Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Keramat Pande Keris Menurut Literatur Barat

Totok Supriyanto by Totok Supriyanto
30/03/2024
in JURNAKULTURA
Keramat Pande Keris Menurut Literatur Barat

Dari semua hasil metalurgi, keris merupakan benda paling terkenal di Jawa. Sehingga pembuatnya (pandai/pande), menempati posisi istimewa. 

Legenda Jawa kemudian menempatkan pembuat keris menjadi sangat istimewa dan diberkahi, sebagai pandai senjata magis, yang oleh kekuatan supranatural, mereka mampu membuat keris tanpa membutuhkan alat apapun, lutut mereka untuk landasan, dengan ibu jari dan jari-jari yang lain mereka mampu menakhukkan besi itu dan menguleninya sesuai bentuk yang diinginkan.

Barulah di awal abad 20 terdapat tulisan cukup gamblang dan lengkap bagaimana keris itu dibuat oleh pandai senjata. Tulisan itu datang dari seorang Isaac Groneman, yang tinggal di istana Keraton Jogjakarta sebagai dokter pribadi Sultan Hamengkubuwana VI, saat ia memesan 5 keris pada pandai keraton.

Sultan kemudian meminta kepada Groneman agar ia menyaksikan seluruh proses pengerjaan keris. Berita yang dibuat oleh Groneman merupakan sumber yang paling lengkap tentang pembuatan keris, tentang proses penempaannya dan terutama tentang pembuatan pamor telah ditulisnya secara berulang-ulang dan secara panjang lebar.

Peralatan pandai senjata dibedakan dari seorang pandai biasa, terutama karena banyak alat yang istimewa, yang diperlukan untuk membuat senjata yang rumit. Untuk teknik pembuatan pamor, dan untuk membuat bilah keris yang memiliki tekstur bergelobang dan juga bentuk meliuk-liuk.

Senjata yang seringkali rumit ini memang memerlukan peralatan istimewa. Banyak jenis pelandas, palu, tatah, ububan tabung, kikir, pemutar skrup, tongkat skrup dan tabung ububan adalah termasuk peralatan yang biasa.

Pamor disebut sebagai hasil suatu proses dimana baja dan besi yang mengandung nikel ditempa bersama. Di antara tiga lapis baja ( besi tempa tua atau baja), diselipkan dua lanis besi pamor, lima lapis itu ditempa menjadi tongkat panjang yang dipotong menjadi tiga bagian atau lebih, yang seringkali diputar seperti sekrup.

Semua potongan ini dipasang antara satu di atas yang lain dan ditempa secara kontinyu. Sebelum di tempa menjadi bentuk bilah keris, proses ini diulangi sehingga mencapai 50 bagian besi dan pamor. Kemudian baru memulai penempaan bentuk, sehingga bilah keris dan pegangannya mencapai bentuk terakhir.

Ternyata, sampai dengan proses ini, segala jenis pola pamor yang banyak jumlahnya, belum nampak pada potongan tempa. Untuk menampakkan pamor, bilah keris harus lama ditaruh seluruhnya di dalam cairan. Berjam-jam benda itu diulasi air jeruk, arsenik, atau amoniak, dicuci, digosok dengan abu, dicuci lagi dan dipoles. Sehingga dengan itu besi yang mengandung karbonat terbuang, sedangkan besi pamor hampir tidak tersentuh, menjadi lebih seperti relief dan tetap mengkilat seperti perak.

Seorang pandai senjata Jawa, menurut Raffles, juga menurut Groneman adalah empu yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi di masyarakat. Yang harus hidup terpisah sebelum memulai pekerjaannya , dan membawa sesajen, agar tidak gagal dan dapat memancarkan kekuatan dari dirinya.

Sesajen itu hanya dibawa pada hari pertama saat pembuatan keris, terdiri dari Tumpeng Robyong. Ialah tumpukan nasi yang berbentuk kerucut, yang berhias sejumlah lauk, sebagian sebagai perlambang bagian-bagian keris, tetapi sebagian lagi menggambarkan jeroan dari suatu roh jahat, yang setelah dibunuh oleh sesajen itu, tidak merugikan baik pandai maupun pekerja, maupun benda senjata yang akan dibuat.

Yang terpenting adalah bahwa orang-orang itu bekerja pada hari-hari yang baik. Karena itu dan dengan menunggu hari-hari baik dan banyak waktu yang dilewati, sebuah pekerjaan yang memakan waktu hanya  40 – 50 hari bila dilakukan secara terus menerus, dapat dikerjakan selama satu tahun penuh.

Tags: Makin Tahu IndonesiaPande Keris
Previous Post

Jejak Empiris Suku Kalang

Next Post

Asal Muasal Jabatan Bupati

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Ketika Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

Ketika Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

23/05/2026
TP PKK Kecamatan Sugihwaras Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga jadi Berkah, Dukungan Nyata Gerakan Perilaku Hidup Bersih

TP PKK Kecamatan Sugihwaras Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga jadi Berkah, Dukungan Nyata Gerakan Perilaku Hidup Bersih

22/05/2026
Industri Migas dan Pertanian Jalan Beriringan, Bojonegoro Tempati Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jawa Timur  

Industri Migas dan Pertanian Jalan Beriringan, Bojonegoro Tempati Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jawa Timur  

22/05/2026
Kesehatan: Equilibrium Inovasi dan Kebijaksanaan

Kesehatan: Equilibrium Inovasi dan Kebijaksanaan

21/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: