Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pancaroba Nusantara: Perbincangan Empu Etnografi Indonesia

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
10/02/2025
in JURNAKULTURA
Pancaroba Nusantara: Perbincangan Empu Etnografi Indonesia

Perbincangan buku Pancaroba Nusantara

Menyimak para Empu Etnografi Indonesia memperbincangkan buku Pancaroba Nusantara.

Pak Toto Rahardjo mengirim pesan pribadi pada saya. Beliau meminta saya menyimak dan mencerna sebuah perbincangan dalam diskusi buku Pancaroba Nusantara — buku melegenda yang disemat sebagai buku wajib para Pegiat Lapangan. Pancaroba Nusantara merupakan buku saku yang telah dibaca para “Pengawal Perubahan” dari zaman ke zaman.

“Riz, coba dicerna sukur2 bisa coba kamu refleksikan dalam tulisan” begitu pesan pendiri Kiai Kanjeng tersebut pada saya (8/2/2025). Membaca pesan itu, saya pun bersegera menyimak.

Dalam perbincangan dihelat di Resto Perdjamoean Kaliurang Jogjakarta itu, hadir Pak Roem Topatimasang, Pak Toto Rahardjo, dan Pak Noer Fauzi Rachman. Sementara Pak Ahmad Mahmudi, satu di antara penulis buku Pancaroba Nusantara, tak ikut serta dalam frame perbincangan. Saya mengenal nama-nama di atas sebagai guru-guru saya, masyayikh (para tauladan) bidang perubahan sosial Indonesia.

Bagi saya secara personal, Pak Mansour Fakih (almarhum), Pak Roem Topatimasang, Pak Toto Rahardjo, Pak Ahmad Mahmudi, dan Pak Noer Fauzi Rachman adalah peletak dasar intelektualitas kerakyatan di Indonesia. Saya mengenal beliau semua sebagai para guru kerakyatan dari lembah Kampus Perdikan, sebuah kampus partikelir di utara Jogjakarta.

Pak Noer Fauzi Rachman (Om Oji) sering mengingatkan saya: siapapun yang mampu membuat inovasi sosial dengan tetap menjaga nilai luhur, dalam skala apapun, adalah Empu. Sebab, maMPU dan muMPUni melakukan tugas itu. Dengan definisi yang sama, buku Pancaroba Nusantara tentu ditulis para Empu Etnografi Indonesia.

Jauh sebelumnya, Om Oji pernah menugasi saya membaca buku Pancaroba Nusantara dengan membuat resensi berbasis bibliografi beranotasi cukup ketat. Tugas itu saya selesaikan secara maraton selama 3 hari dengan menghasilkan naskah panjang berjudul Panen Pengetahuan Lokal Genius di Lapangan. Naskah panjang itu, adalah sanad pertama saya dari Om Oji, dalam rangka memahami etnografi.

Dalam kaidah etnografi, Om Oji sering berpesan pada saya untuk memperkuat kepekaan inderawi di lapangan. Sebab, dimensi lapangan selalu memberi lebih banyak data dibanding ruang pustaka. Kepekaan inderawi itulah yang saya saksikan saat pertama kali membaca buku Pancaroba Nusantara. Sebuah kepekaan membaca gelagat manusia, dari bermacam diagnosa.

 

Masyayikh Perdikan: Pak Toto, Pak Mahmudi, Pak Roem, dan Om Oji.

Etnografi merupakan metode penelitian dalam mempelajari budaya suatu kelompok masyarakat. Metode ini dilakukan dengan cara mengamati dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dalam proses pengamatan itu, melahirkan dokumen sedimentasi perubahan sosial yang dikenal dengan dokumen etnografi. 

Baca Juga: Bhinasrantalokapalaka: Bojonegoro Laboratorium Nusantara 

Buku Pancaroba Nusantara merupakan “buku cerita” yang memberi penjelasan tentang bagaimana cara menyelam, membaca, menganalisa, dan merekam perubahan-perubahan yang terjadi pada sebuah entitas sosial masyarakat, dalam skala waktu tertentu. Meski dipenuhi kaidah metodologi, buku ini istimewa karena ditulis seperti sedang “bercerita” secara langsung pada pembaca.

Rekaman perubahan-perubahan itulah, yang disebut sebagai dokumen etnografi, sebuah dokumen penting yang dibuat para etnograf sebagai bukti adanya perubahan sosial. Buku Pancaroba Nusantara, secara umum, menunjukan teknik dan metoda untuk membuat dokumen etnografi.

Buku Pancaroba Nusantara memberi tauladan pada para Pegiat Lapangan untuk tak hanya menjalankan program. Sebab, jika hanya itu yang dilakukan, sama seperti robot sosial yang menyelesaikan prompt sesuai pesanan. Karena itu, selain menyelesaikan program, Pegiat Lapangan harus bisa mengolah hasil amatan.

Menurut saya, buku Pancaroba Nusantara memberi pemahaman penting bahwa seorang Pegiat Lapangan, bukanlah “pengkhotbah akademik” yang bertugas memberi setoran informasi. Tapi “tanah berkapur” yang menyerap air. Mata yang telaten mengamati. Telinga yang sabar mendengar. Dan hati yang mau memahami.

Dalam perbincangan di Resto Perdjamoean Kaliurang itu, Pak Roem Topatimasang, Pak Toto Rahardjo, dan Pak Noer Fauzi Rachman menjelaskan betapa pentingnya kemampuan mengolah dan mengabadikan amatan. Sebab, dari sulur-sulur amatan itulah, dokumen bernama hasil etnografi itu bisa disusun dengan baik.

Pancaroba Nusantara

Pak Roem mengatakan, para Pegiat Lapangan harus punya kemampuan analisis sosial. Kemampuan ini menjadi bagian mendasar dalam kaidah etnografi. Tanpa kemampuan analisis sosial, para pegiat akan sulit memahami apa yang dilihat, disaksikan, dan dirasakan di lapangan sebagai bagian dari proses perubahan itu sendiri.

Dan untuk membangun kecakapan analisa sosial, kata Pak Roem, harus berdiskusi. Setidaknya berdiskusi pada masyarakat yang memiliki pengalaman tentang bagaimana proses perubahan sosial itu berlangsung. Dalam hal ini, orang-orang tempatan (masyarakat lokal) yang ada di wilayah tersebut.

Selain itu, para pegiat juga harus berdiskusi dengan para cendekiawan memiliki latar belakang pengetahuan di bidang tersebut. Artinya, para pegiat harus bisa memposisikan diri dan memahami ihwal kerangka pendekatan dan perspektif yang digunakan, saat menggali itu semua.

Perihal di atas, kata Pak Roem, akan menjadikan semua yang diamati para Pegiat Lapangan sebagai satu proses memahami: bagaimana kehidupan di suatu tempat itu sedang berlangsung. Baik tatanan masyarakatnya. Tatanan lingkungannya. Atau bahkan kehidupan sehari-harinya.

Menurut Pak Roem, beberapa tahun terakhir, ada kecenderungan kemampuan memahami dan mendialogkan realitas mengalami penurunan. Bahkan, tindakan mengubah realitas juga mengalami pengurangan secara metodologis. Karena itu, harus ada upaya untuk kembali meningkatkannya.

Senada dengan itu, Pak Noer Fauzi Rachman menyatakan, tanpa disadari, entitas sosial selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Belum tentu masyarakat memiliki rekaman perubahan itu. Di sinilah, etnograf bertugas membuat rekaman perubahan itu untuk masyarakat. Baik lewat tulisan, foto, maupun audio visual.

Perekaman, pendokumentasian, dan pengemasan rekam jejak perubahan sosial ini, menurut Om Oji, menjadi instrumen dan peralatan paling penting dalam rangka memahami masa lampau, menyigi masa kini, dan memprediksi gejolak fenomena masa depan.

Dokumen etnografi sangat membantu dalam meyakinkan bahwa ternyata, masyarakat ikut melakukan perubahan. Dokumen etnografi menjadi pelajaran penting sebagai “wujud” dari bagaimana perubahan itu berproses. Yang tentunya, bisa ditunjukan pada orang lain. Bahkan Om Oji menegaskan, dokumen etnografi bisa mempengaruhi kebijakan.

Sementara Pak Toto Rahardjo, sebagai moderator, menutup perbincangan dengan pesan mengena. Menurutnya, catatan etnografi adalah bonus. Dokumen etnografi adalah hadiah. Yang lebih penting dari sekadar bonus dan hadiah, tentu proses di lapangannya. Proses berdialektikanya. Berjumpa masyarakatnya. Sebab, tanpa itu semua, dokumen etnografi sekadar mimpi.

 

**

Tulisan ini bagian dari sedimentasi pembelajaran dalam program Study Luar Kampus bagi Pandu Perubahan (Suluk Pandan) yang dibina langsung Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjajaran Bandung, Noer Fauzi Rachman, PhD.

 

Tags: Makin Tahu IndonesiaPancaroba NusantaraPerdikan Jogja
Previous Post

Ketika Jurnaba Menyapa Lagi

Next Post

Berjejaring Kuat, 215 Ranting Meminta Suaeb Menjabat Ketua PC GP Ansor Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026

Anyar Nabs

Hukum atau Senjata?

Hukum atau Senjata?

02/05/2026
May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

01/05/2026
Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

30/04/2026
7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

29/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: