Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Seni Menunggu Mahasiswa Kerjakan Ujian yang Sudah Mulai Langka

Usman Roin by Usman Roin
06/01/2025
in Cecurhatan
Seni Menunggu Mahasiswa Kerjakan Ujian yang Sudah Mulai Langka

Menunggu mahasiswa mengerjakan ujian

Menunggu mahasiswa mengerjakan ujian secara langsung itu sesuatu. Hanya saja, seiring dengan teknologi informasi yang berkembang, hal itu langka dilakukan.

Bagaimana perasaan panjenengan sebagai pendidik –dalam hal ini dosen, kala menunggu satu mahasiswa menyelesaikan pengerjaan ujian akhir semester (UAS)? Banyak yang akan bilang “ngapain sebegitunya!” Selanjutnya, teruskan sendiri komentar lepas panjenengan semua.

Komentar sebagaimana yang saya sebutkan di atas wajar. Lain halnya bagi saya, perilaku “plaur” itu bisa menjadi pengalaman berharga. Agar, hal itu bisa saya ceritakan kepada anak, keponakan, saudara dan sebagainya. Termasuk kepada panjenengan semua.

Pada tulisan ini, yang ingin saya bagikan kepada panjenengan adalah menunggu mahasiswa yang susulan UAS secara langsung. Untuk mahasiswa yang mengikuti ada tujuh di satu kelas, dan 15 mahasiswa di kelas yang berbeda. Hingga akhirnya, tinggal satu mahasiswa yang setia saya tunggu meski waktu telah selesai.

Biar tidak jenuh, selama menunggu, saya gunakan untuk menulis catatan harian. Yakni, mengenang apa yang baru saja saya lakukan. Bagi saya, rekam kejadian yang telah berlalu itu penting. Dan bukti, saya menghargai diri dengan menulis.

Apalagi, menurut Bambang Trim (2018:21), sesuatu yang telah kita lakukan, itu bisa menjadi potensi sumber tulisan. Jika demikian, menuliskan hal yang dekat, adalah cara efektif mudah menulis. Sebab, kita menguasai. Kita mengalami. Dan kita mengerti detailnya.

Luring vs Daring

Bicara UAS luring versus daring tentu saja berbeda. Sedikit asumsi yang bisa saya sampaikan, bilamana ujian daring itu dilakukan, “ada kemungkinan” internet menjadi alat bantu yang mujarab untuk menjawab. Kemudian pula, kala mahasiswa mengerjakan, parafrase akan luput dilakukan. Alhasil langsung comot –copy dan paste itu hal yang tidak terhindarkan.

Jika hal itu dilakukan, tentu seni berpikir akanlah hilang. Ia seperti menggadaikan kemampuan otak yang dimiliki dengan alat bantu berupa gadget. Sehingga kemungkinan jawaban yang disampaikan it’s okey benar, baik, dan logis, oleh sebab hasil pengambilan dari sumber internet. Bukan dari kemampuan otak hasil dari proses belajar yang sebelumnya telah dilakukan.

Belum lagi –tidak diparafrase, sebagaimana saya sampaikan di atas. Bagaimana mau parafrase bilamana cara instan saja bisa dilakukan! Tentu, cara-cara tersebut memungkinkan dilakukan. Bukan bermaksud untuk su’uzon! Tetapi berdasarkan asumsi yang ketika saya lakukan riset kecil, hal itu sempat dilakukan.

Menjadi berbeda, bila kemudian UAS itu dilakukan secara langsung di kelas. Pertama, dosen bisa melihat kesungguhan mahasiswa. Dalam arti, kesungguhan untuk hadir tepat waktu di ruang ujian sebagaimana telah ditentukan.

Sampai-sampai, kala ada mahasiswa yang datang “terlambat”, dari waktu yang telah saya tentukan, setelah sebelumnya saya kasih waktu toleransi keterlambatan, saya minta untuk mengikuti UAS susulan dengan hari dan waktu yang berbeda.

Mengapa hal itu saya lakukan? Dan apa tidak memboroskan waktu!

Terhadap pertanyaan yang pertama, hal itu saya lakukan dalam rangka memberi pesan tersirat urgensi waktu. Artinya, bilamana sudah ada ketentuan bila waktu ujian adalah pukul 09.00 Wib, mahasiswa bisa mempersiapkan lebih awal keberangkatan. Sehingga bisa hadir dalam ruang ujian tepat waktu.

Kemudian, tidak ada lagi alasan karena rumah jauh sebagai misal sehingga membuatnya terlambat. Toh bila dipersiapkan awal dengan perkiraan jarak tempuh –rumah-kampus, keterlambatan insya Allah bisa diminimalisir.

Selain untuk melatih kedisiplinan diri, juga sebagai upaya memberi pengalaman mental diri, yakni sungguh-sungguh dalam berusaha. Artinya, UAS yang ada bukan sekadar penggugur tugas. Melainkan evaluasi yang digunakan untuk mengukur hasil belajar selama satu semester.

Kemudian terhadap pertanyaan kedua, memang secara kasat mata memboroskan. Tetapi sekali lagi, ada pesan yang tersirat bila di situ ada ruang dialog –dosen-mahasiswa, untuk komitmen memperbaiki diri. Artinya, saya masih memberi kesempatan “yang sama” kepada mahasiswa untuk mengerjakan UAS dengan skema luring, sama seperti mahasiswa lain yang datang tanpa terlambat.

Kedua, bisa menjadi bahan tulisan. Bahan tulisan yang dimaksud, adalah tulisan yang ringan, dekat, dan terjadi pada diri kita. Peristiwa yang saya lakukan di atas, sekaligus untuk menunjukkan kepada panjenengan semua, bila menulis itu bisa dimulai dari hal-hal remeh dan yang kita alami.

Jika demikian, ide tulisan itu perlu diciptakan dan bukan dicari. Menurut Fajar Junaedi (2017:30), bahwa ide tulisan itu tidak muncul dengan tiba-tiba. Tetapi, ide tersebut hasil dari proses kreatif. Jika demikian, ide kreatif harus diciptakan dengan mengalami secara langsung, untuk kemudian tanggap (respon) dengan peristiwa yang terjadi di sekeliling kita sekecil apapun dirangkai menjadi tulisan yang bermakna.

*Penulis adalah Dosen Prodi PAI, Fakultas Tarbiyah, Unugiri.

Tags: Catatan DosenMahasiswa
Previous Post

Dosen Unugiri Beri Penerapan Teknologi Augmented Reality, dalam Pembelajaran PJOK di SMAN MT Bojonegoro

Next Post

Spiritualitas Resi Subali

BERITA MENARIK LAINNYA

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro
Cecurhatan

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

13/06/2026
Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)
Cecurhatan

Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

12/06/2026
Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah
Cecurhatan

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026

Anyar Nabs

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

13/06/2026
Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

12/06/2026
Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: