Istilah Ngaostik merujuk pada sejumlah makna; mulai dari metode pembacaan teks, gerakan sistematis-ideologis, hingga subkultur berbasis kolaborasi.
Jika menulis adalah berbicara, maka, membaca adalah mendengar. Membaca buku, adalah upaya mempertajam indera “pendengaran” untuk bisa memahami berbagai macam pertanda. Dari hipotesa inilah, Ngaostik lahir sebagai sebuah metode pembacaan.
Menghidupkan susunan huruf mati, mendengar nyanyian buku, dan memahami simbol-simbol secara seksama, menjadi poin penting dalam Ngaostik — sebuah kegiatan menikmati buku dengan proses pembacaan “lebih lama” secara bersama-sama.
Metode ini mulai kami jalankan pada awal 2017 silam. Kegiatannya fokus pada membaca bagian dari sebuah novel atau cerpen secara sema’an (duduk melingkar, membaca sambung paragraf, dan saling menyimak satu sama lain). Setelah itu, masing-masing paragraf yang telah dibaca, didiskusikan bersama-sama.
Kami mencoba menyiasati kebiasaan membaca yang sebelumnya amat sunyi dan personal, menjadi lebih publik. Meski, publisitas kegiatan membaca itu, tak sedikitpun mengurangi kualitas esensi dari proses membaca. Dari sanalah metode Ngaostik ini kami gerakkan secara partikelir.
Ngaostik adalah perwujudan cita-cita kami untuk “mengawamkan” bacaan-bacan bagus dari berbagai belahan bumi pada masyarakat luas. Kami tak ingin literasi hanya berdiri di menara gading keangkuhan intelektual. Karena itu, ia harus dibawa ke aras akar rumput dalam rangka membangun Ngaositizen (masyarakat pembaca).
Dalam konsep Ngaostik, novel atau buku tak dibaca langsung habis. Namun, hanya dibaca 5 hingga 7 lembar di tiap pertemuan. Sementara pertemuan dilakukan tiap seminggu sekali. Metode ini dilakukan dalam rangka memperdalam dan memperluas paradigma tentang sebuah pembacaan.
Hunger (1890) karya Knut Hamsun, merupakan buku yang pertama kali kami baca berdasar metode Ngaostik. Buku yang tak lebih dari 300 halaman itu misalnya, butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Padahal, jika kami membacanya sendiri-sendiri, seminggu selesai.

Ngaostik adalah metode pembacaan teks. Sebuah cara membaca buku dengan pembacaan “lebih lama” secara bersama-sama. Melalui metode ini, kawan-kawan yang mayoritas adalah para “pelahap buku” secara cepat, berupaya memperpelan, mengatur, dan mengendalikan ritme pembacaan melalui pertemuan yang dilakukan tiap sepekan sekali.
Kegiatan Ngaostik biasa digelar di sejumlah ruang publik. Mulai tongkrongan ngopi hingga trotoar taman. Kegiatan yang digelar nomaden (berpindah-pindah), bertujuan memperluas dan memperlebar syiar membaca melalui keberadaan para Ngaositizen (masyarakat pembaca).
Ngaostik sebagai Gerakan Ideologis
Tradisi membaca buku harus diperkenalkan pada masyarakat secara langsung. Ini alasan kami menggelar Ngaostik di ruang-ruang publik. Selain itu, kegiatan yang digelar di ruang-ruang publik juga ditujukan untuk membangun mindset bahwa membicarakan ide dan gagasan bisa dilakukan di mana saja, termasuk tempat ngopi.
Baca Juga: Yargusec, Sosok Ghaib di Balik Eksistensi Ngaostik
Ngaostik berdiri di atas prinsip membaca adalah tongkat pegangan hidup. Ngaostik percaya bahwa kemampuan untuk telaten membaca, adalah cara terpenting untuk menjalani dan melewati bermacam spektrum zaman. Dalam kaidah yang lebih ekstrem, kami percaya bahwa “membaca” jauh lebih penting dan lebih utama dibanding “menulis”.

Ngaostik mengusung propaganda “membaca” di atas segalanya. Metode Ngaostik, tentu berupaya menjawab pertanyaan klasik yang berbunyi: “lebih penting mana menulis atau membaca?” dengan jawaban yang argumentatif, elegan, dan berlandaskan riset.
Ngaostik memaknai membaca sebagai proses mendengar, mengumpulkan, dan menyusun sebuah informasi. Dan dari susunan informasi inilah, argumentasi yang matang dan logis bisa terbangun secara gagah dan kokoh. Dari sini diketahui bahwa argumentasi (baik ucapan atau tulisan) yang baik dan matang, akan selalu terbentuk dari proses pembacaan.
Membaca, dalam kaidah Ngaostik, ibarat bukit berkapur yang menyerap air, menyaring, untuk kemudian mengeluarkan produk hasil serapan itu sebagai sebuah entitas baru. Berangkat dari filosofi bukit berkapur itu, Ngaostik memaknai membaca sebagai sebuah proses penyerapan energi, dalam rangka memproduksi energi baru.
Ngaostik memegang kaidah: baca dulu baru nulis, bukan nulis dulu baru baca. Sebab, Ngaostik percaya bahwa orang bisa menulis, karena ia pernah mengalami membaca. Dalam kaidah yang amat mendasar: orang harus bisa “membaca” simbol-simbol huruf terlebih dulu, untuk kemudian baru bisa “menuliskan” simbol-simbol itu.
Ngaostik meyakini, kemampuan mengkontekstualisasi hasil bacaan pada realitas, akan mengantar siapapun memiliki kepekaan di berbagai medium pembacaan. Sebab, membaca tak lagi sekadar teks. Tapi juga suasana, fenomena, hingga tentu, bermacam pertanda alam. Ngaostik percaya, semua kepekaan itu, dibentuk dari ketelatenan membaca teks.
Dengan tradisi membaca teks yang baik dan telaten, akan membentuk karakter pembacaan yang baik. Tak hanya membaca teks, tapi juga membaca realitas, membaca situasi-kondisi, bahkan membaca perasaan orang lain. Sebab, Ngaostik percaya bahwa tradisi membaca akan membentuk kecerdasan emosi dan kemampuan berempati.
Ngaostik mendapat dukungan dari banyak pihak. Sejumlah tokoh senior seperti Nirwan Ahmad Arsuka (alm), Sigit Susanto, Gol A Gong, Puthut EA, dan Makhfud Ikhwan mendukung gerakan Ngaostik. Bahkan, mereka juga pernah menyempatkan diri untuk menemui kami dalam kegiatan NgaostikFest.
Subkultur Ngaositizen
Ngaostik, dalam perkembangannya, bukan sekadar metode pembacaan teks. Tapi subkultur yang membentuk sebuah fenomena. Ia bukan bangunan, tapi atmosfer dan udara. Selain pertemuan mingguan, Ngaostik juga mengadakan agenda tiga bulanan bertajuk NgaostikFest. Sebuah acara kolaborasi seni kontemporer.

NgaostikFest menjadi tempat perjumpaan para Ngaositizen. Banyak simpul-simpul komunitas bertemu. Mulai Atasangin, Bojaksara, Angkringan Buku Emperan (ABE), Perpus Gatda, Guneman, hingga banyak nama lainnya melebur jadi satu, membangun Rumah Besar yang kelak dikenal Ngaostik.
NgaostikFest mengkolaborasi musik dan buku. Sekaligus menjadi ruang lebur antara sunyi dan syahdu: kesunyian membaca buku, dan kesyahduan mendengar lagu. Ngaostik mengkolaborasikan 4 unsur seni sekaligus; sastra, musik, teater, dan seni rupa, kedalam satu paket pertunjukan.

Tiap kali NgaostikFest diadakan, selalu hadir delegasi dari bermacam unsur kesenian; mulai sastra, musik, teater, dan seni rupa, untuk berpadu menampilkan sebuah karya tampilan dengan orientasi syiar literasi. NgaostikFest diadakan secara swadaya tanpa mengharuskan pengunjung bayar tiket.
Di NgaostikFest, para pengunjung boleh datang dengan membawa buku, membawa keluarga, atau bahkan cukup membawa niat di dalam hati saja. Yang jelas, di dalam venue NgaostikFest, terdapat lapak buku yang selalu jadi properti utama untuk ditengok dan dibaca bersama-sama.
NgaostikFest tak hanya didominasi aktivis literasi dan seniman, tapi juga didukung para edgy, kaum indie, hingga pegiat klandestin yang saling berbagi semangat literasi. Tak hanya itu, sejumlah delegasi dari komunitas literasi asal Tuban dan Lamongan juga kerap hadir untuk meramaikan acara.








