Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
13/06/2026
in Cecurhatan
Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

Hikmah Pencurian (19)

Senja telah tiba. Dalam hitungan menit, bergeser dengan kecemasan khas semesta: kegelapan. Pun Kota Lyon diselimuti awan hitam yang menyeruak. Di gerbang sebuah penginapan (Auberge), tampak seorang lelaki turun dari punggung kudanya.

Edouard Perrichon nama orang itu, acapkali dipanggil Ed Monsieur, pedagang dari Beaune yang baru pulang ekspedisi dari Vienne. Guratan wajahnya tampak legam, tapi kemerah-merahan akibat ditempa perjalanan jauh. Kedua bola matanya jelas menyimpan jenis kelelahan yang hanya dipahami para pengelana. Ya, hanya pengelana.

Edouard menatap tajam penginapan antik di hadapannya—sebuah bangunan klasik berlantai dua dengan dinding menggunakan bata merah yang dilapisi plester semen (crếpis). Halamannya luas, terbuka, dilengkapi pula dengan tambatan kuda yang menjulur dari timur ke barat.

“Kita istirahat di sini, sobat,” bisik Edouard pada kuda berwarna hitam dari jenis anglo norman, sambil menambatkan tali kekang hewan itu. Sejurus kemudian Edouard melangkah masuk, menuju La Salle Commune (ruang makan bersama) yang tampak ramai dengan kedua pintunya yang sedikit terbuka. Ia segera memesan kamar sembari meminta bartender untuk menyediakan sebotol wine segar demi memulihkan sisa-sisa energinya yang terkuras.

Sepanjang kedatangannya, Edouard tidak tahu—dari kejauhan—sepasang mata sedang menyala, ganas, melihat semua gerak-geriknya. Seseorang telah mengintai Edouard sejak lalu, sejak tapal kuda pertama memasuki batas penginapan dan jalan raya. Seorang pencuri, bukan yang lain. Begitu Edouard hilang di balik pintu kamar penginapan, dengan gerakan secepat terkaman leopard, si pencuri buru-buru melepaskan ikatan tali Kuda dari tambatan. Kuda milik Edouard kemudian dituntunnya menjauh, disembunyikan di sebuah kandang pengap tak jauh dari penginapan.

Alih-alih pergi menjauh, Si pencuri itu justru kembali lagi ke depan penginapan, duduk dengan tenang di depan meja panjang yang dilapisi seng sambil menyulut sebatang rokok, seolah-olah bagian dari para tamu.

Tidak lama kemudian, Edouard keluar—teringat barangnya yang tertinggal di pelana kuda. Namun, keterkejutan segera menghampirinya begitu ia sampai di tambatan kuda. Pun Si Pencuri batuk-batuk kecil sambil berjalan pelan menuju halaman, pura-pura menghampiri Edouard.

“Pak, lihat kudaku?” tanya Edouard pada pencuri, suaranya bergetar antara cemas dan tidak percaya.

Orang yang ditanya hanya tersenyum tipis. Senyum penuh teka-teki, semacam tipikal karakter yang gemar mempermainkan orang.”Oh, aku tidak tahu. Emang, tadi kau mengikatnya di mana?”

“Di tambatan ini, tepat di bawah pohon Porisol itu Pak!”

Si pencuri mengembuskan asap rokoknya ke udara, menatap pucuk pohon dengan takzim.”Ah, kalau begitu, barangkali kudamu sudah dimakan pohon Porisol itu.”

“Mana mungkin pohon bisa memakan kuda?!” teriak Edouard, mukanya memerah. Logikanya berontak.

“Kenapa tidak bisa?” balas si pencuri, nadanya datar, dingin. “Dunia ini sudah gila, Kawan. Tanah memakan kapal manusia setiap hari, laut menelan-kapal besar. Mengapa kamu begitu sombong dengan menganggap pohon ini tidak bisa lapar dan lantas memakan kudamu?”

Perdebatan pun terjadi. Itu bukan lagi soal kehilangan kuda, melainkan pertarungan dua isi kepala. Yang satu mempertahankan realitas, yang satu merayakan absurditas. Hari itu, kebenaran sedang diseret ke sana kemari di atas tumpukan argumentasi yang berdebu.

Suara keduanya sama-sama meninggi, membelah kesunyian malam, hingga memancing perhatian banyak orang. Tak lama kemudian keluar Jerome Valois, tukang kebun di penginapan tersebut. Dengan terbata-bata, ia menyeret kedua kaki rentanya, segera menghampiri Edouard dan si pencuri. Meski berprofesi sebagai tukang bersih-bersih pada penginapan La Pomme de Pin, reputasi Valois tak perlu diragukan. Ia dikenal luas di seantero kota Lyon sebagai orang bijak. Semacam filsuf jalanan yang tak masuk dalam sejarah ilmu pengetahuan.

“Ada apa ini? Mengapa kalian merusak kesunyian malam dengan keributan yang tidak berguna?” tanya Valois setengah membentak.

Mereka berdua kemudian berebut bicara, saling melontarkan argumen masing-masing seperti melempar batu ke dalam sungai. Dengan seksama, Valois mendengarkan keduanya. Wajahnya tampak tenang, bak seorang maha guru yang sudah kenyang melihat drama kemanusiaan yang kian absurd.

“Aku sudah bosan mendengar masalah remeh-temeh seperti ini,” kata Valois, suaranya tiba-tiba berubah berat. “Tempo hari, ada orang yang datang berteriak-teriak kepada saya, mengadu bahwa laut di selatan sedang terbakar hebat. Maka, karena aku orang yang peduli, aku pun memikul berkarung-karung jerami dan melemparkannya ke tengah laut untuk menyampaikan apinya.”

Suasana hening sesaat.

Si pencuri kuda terbelalak. Sisi logikanya yang paling dalam tiba-tiba terusik oleh retensi hakiki yang dilontarkan Valois. “Kau bohong, Kau sudah terlalu pikun pak tua! Mana mungkin laut bisa terbakar, dan mana mungkin jerami bisa menumpuk api? sejak kapan jerami bisa digunakan untuk menyalurkan api? Itu tak lebih omong kosongmu belaka!”

Tepat di titik itu, si kakek tiba-tiba menyunggingkan senyumnya. Sebuah senyuman kemenangan yang teatrikal.

“Kau juga berbohong, anak muda!” seru kakek Valois, telunjuknya mengarah tepat ke hidung si pencuri dengan tajam, menembus kedalaman sanubari. Suaranya menggelegar.”Mana mungkin pohon bisa memakan kuda? Jika kau tahu laut tak bisa terbakar, maka kau pasti tahu bahwa pohon itu tidak punya gigi untuk mengunyahnya. Jadi, telan kembali air liurmu, hentikan sandiwara konyolmu ini. Kembalikan kuda itu kepada pemiliknya, jika kau tidak ingin beberapa jam lagi Sergent de Ville segera menjemput dan menjebloskanmu ke penjara!”

Kata-kata itu menghantam seperti palu godam. Di bawah langit malam, kebohongan si pencuri terbuka lebar. Telanjang bulat. Logika absurd yang ia bangun untuk menipu Edouard justru berbalik menjebak dirinya sendiri.

Pencuri itu tertunduk. Ada rasa malu yang menjalar hingga ke tulang iganya. Di hadapannya, sebuah kebenaran yang disampaikan lewat cara yang tak terduga. Tidak ada lagi metafora, tidak ada lagi retorika yang bisa menyelamatkan si pencuri. Ia berbalik, berjalan gontai menuju kandang, dan menuntun kuda itu kembali kepada Edouard.

Pada akhirnya, sekreatif apa pun manusia mengarang dusta, ia selalu memberi celah kebenaran untuk menemukan jalannya sendiri. Mungkin, kebohongan bisa berlari cepat, tetapi kebenaran memiliki napas yang lebih panjang untuk memenangkan perlombaan. Wallahu a’lam.

Tags: Humor dan Hikmah Santri
Previous Post

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah
Cecurhatan

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future
Cecurhatan

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori
Cecurhatan

Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

09/06/2026

Anyar Nabs

Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

13/06/2026
Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

09/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: