Banyak motif melatari pengerdilan Nagari Jipang. Selain tentu saja agar para pewaris berikut masyarakat eks Nagari Jipang alpa atas kebesaran dan kemuliaan Nagari Jipang, ada motif lebih spesifik. Motif itu: Ekonomi.
NAGARI Jipang berpusat di bantaran Sungai Bengawan Solo Kabupaten Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur. Secara geografis, lokasi pusat nagari ini bahkan mengapit sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.
Dengan berada di titik geografis dimaksud, Nagari Jipang memiliki otoritas krusial di Bengawan Solo. Dalam tradisi masyarakat Bantaran, sungai Bengawan Solo adalah seekor Naga Raksasa. Jika ia Naga Raksasa, Nagari Jipang adalah pusat detak jantung Naganya.
Kitab Al-Bulhan (abad 14 M), menomenklaturi Naga Raksasa sebagai semiotika penting kosmologi hidup. Begitupun, Nagari Jipang adalah simbol paling penting bagi kelancaran Bengawan Solo. Ia memegang peran penting dalam mengatur stabilitas Gresik dan Solo.
Adapun, otoritas Nagari Jipang atas ‘jantung’ Bengawan Solo secara implisit juga dilegalformalkan Kerajaan Majapahit melalui Prasasti Canggu. Prasasti ditulis tahun 1358 M itu, mengistimewakan sejumlah titik Bengawan di wilayah Nagari Jipang.
Bengawan Solo pusat Nagari Jipang ini persisnya dinobatkan sebagai Naditira Pradeca atau pelabuhan sungai utama Kerajaan Majapahit. Di Naditira Pradeca ini, perekonomian dan peradaban Majapahit bergeliat di dan dari sisi barat.
Namun, fakta kejayaan atau secara ekstrem dapat disebut kemuliaan Bengawan Solo pusat Nagari Jipang itu lalu padam dan hilang seiring dikebirinya Nagari Jipang melalui “kekuatan prosa” di era kekuasaan Mataram Islam pada 1722 M.
Prosa yang kuat itu berupa dongeng Jipang vs Demak-Pajang-Mataram Islam yang ditulis para pujangga Mataram Islam, lalu disadur pujangga Belanda bernama Jacob Meinsma pada 1874 dalam buku yang disanksikan banyak sejarawan: Babad Tanah Jawa.
Betapapun sanksional kekuatan prosa tersebut, pada akhirnya Nagari Jipang berhasil ‘dikebiri’. Apa-apa yang menjadi otoritas Nagari Jipang dipreteli. Termasuk, jantung Bengawan Solo yang diistimewakan Kerajaan Majapahit itu.
Selanjutnya, Bengawan Solo Jipang dalam kekuasaan Mataram Islam. Nama Bengawan Solo ini juga hasil penamaan pihak Kesultanan Surakarta (Solo), usai Mataram Islam dibagi dua oleh Belanda melalui Konsensus Giyanti pada 1755 M.
Sebab, menurut catatan sejarah, sungai yang berhulu di Wonogiri, Jawa Tengah dan berhilir di Gresik, Jawa Timur itu mulanya bernama Sungai Semanggi. Nama yang netral. Tidak memiliki sangkut paut dengan kekuasaan.
Di dalam kekuasaan Kesultanan Surakarta, Bengawan Solo tak terlalu terdengar kalibernya di tangan para niagawan Jawa. Sejarah melulu mengabarkan, Bengawan Solo digunakan untuk kepentingan niagawan Belanda.
Bengawan Solo masyhur sebagai jalur distribusi kayu jati dan hasil pertanian-perkebunan dari pedalaman menuju pesisir yang dilangsungkan para Belanda. Aktivitas niaga bangsa penjajah ini, dikawal para Prajurit Mangkunegara.
Usai Belanda melepas daya jajahnya dari Tanah Jawa, Bengawan Solo hilang ruhnya. Para niagawan Jawa kadung asing dengan Bengawan Solo. Keasingan niagawan Jawa terhadap Bengawan Solo, bertahan sampai saat ini.
Bengawan Solo saat ini bisa dikatakan sudah mati. Perekonomian tak berdenyut lagi di aliran sungai ini. Bengawan Solo menjadi sekunder. Hanya mendapat atensi serius ketika membikin banjir besar dan menenggelamkan anak-anak.
Yusab Alfa Ziqin
Warkop Pandan Aran, 23 Februari 2024








