Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Generasi Hibrida NU Bojonegoro

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
15/02/2025
in Cecurhatan
Generasi Hibrida NU Bojonegoro

Logo Nahdlatul Ulama

Generasi Hibrida NU selalu lahir di tiap zaman. Baik sebagai pendengung visi masa depan, atau sekadar ornamen penghias ruangan.

Bojonegoro dikenal sebagai lembah intelektual Kaum Bersarung. Cukup banyak karya literatur para ulama berpemikiran progresif masih bisa dibaca hingga saat ini. Dalam kaidah budaya, Bojonegoro dikenal sebagai prototype wasathiyah, baik secara geografis maupun falsafah.

Kosmos Bojonegoro adalah titik penengah yang selalu bisa menengahi berbagai macam geliat peradaban. Sikap wasathiyah dan kecenderungan berada di tengah-tengah ini, menjadi nyawa bagi tulisan-tulisan Gus Dur di dalam sejumlah bukunya.

Amrullah Ali Moebin, adalah kawan pergerakan yang cukup sering berdiskusi dengan saya. Khususnya dalam rangka memperbincangkan prinsip wasathiyah dan sikap egaliter yang tertera di dalam esai-esai Gus Dur. Dulu hampir tiap malam kami menjadikan kamar kost sebagai laboratorium pengamatan, tempat di mana pemikiran Gus Dur itu diperbincangkan.

Dari perbincangan itu, mengantar kami berdua menggali referensi dari Manuskrip Padangan. Dokumen kuno memuat narasi luar-keraton itu, berisi catatan dari sudut pandang kerakyatan. Dari sana kami tahu bahwa simbol, gelagat, dan anjuran untuk bersikap wasathiyah, egaliter, dan anti-feodal memang sudah lama diajarkan.

Mayoritas masyayikh mengajarkan sikap egaliter sebagai ageman personal yang secara tegas menolak feodalisme. Baik feodalisme berbasis aristokrasi, maupun yang berkedok agama. Folktale Tanah Anti-Feodal, adalah sedimentasi ajaran masyayikh yang lestari hingga kini.

Di sini, Feodalitas dan Takdhimitas punya garis batas yang tegas. Feodal berhubungan dengan relasi-kuasa sosial politik. Takdhim berkait penghormatan pada orang tua dan guru. Feodal berorientasi pada kapitalisasi kuasa. Sementara Takdhim berorientasi pada kaidah Utul Ilma Daroja.

Suwuk Anti-Feodalisme: simbol Toleransi, sikap Wasathiyah, dan Determinasi Keilmuan (Manuskrip Padangan, 1820 M).

Diakui atau tidak, feodalisme menjadi gerbang masuk penjajahan, pembonsai dan pengkerdil khazanah ilmu pengetahuan. Para masyayikh melarang keras sikap tunduk pada kaum feodal, dalam rangka memperbesar diafragma tradisi keilmuan.

Amrullah Ali Moebin dan saya menyepakati satu hal penting. Bahwa apa yang tersurat dalam Manuskrip Padangan, bukan sekadar perlawanan pada narasi penjajahan. Tapi pembebasan dalam rangka memperluas dinamika ilmu pengetahuan.

Kaidah dekolonisasi yang ditulis pada abad 19 M itu, kelak seperti dilanjutkan para muasis NU pada abad 20 M, sebagai prinsip teologi pembebasan. Untuk kemudian, diteruskan Gus Dur melalui manhaj Islam Emansipatoris yang tertera pada bermacam tulisan esai di dalam buku-bukunya.

Masyarakat Bojonegoro, secara umum, adalah kaum anti-feodal. Sejarah mencatat, mereka tak pernah mau tunduk pada penjajahan model apapun. Maka bukan kebetulan jika kelak, masyarakat Bojonegoro dikenal memiliki determinasi cukup tinggi. Khususnya dalam membangun dan menyusun hegemoni keilmuan.

Hibrida NU Bojonegoro

Dalam konteks NU, Bojonegoro kerap melahirkan para pemikir progresif berskala nasional, yang membawa sikap anti-feodal; Dr. Maghfur Usman (alm), Dr. Mansour Fakih (alm), Dr. Budi Munawar Rachman, Dr. Adian Husaini, Dr. Rofi’ Usmani, Dr. Aboe Amar (alm), Dr. Noer Fauzi Rachman, dan lain sebagainya, lahir dari rahim NU Bojonegoro.

Beliau semua memahami dan mempertahankan kaidah Pegon Al Jawi, tapi juga mempelajari filsafat Barat sebagai bagian dari prinsip Ziyadatul Ilmi. Beliau semua berpegang Tongkat Aswaja, namun berkiprah menggunakan bermacam cara dan metoda.

Dalam spektrum santri, nama-nama di atas adalah para Kiai khowas. Sementara dalam spektrum akademisi, mereka adalah para Begawan yang tak hanya melahirkan inovasi, tapi mampu mengubah kebijakan pada level tertinggi, dengan langkah yang mungkin amat sunyi.

Dalam buku Kultur Hibrida: Anak Muda NU di Jalur Kultural (1999), Hairus Salim dan Muhammad Ridwan memberi ilustrasi dengan menyebut tokoh-tokoh NU dengan karakter dan pembawaan sikap seperti di atas, sebagai entitas Hibrida. Buku itu menyebut, Hibrida merupakan generasi muda NU yang memilih tekun bergiat di jalur kultural — para pesuluk yang menolak menjadi komoditas transaksional.

Generasi Hibrida berorientasi pada pengembangan dan pembangunan masyarakat sipil secara gradual, menumbuhkan sikap pluralisme, menghormati demokrasi, serta bertujuan meningkatkan kemakmuran dan keadilan. Dan itu semua, merujuk pada kesadaran untuk tak berada di jalur politik partai yang lebih menjanjikan dan penuh kegemerlapan.

Akhol Firdaus menyebut generasi muda Hibrida NU dengan istilah Manhaj Santri Tepi Jurang — generasi yang “mengubur” polarisasi pemikiran antara Islam Modern vs Islam Tradisional. Di tangan generasi Hibrida NU, dua hal yang sering digoreng kaum ekstrimis ini menjadi lunak. Dua hal itu justru seimbang dan tampak lebih elegan.

Seperti namanya, Hibrida muncul dari kultur campuran. Mereka lahir dari Islam Tradisi yang tumbuh dengan spirit Islam Emansipatoris. Dan di saat bersamaan, berpikiran terbuka pada kaidah dekonstruksi Jacques Derrida, prinsip anti-kolonial Paulo Freire, arkeologi pengetahuan Michel Foucault, dan lain sebagainya.

Di Bojonegoro, generasi Hibrida NU menjadi entitas yang selalu hadir di tiap zaman. Mereka muncul dan akan berganti setiap saat. Mereka memahami inovasi dan mau menjaga tradisi. Memahami peta politik, namun tak bisa dijadikan komoditas politik. Serupa himpunan ronin yang bersenyawa antara satu dengan yang lainnya.

Hibrida NU berpihak pada kemajuan SDM dan pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka berpegang pada kaidah wasathiyah sebagai penyeimbang kosmos. Menjadi pendengung visi masa depan atau sekadar ornamen penghias ruangan — yang sesekali memperluas sudut pandang, dalam rangka membangun kesadaran.

Tags: Generasi Hibrida NU BojonegoroMakin Tahu IndonesiaNU Bojonegoro
Previous Post

Membayangkan Calon-calon Ketua PC IPNU IPPNU Kabupaten Bojonegoro Lahir Dari 5 Korcam

Next Post

Pelajar NU Bojonegoro Tetap Bersatu di Tengah Disrupsi

BERITA MENARIK LAINNYA

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan
Cecurhatan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum
Cecurhatan

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026

Anyar Nabs

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: