Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kedhung Kramat, Tanah yang Mengincar Rezim Amangkurat

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
06/09/2022
in Headline
Kedhung Kramat, Tanah yang Mengincar Rezim Amangkurat

Kedhung Kramat dikenal sebagai tanah anti-feodal yang mengincar Rezim Amangkurat dan para aristokrat jahat. Ia menjadi simbol pemangsa feodalisme  dari zaman ke zaman. 

Padangan Bojonegoro masyhur memiliki banyak khazanah Islam klasik. Wilayah dulu bernama Jipang Padangan itu, terdapat sejumlah hikayat sufistik. Satu di antara hikayat penuh ibrah adalah Kedhung Kramat, tanah yang memiliki sentimen khusus dengan para pejabat sombong dan jahat.

Hukum boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Tapi di Kedhung Kramat, hukum seolah tumpul ke bawah dan sangat tajam ke atas, khususnya pada  Londo Jowo Amangkurat. Ia masyhur wilayah egaliter yang anti-feodal, momok yang khusus mengincar kepala para aristokrat dan birokrat jahat.

Kedhung Kramat wilayah tak kasat mata yang menebas leher kesombongan aristokrasi manusia. Ia ramah pada orang kecil, tapi buas dan spesialis mengincar kepala pejabat yang sombong. Ia sudah jadi rahasia umum bagi masyarakat setempat. Bahkan menjadi semacam konsensus para ulama yang hidup di Padangan secara turun temurun, dari zaman ke zaman.

Kedhung Kramat, bermula sebagai respon atas kejahatan Londo Jowo yang jahatnya melebihi penjajah Belanda. Sikap jahat itu, terdeteksi sejak masa pemerintahan Rezim Amangkurat Mataram. Ini alasan tanah Padangan seperti punya sentimen khusus dengan Rezim Amangkurat.

Rezim Amangkurat seperti tak punya tempat di wilayah Padangan. Baik dari sisi pengaruh politik maupun kebudayaan. Begitu mendekat, langsung tersengat. Begitu memasuki, langsung ter-eksekusi. Ini alasan Rezim Amangkurat Mataram tak pernah bisa memasuki wilayah Padangan.

Buruknya sikap pegawai pribumi pada zaman Amangkurat, membuat para Sidi Padangan duko (marah besar) dan nyabdo bahwa tanah di tempat itu tak bisa dijajah para aristokrat dan birokrat jahat, khususnya pegawai-pegawai pemerintahan yang berafiliasi dengan Amangkurat Mataram.

Kedhung Kramat semacam tanah khusus yang dirajah para Sidi Padangan untuk mengincar kepala Londo Jowo. Ia seperti tak memperbolehkan Londo Jowo melintasinya. Kalaupun terpaksa melintas, harus menunduk. Sebab jika tidak, kepalanya akan ditebas keghaiban. Begitu cerita berkembang.

Kampleng Penceng menjadi istilah yang cukup populer di wilayah tersebut. Istilah ini menggambarkan eksekusi atas kesombongan aristokrasi. Konon, banyak entitas jin tak kasat mata yang spesialis mengincar dan ngampleng penceng kepala pejabat yang sombong.

Sejarah mencatat, Pada 1676 M, sebanyak 50 ribu pasukan Amangkurat II bergerak melintasi Bengawan mencari Pasukan Trunojoyo yang mereka anggap sebagai pemberontak. Sesampainya di selatan Tuban, 50 ribu pasukan itu dibabat habis oleh hanya 9 ribu Pasukan Trunojoyo. Kisah Pemberontakan Trunojoyo ini masyhur diceritakan berbagai buku sejarah.

Amangkurat II mungkin lupa, lintasan Bengawan yang mereka lewati adalah Kedhung Kramat, tanah yang dirajah khusus untuk ngampleng penceng Rezim Amangkurat. Praktis, sebanyak 50 ribu pasukan Amangkurat II itu kocar-kacir hanya dengan 9 ribu pasukan Trunojoyo. Kekalahan Amangkurat II membuat Pangeran Trunojoyo merebut kekuasaan tepat pada 1677 M.

Nama Kedhung Kramat kembali populer pada masa Perang Jawa (1825 – 1830 M). Tempat ini menjadi lokasi riyadhah Pasukan Diponegoro. Mereka berada di lokasi Kedhung Kramat untuk ber-tafa’ul dan ber-istifadhah dalam rangka menghadapi Belanda beserta Londo Jowo. Ini alasan Jipang Padangan dikenal sebagai basis Pasukan Diponegoro — markas utama Divisi Perang Malang Negoro.

Pada masa Penjajahan Jepang (1942 – 1945), nama Kedhung Kramat kembali populer sebagai latar berbagai macam cerita. Penjajah Jepang yang kerap meminta warga menunduk pada matahari, dipaksa harus merevisi tradisi. Alih-alih meminta warga menunduk pada matahari, tentara Jepang justru sibuk menundukkan kepala, menyelamatkan dirinya sendiri.

Jepang yang dikenal sangat kejam, harus rela memegangi kepala setiap kali melintasi Padangan. Banyak tentara Jepang yang dikampleng penceng akibat terlalu sombong. Banyaknya tentara Jepang yang memegangi kepala saat melintas di Padangan, membuat kawasan ini pernah masyhur sebagai “Tanah Pengincar Kepala”.

Pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949 M), nama Kedhung Kramat kembali populer. Ia dikenal sebagai lokasi penyepuhan senjata bagi para pejuang kemerdekaan, sebelum berangkat ke medan Perang. Serpihan tanah Kedhung Kramat jadi azimat dan rajah khusus yang dibawa para pejuang ke Medan Tempur.

Fragmen Kedhung Kramat

Kedhung Kramat berlokasi di sejumlah titik di Padangan. Membentang dari barat ke timur. Syekh Abdurrohman bin Syahiddin Alfadangi menulis tempat itu dengan istilah Kedhung Pakuncen. Tempat yang terkunci. Tanah penetral energi, yang tak bisa ditembus kejahatan aristokrasi.

Mungkin benar jika sabda tak mengenal kata oknum, sehingga simbol aristokrasi model apapun — entah baik entah jahat —  berada di lokasi itu, langsung terkena kampleng penceng. Terkena radiasi Idu Gheni. Sebab, kesombongan tak pernah bisa sembunyi di balik kata oknum.

Pada dekade 1960-1970, para pegawai Desa di wilayah itu tak ada yang berani memasuki jalan menuju kawasan Kedhung Kramat. Jika seorang pegawai diharuskan menemui warga yang berada di dalam kawasan, mereka harus memakai kentongan untuk memanggilnya dari luar gang. Sebab, tak berani masuk ke dalam.

Pada awal 1970-an, sepasukan polisi melakukan penangkapan terhadap para blandhong (pencuri) kayu. Entah sengaja atau tidak, para blandhong itu masuk wilayah Kedhung Keramat. Polisi memang bisa menangkap para blandhong. Tapi, tak lama kemudian, para polisi yang memasuki tempat itu, dipecat, dimutasi, dan banyak yang mati.

Pada dekade yang sama, seorang Pejabat Militer yang baru ditugaskan di desa itu, dengan sengaja menggelar acara pesta hiburan. Ini dalam rangka menentang cerita masyarakat. Tak butuh waktu lama, panggung ambruk diterjang angin. Tak lama setelahnya, si pejabat beserta keluarganya mati secara mendadak.

Kisah tentang para pegawai desa yang harus memakai kentongan untuk memanggil warga dari kejauhan, sekumpulan polisi yang dimutasi dan mati, hingga tentara yang mati pasca menggelar acara hiburan, sampai saat ini pun masih mudah didengar. Hampir tiap warga Padangan yang berusia sepuh, masih bisa bercerita terkait kisah-kisah itu dengan gamblang.

Tiap ada aristokrat atau birokrat yang hidup di kawasan itu, jika tidak wafat, dipecat, atau minimal turun pangkat. Begitu cerita yang masyhur terdengar hingga kini. Hikayat Kedhung Kramat hidup dari zaman ke zaman. Wilayah yang tak cocok pada aristokrat dan pejabat.

Saking masyhurnya, tiap birokrat atau warga yang diangkat menjadi pejabat, mayoritas akan pindah tempat atau pindah domisili atau pindah KK terlebih dahulu. Hal ini sudah menjadi tradisi khusus bagi masyarakat di kawasan tersebut.

Kedhung Kramat menjadi pilar penyeimbang, agar kekuasaan tak berani semena-mena. Itu alasan ia tajam dan buas pada para penguasa, tapi lembut pada orang-orang awam dan biasa. Ini alasan para aristokrat dan pejabat harus berpikir dua kali untuk berada di wilayah Kedhung Kramat.

Kedhung Kramat mungkin kini telah menjadi folktale waqila dan kisah legenda. Namun sampai hari ini pun, terbukti tidak ada PNS dan birokrat yang tinggal atau berada di sana.

Hikayat Kedhung Kramat memberi pelajaran penting bagi generasi saat ini, bahwa jika ditakdir menjadi pegawai atau pejabat atau aristokrat atau birokrat, untuk tidak pernah menyakiti hati masyarakat dengan berbuat semena-mena. Ia tak melarang siapapun menjadi pejabat atau birokrat atau pegawai pemerintah, tapi mengimbau siapapun yang kebetulan ditakdir menjadi birokrat, agar tak berbuat semena-mena.

Tags: Hikayat Tanah KeramatKedung PakuncenMakin Tahu IndonesiaSidi Padanganurban legend
Previous Post

Darussalam Kedungrejo, Serpihan Kenangan dan Proses Belajar Mengajar

Next Post

Sebuah Manaqib untuk Munir Said Thalib

BERITA MENARIK LAINNYA

Hakekat Lomba Agustusan dalam Kehidupan Sehari-hari
Headline

Hakekat Lomba Agustusan dalam Kehidupan Sehari-hari

17/08/2024
Islam Indonesia dan 7 Strata Masyarakat Nusantara
Headline

Islam Indonesia dan 7 Strata Masyarakat Nusantara

12/07/2024
5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu
Destinasi

5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu

07/05/2024

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: