Kebudayaan yang terpatri dalam naluri, pikiran, dan tindakan masyarakat Bojonegoro, sejatinya memiliki DNA dan asal-usul yang dapat ditinjau secara kritis melalui analisa Cultural History.
Seorang sejarawan dengan sudut pandang Cultural History, pada dasarnya adalah seorang pejalan dan pencari, memeriksa dan mempelajari keyakinan dan gagasan masa lalu, terkadang bahkan seperti sejarawan intelektualitas masa lalu.
Maka selain tulisan-tulisan para pemegang kekuasaan dan karya-karya intelektual (prasasti, kajian artefak, sastra), sejarawan jenis ini akan mempertimbangkan pula gagasan (terkadang tidak tertulis) dari kelompok minoritas, kurang berpendidikan, dan kurang beruntung.
Hal ini tercermin dalam produk-produk budaya, terutama tradisi seni, juga mencakup objek dan pengalaman hidup sehari-hari, seperti pakaian atau masakan. “Kebudayaan” juga dapat menyiratkan kecenderungan sikap, asumsi, prasangka dan nilai sehari-hari, serta ritus dan praktik yang mengungkapkannya, mulai dari keyakinan akan magisme (mitos) hingga peran gender.

Dalam pengertian ini maka di Bojonegoro, kebudayaan yang terpatri dalam naluri, pikiran, dan tindakan masyarakat Bojonegoro sejatinya memiliki DNA, asal-usul, nenek moyang yang dapat ditinjau dan diperiksa secara kritis oleh analisa Cultural History.
Mudahnya, sejarah budaya adalah sebuah upaya untuk menghuni benak pikiran orang-orang dari dunia yang berbeda, yang dalam konteks ini adalah beda zaman. Perjalanan ini, dengan sendirinya akan mendebarkan hati, seperti larut dalam pembuatan karya-karya besar sastra Jawa itu. Hal ini juga sangat berharga untuk memikirkan kembali momen sejarah Bojonegoro sendiri.
Seperti udara yang kita hirup, konteks budaya yang membentuk pemahaman kita tentang Bojonegoro, seringkali tidak terlihat oleh kita yang sekarang ini mendiaminya. Tetapi sejarah budaya memungkinkan kita untuk mengambil langkah mundur, dan menyadari bahwa sebagian dari apa yang dianggap remeh adalah hal yang luar biasa.
Sebaliknya, sebagian dari apa yang pernah kita anggap sebagai menara gading “sejarah abadi” Bojonegoro, ternyata secara alami bergantung dan terbuka terhadap perubahan zaman.







