Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Budaya Njipangan: Bahasa dan Laku Hidup

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
23/02/2024
in Headline
Budaya Njipangan: Bahasa dan Laku Hidup

Budaya dan Bahasa Njipangan

Budaya Njipangan merupakan perpaduan kultur Jawa dan Sufisme Persia yang benih dan embrionya telah ditanam sejak abad 14 M silam. 

Budaya Njipangan berhubungan erat dengan sosio-kultural masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebuah wilayah kebudayaan meliputi Kabupaten Bojonegoro, Blora, dan bagian selatan Tuban. Rumpun masyarakat yang hidup di lintasan Sungai Bengawan, Alas Jati, dan Lembah Pegunungan Kendeng.

Letak geografis kawasan ini masih dikenal sebagai Biladi Jipang (Nagari Jipang) hingga abad 18 M. Wajib diketahui, istilah “Biladi dan Nagari” di sini bukan bentuk pemerintahan, tapi lokus kewilayahan dan nisbat peradaban. Ini penting untuk dijelaskan. Sebab selama ratusan tahun, kolonial telah berupaya mengaburkannya.

Sebagai rumpun kebudayaan, masyarakat Njipangan memiliki identitas yang membuatnya sedikit berbeda dari budaya Jawa pada umumnya. Dua di antara identitas paling tampak adalah cara berbahasa dan laku hidup. Dua hal ini menjadi metode yang menyejarah, sebagai perpaduan corak Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Baca Juga: Nagari Jipang, Cikal Bakal Blora dan Bojonegoro 

Kultur Njipangan sebagai identitas dan cara hidup komunal yang diwariskan dari zaman ke zaman, memang pernah dikubur, dihilangkan, dan tak diakomodir narasi keraton. Untungnya, Para Masyayikh mengawetkan, mewiridkan (menceritakan secara berulang-ulang), serta mencatatnya kedalam berbagai lembar ilmu pengetahuan.

Biladi Jipang: wilayah kebudayaan (sumber: Syekh Abdurrohman Al Fadangi)

Sebagai Narasi Kerakyatan, Kultur Njipangan tersimpan rapi sebagai metode hidup keseharian. Ia bukan seremoni yang pada momen-momen tertentu baru diperingati. Namun esensi dan ideologi yang terus terjaga sebagai laku hidup sehari-hari.

Secara antropologis, Budaya Njipangan adalah sosio-kultur yang tumbuh, hidup, dan terus berkembang di bagian timur Provinsi Jawa Tengah dan bagian barat Provinsi Jawa Timur. Sementara secara sosiologis, masyarakat Njipangan dikenal egaliter dan anti-feodal dengan sosio-struktur yang dinamis.

Terkait corak Budaya Njipangan, ada dua perihal mencolok yang bisa diamati. Dan faktor ini yang membuat Budaya Njipangan tampak berbeda dari sub kultur masyarakat Jawa lainnya. Pertama adalah bahasa, termasuk logat dialek (cara berkomunikasi). Kedua adalah karakter dan lelaku hidupnya.

Bahasa Njipangan

Bahasa Njipangan merupakan salah satu dialek bahasa Jawa yang unik dan berbeda dari Bahasa Jawa lainnya. Dialek ini digunakan masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya. Bahasa Njipangan membawa khazanah budaya sendiri, termasuk beragam sub-sub dialek dengan kosakata yang berbeda dari Bahasa Jawa Mataraman ataupun Bahasa Jawa Suroboyoan.

Kamus Arab – Jawi Njipangan (Syekh Abdurrohman al Fadangi, 1236 H).

Secara linguistik, Bahasa Njipangan tidak sekadar logat, dialek, ataupun kosakata. Namun juga “budi” yang mencerminkan identitas kaum Wasathiyah — penengah antara peradaban Pesisir dan Pegunungan. Terbukti secara geohistoris, Bumi Njipangan adalah titik Bhinnasrantaloka: lokus penyatu Jawa Utara (Jenggala) dan Jawa Selatan (Panjalu) — lihat: baris ke-5 Prasasti Maribong (1264 M).

Baca Juga: Tlatah Bhinnasrantaloka, Tanah yang Dihormati Para Raja 

Bukan kebetulan jika masyarakat Njipangan punya budaya (utamanya Bahasa) yang khas. Bahasa Jawa yang jauh berbeda dari Jawa Mataraman ataupun Jawa Suroboyoan. Bahasa Njipangan dikenal sebagai bahasa yang adaptatif dan egaliter, menggambarkan corak masyarakat Wasathiyah.

Bahasa Njipangan tidak baku-formal-statis-feodalis serupa Keraton. Namun bahasa yang dinamis, egaliter, luwes, dan adaptatif. Merepresentasikan daya hidup masyarakat Bengawan, Hutan, dan Pegunungan Kendeng yang dinamis. Bahasa Njipangan adalah bahasa yang digunakan di kawasan Bojonegoro, Blora, dan sebagian Tuban.

Seiring perkembangan zaman, Bahasa Njipangan terus hidup dan mengalami dinamika. Kosakata baru bermunculan mengiringi perkembangan zaman dan budaya. Hal ini merupakan proses alami bahasa, yang selalu hidup dan berkembang, sekaligus menggambarkan corak manusianya.

Medang Kamulan: Wilayah Proto Bumi Njipangan

Bahasa Njipangan tentu berbeda dengan bahasa Mataraman atau Suroboyoan. Baik dari dialek, logat, ataupun pilihan kata. Secara dialek, Bahasa Njipangan tidak halus seperti Mataraman, tapi juga tidak vulgar seperti Suroboyoan. Dalam konteks komunikasi, Bahasa Njipangan bercorak egaliter dan adaptatif.

Bahasa Njipangan bukan sekadar dialek. Tapi juga memiliki Kata Dasar, Kata Sifat (modot), dan Akhiran Kata (sufiks) yang lahir dan tumbuh original di kawasan Lembah Pegunungan Kendeng. Secara literatur, Kata Dasar, Kata Sifat, dan Akhiran Kata ini identik Sufisme Jawi masyarakat Njipangan.

Untuk Kata Sifat “modot” contohnya: enak (wuuuenak), adem (wuuuadem), panas (puuuanus), seger (suuuweger), lesu (lauuuwesu), wareg (wuuuareg), ayu (wuuuayu), ganteng (nggiiianteng), cinta (cuuuinta), kangen (kuuuangen), sedep (suuuwedep), sangar (suuuwangar), ireng (wuuireng), putih (pauuutih).

Kata Akhiran (sufiks) contohnya;  omahem (rumahmu), kabarem (kabarmu), cintanem (cintamu), gayanem (gayamu); piye leh? (gimana sih), iyo leh (iya dong) mboyak leh (terserah dong), karek aku leh (terserah saya dong), ngopi leh (ngopi dulu sini), dan masih banyak lagi lainnya.

Sementara untuk Kata Dasar, kita bisa ambil contoh: kelan (memasak), damoni (meniup), lebi (tutup), jungkat (sisir), layakman (pantesan), nggladrah (ceroboh), semlende (bersandar), njungok (duduk), trocoh (bocor), mek’opo (ngapain?), matoh (keren), gawok (kagum), dan masih banyak lagi lainnya.

Sufisme Njipangan

Meski berupaya dikubur dan dikaburkan kolonial (Londo Jowo dan Londo Holland), khazanah Njipangan terus hidup. Dari zaman ke zaman, para Masyayikh Jipang Padangan kerap menceritakan dakwah berbasis “lughoh” sebagai tradisi budaya. Sementara mayoritas pesantren kuno di kawasan tersebut, mengabadikannya melalui lembar-lembar manuskrip.

Laku hidup dan tradisi punya pengaruh besar pada pembentukan kata dan bahasa. Sejak abad 14 M, Masyarakat Njipangan terkenal Sufi Jawi yang berbudaya. Kata Sifat “modot” hingga  Sufiks “Leh” dan “Em”, adalah produk budaya Njipangan. Budaya ini tak bisa dipisah dari tradisi Sufisme Jawi yang dibangun Syekh Jumadil Kubro di Zawiyah Gunung Jali.

Baca Juga: Gunung Jali, Ranah Studi Warisan Syekh Jumadil Kubro 

Sejak abad 10 M, kawasan Njipangan dikenal sebagai Sotasrungga: pusat Hindu-Budha, suaka para Brahmana. Dan pada abad 14 M, Syekh Jumadil Kubro membangun Zawiyah Gunung Jali, untuk mengakomodir dan mem-filtrasi kepercayaan Hindu-Budha itu kedalam ajaran Islam secara halus dan damai. Gus Dur kerap menceritakannya sebagai prototipe toleransi.

Ilustrasi: Sufisme Njipangan, cara Syekh Jumadil Kubro mengakomodir Budaya Jawa dan Sufi Persia di Zawiyah Gunung Jali Jipang (source: Serat Selarasa, 1804)

Kata Akhiran “Leh” terbentuk dari sedimentasi “Lam” dan “Ha” — dua huruf keramat yang membentuk kalam Lillah (karena Allah) dan sikap Lileh (tawakal). Kata Akhiran “Em” terbentuk dari refleksi keramat huruf “Mim” yang dalam tasawuf, mempunyai semiotika istimewa: simbol ketundukan manusia menuju maqom “muqorobbin”.

Sementara Kata Sifat “modot” merupakan konsep Tahadduts Bin Ni’mah: upaya menceritakan nikmat Allah kepada orang lain secara amat jelas dan gamblang. Kata sifat “modot” ini gambaran dari kultur sufisme yang bermuara pada firman Allah: “Wa amma bini’mati Rabbika Fahaddits”.

Kata sifat “modot” hingga sufiks “Leh” dan “Em”, adalah cara Para Wali Njipangan mengajak masyarakat bersaksi atas kebesaran Allah secara halus. Dakwah menggunakan “lughah” adalah cara memperkenalkan Islam di tengah budaya Hindu-Budha yang waktu itu sangat kuat dan dominan.

Secara sosio-kultur-religius, Masyarakat Njipangan ahli membumikan perkara langit sebagai perihal sosial. Ini terdeteksi sejak Syekh Jumadil Kubro membangun inkubasi Sufisme Jawi di Zawiyah Gunung Jali pada abad 14 M. Di tempat inilah, tradisi Siwa dan Budha Jawa di-akomodir ke dalam Sufisme Islam secara halus.

Tradisi dan budaya ini mengalami puncak kebesaran pada abad 18 dan 19 M. Secara literatur, Biladi Jipang dikenal sebagai pusat tarekat. Pada masa ini, Biladi Jipang dikenal sebagai “simpul sanad” sejumlah tarekat muktabarah. Dari Syattariyah, Naqsabandiyah, Syadziliyah, Qodariyah, hingga Rifaiyyah pernah berpunjer di kawasan ini.

Masyarakat Njipangan masyhur tipikal santuy dan tidak kagetan. Saking santuynya kadang sulit diajak tepat waktu. Tapi sisi positifnya tidak mudah kaget terhadap perbedaan. Karakter ini tentu berakar kuat. Bahkan secara jelas dan ilmiah, Gus Dur menyebut kecenderungan corak psikologis ini sebagai prototipe Nusantara.

Secara antropologi-sosial, Masyarakat Njipangan identik kaum sufi yang berbudaya. Memiliki kedalaman ilmu agama, tapi lihai menjaga tradisi budaya. Ini membetuk ciri khas unik. Karakter Masyarakat Njipangan tidak vulgar dalam beragama. Sangat seimbang dalam tirakat dan bermasyarakat.

Masyarakat Njipangan juga lihai menyerap Bahasa Arab. Mengingat, wilayah Njipangan jadi pusat peradaban Islam sejak abad 14 M, dan mengalami puncak pada abad 18 M. Buktinya, kata “kojah” yang artinya bercerita, adalah serapan dari “hujjah” bahasa Arab. Kata “kojah” sangat khas kaum Tarekat di wilayah Tlatah Njipangan.

Kata “Kasep” juga tumbuh dari akulturasi budaya Arab dan Jawa di wilayah Jipangan. Istilah tekonem wes kasep (kedatanganmu sudah telat), adalah bagian dari penyerapan bahasa. Kata kasep muncul dari istilah Al Waktu Kassaifi (waktu ibarat pedang). Kassaifi yang terserap menjadi Kasep, populer sebagai bahasa Kaum Tarekat abad 19 M di wilayah Jipang Padangan.

Kata “Buwoh” juga identik Sufisme Njipangan. Dalam paradigma lughah, ia terbangun dari rangka Bismillah – Hu Allah. Yang kemudian ber-metamorfosis menjadi frasa Bi-Hu-Allah. “Bihullah”. “Bullah”. Kelak, dalam Bahasa Njipangan, dikenal istilah “Buwoh”. Sebuah kata yang berarti memberi karena Allah.

Kata “Kojah”, “Kasep”, dan “Buwoh” ini, mungkin sudah tersebar ke berbagai daerah. Ini sekaligus jadi bukti persebaran sanad keilmuan sejumlah Tarekat Muktabarah yang memang pernah berpusat di Tlatah Njipangan. Khususnya pada era Fiddarinur sebagai pusat pendidikan Islam periode 1800 M.

Akar Budaya Njipangan

Tradisi dan identitas masyarakat Njipangan tidak dibentuk kemarin sore. Tapi terbentuk sebagai sedimentasi peradaban Medang Kamulan, kerajaan kuno yang dikenal sebagai pilar Pulau Jawa. Dari Medang inilah, kelak melahirkan Tlatah Njipangan sebagai penguasa Bengawan yang selalu punya posisi kuat hampir di tiap zaman.

Secara geo-politik, Tlatah Njipangan adalah pewaris Medang Kamolan. Tempat Para Begawan yang secara urut dimuliakan Raja Dyah Baletung (Penguasa Medang), Raja Airlangga (Medang Kahuripan), Raja Wishnuwardana (Singashari), hingga Raja Hayam Wuruk (Majapahit).

Dalam konteks literatur, Raja Dyah Baletung memuliakan tempat ini dalam Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M); Raja Airlangga mencatatnya dalam Prasasti Pucangan (1041 M); Raja Wisnuwardhana memperkuat posisinya dalam Prasasti Maribong (1264 M), dan Raja Hayam Wuruk mencatatnya dalam Prasasti Naditira (1358 M).

Pada paruh awal abad 14 M (periode 1350 M), di kawasan ini Syekh Jumadil Kubro membangun Zawiyah Gunung Jali, ruang inkubasi Siwaism dan Brahmanism kedalam Sufisme. Zawiyah Gunung Jali masyhur dikenal sebagai ruang akomodir tradisi Hindu-Budha ke dalam Sufisme Islam secara damai.

Dalam segi bahasa maupun karakter, Tlatah Njipangan berbeda dengan Mataraman dan Suroboyoan. Perbedaan ini, sangat tampak jelas pada karakter manusia dan cara berbahasanya. Tlatah Njipangan punya pondasi budaya amat kuat, karena posisinya sebagai pusat Hindu-Budha (abad 10 M), dan punjer peradaban Islam (sejak abad 14 M).

 

Referensi Bacaan: ‎

HB. Sarkar (1959), Corpus of The Inscription; Roem Topatimasang (2016), Orang-orang Kalah; N Fauzi Rachman (2017), Panggilan Tanah Air; Rizkiawan (2024), Tarikh Padangan.

 

Tags: Bahasa JonegoroanBahasa NjipanganBudaya NjipanganMakin Tahu IndonesiaTlatah Njipangan
Previous Post

Melepas Pengerdilan Jipang, Memadamkan Percikan Dendam

Next Post

Sebuah Motif Ekonomi: Nagari Jipang Dikebiri, Bengawan Solo Dikuasai

BERITA MENARIK LAINNYA

Hakekat Lomba Agustusan dalam Kehidupan Sehari-hari
Headline

Hakekat Lomba Agustusan dalam Kehidupan Sehari-hari

17/08/2024
Islam Indonesia dan 7 Strata Masyarakat Nusantara
Headline

Islam Indonesia dan 7 Strata Masyarakat Nusantara

12/07/2024
5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu
Destinasi

5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu

07/05/2024

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Cairo International Book Fair, Upaya Mesir Menyalakan Buku

Cairo International Book Fair, Upaya Mesir Menyalakan Buku

19/01/2026
Diskusi Organik Lintas Komunitas Bojonegoro Terkait Sampah dan Pencarian Solusi Bersama

Diskusi Organik Lintas Komunitas Bojonegoro Terkait Sampah dan Pencarian Solusi Bersama

18/01/2026
Pasar Kota sebagai Ruang Transaksi Modern yang Humanis

Pasar Kota sebagai Ruang Transaksi Modern yang Humanis

17/01/2026
Limolasan: Memahami Esensi Universitas Kuno Asram Bramacari

Limolasan: Memahami Esensi Universitas Kuno Asram Bramacari

16/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: