArsenalAtribut BolaJersey BolaLiverpoolSuporter Bola
Previous Post

Piala Rektor Unugiri: Tingkatkan Jiwa Sportivitas, Pererat Jalin Persaudaraan

Next Post

Melihat Tur Seni Rupa Ilustrasi dalam Karya Antologi Puisi

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: