“Bersama Al-Musthafa aku hidup di dunia ini. Sejak pertama kali udara dunia ini memasuki rongga paru-paru-paruku.”
“Di mana ya, buku Ma‘a al-Musthafâ Saw.?” gumam itu meluncur pelan dari bibir saya, mengisi ruang sunyi di antara rak-rak buku yang berjejer rapi. Kemarin. Pandangan saya menyusuri deretan buku tentang Kanjeng Nabi Muhammad Saw., mencari satu judul yang telah lama menggelayut di benak saya.
Buku itu bukan tentang Gus Mus, atau lebih lengkapnya Gus Mustofa Bisri, meski judulnya serupa “Bersama al-Musthafa”. Buku yang saya cari ini adalah sebuah buku tentang perjalanan hidup sang Cahaya, Rasulullah Saw.
“Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga,” bisik saya, lega, saat mata ini menangkap sampul buku itu di antara tumpukan buku tentang sang Cahaya. Buku terbitan 1972 itu terasa seperti harta karun yang baru saja kutemukan. Napas saya pun terhela panjang. Melepaskan segala keresahan yang menggelayut.
Namun, apa yang membuat buku ini begitu istimewa?
Selain bobot isinya yang mendalam, buku ini ditulis oleh seorang ilmuwan Muslimah. Ya, seorang perempuan yang dengan pena dan pikirannya menelusuri jejak-jejak kehidupan sang Nabi. Menurut pengamatan saya, tak banyak sîrah nabawiyyah yang ditulis oleh ilmuwan Muslimah. Malah, dapat dihitung dengan jari. Sungguh, sebuah karya yang langka dan berharga.
Kini, mari kita simak sejenak alinea pembuka dari mukaddimah bukunya:
“Bersama Al-Musthafa aku hidup di dunia ini. Sejak pertama kali udara dunia ini memasuki rongga paru-paruku. Ayat-ayat Alquran, yang menjadi mukjizat baginya dan senantiasa dibaca ayahku, yang saleh dan tekun beribadah, dalam shalat wajib dan shalat Tahajjudnya, merupakan ayat-ayat yang pertama-tama menghiasi pendengaranku. Bersama datangnya cahaya fajar. Sementara pesan-pesan indahnya, bersama ayat-ayat mulia tersebut, merupakan bekal ruhaniah, yang mewarnai lingkungan keluargaku yang religius, sebelum aku mengenal dunia.
…Perjalanan hidupnya, yang indah dan sarat teladan, menjadi pedoman hidupku, sebelum jejak langkahku memasuki masa belia. Dan, madah-madah Nabawiyah dan kidung-kidung sufistik, merupakan senandung yang pertama-tama menghentak intuisiku dan menggetarkan nuraniku. Sejak pertama kali aku melangkah dalam meniti kehidupan ini.”
Kalimat-kalimat itu bagaikan aliran sungai yang bening, mengalirkan makna dan keteladanan hidup Rasulullah Saw. ke dalam relung hati yang paling dalam. Dan, kni, mari kita berkenalan dengan sang penulis, seorang ilmuwan Muslimah yang karya-karyanya telah menyentuh banyak jiwa.
Namun, sebelum itu, ada baiknya kita mengenal Hadiah Internasional Raja Faisal, atau King Faisal Prize, sebuah penghargaan bergengsi yang ia raih.
Anda tentu tahu Hadiah Nobel. Namun, bagaimana halnya dengan Hadiah Internasional Raja Faisal? Mungkin masih banyak yang belum familiar. Hadiah ini diberikan oleh King Faisal Foundation (al-Mu’assasah al-Malik Faishal al-Khairiyah), pertama kali pada tahun 1399 H/1979 M.
Awalnya, penghargaan ini diberikan kepada tokoh-tokoh yang berjasa dalam bidang pengabdian terhadap Islam, kajian keislaman, dan sastra Arab. Namun, seiring berjalannya waktu, cakupannya diperluas hingga mencakup bidang kedokteran (1401 H/1981 M) dan sains (1402 H/1982 M).
Setiap tahun, para calon pemenang diseleksi pada Januari/Februari, dan penghargaan diserahkan pada Maret dalam sebuah upacara megah di Riyadh, Arab Saudi. Hadiah ini tidak hanya berupa pengakuan. Namun, juga dana yang signifikan, sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi para ilmuwan dan tokoh dalam memajukan peradaban.
Nah, di antara para penerima Hadiah Internasional Raja Faisal, ada nama yang menonjol: Prof. Dr. A’isyah Muhammad Ali Abdurrahman, atau yang lebih dikenal dengan nama samarannya, Bint al-Syathi’ (Perempuan Pesisir).
Lahir di Dimyath, Mesir, pada 6 September 1913, Bint al-Syathi’ adalah putri seorang ulama lulusan Al-Azhar. Sejak kecil, ia telah akrab dengan dunia pendidikan, dimulai dari kuttâb (Taman Pendidikan Alquran) di kota kelahirannya. Minatnya pada dunia tulis-menulis mulai terlihat saat ia menempuh pendidikan di Kota Mansoura, dan kian berkembang saat ia melanjutkan studi di Kairo.
Kemudian, dengan nama samaran Bint al-Syathi’, ia menulis di berbagai media ternama seperti al-Ahrâm, Kaukab al-Syarq, dan al-Hilâl. Karyanya yang paling terkenal adalah disertasinya tentang kritik sastra terhadap karya Abu al-‘Ala’ al-Ma‘arri, Risâlah al-Ghufrân, di bawah bimbingan Prof. Dr. Thaha Husain, seorang pemikir kondang Mesir.
Selepas itu, sepanjang hidupnya, Bint al-Syathi’ tidak hanya menjadi guru besar di Universitas Ain Syams, Kairo. Namun, ia juga mengajar di berbagai universitas terkemuka di Timur Tengah, seperti Universitas Umm Durman di Sudan, Universitas Qarawiyyin di Maroko, dan Universitas Algiers di Aljazair.
Di sisi lain, Bint al-Syathi’ juga tetap menggeluti dunia tulis menulis yang telah ia bina sejak muda usia.
Sehingga, lewat goresan tangannya, hingga ia berpulang kepada Sang Pencipta pada Selasa, 11 Sya‘ban 1419 H/1 Desember 1998 M, lahir sederet karya tulis yang sebagian di antaranya telah diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa dunia.
Antara lain al-Qur’ân wa Qadhâya al-Insân, al-Tafsîr al-Bayânî li al-Qur’ân al-Karîm, al-Qur’ân wa Hurriyah al-Irâdah, al-Syâ‘irah al-‘Arabiyyah al-Mu‘âshirah, Nisâ’ al-Nabî, Tardîm Sayyidât Bait al-Nubuwwah, Qirâ’ah fî Watsâ’iq al-Bahâ’iyyah, al-Khunsâ’, dan ‘Alâ al-Jisr, Bain al-Hayâh wa Al-Maut: Sîrah Dzâtiyyah. Karena jasa-jasanya tersebut, akhirnya pada 1414 H/1994 M ia menerima Hadiah Internasional Raja Faisal di bidang Sastra Arab.
Bint al-Syathi’ memang bukan sekadar nama samaran. Ia adalah simbol keteguhan, kecerdasan, dan ketulusan seorang perempuan yang memilih untuk hidup dalam naungan cahaya al-Musthafa. Karyanya adalah lentera yang menerangi jalan bagi siapa pun yang mencari makna hidup dalam teladan Rasulullah Saw.
Bint al-Syathi’ kini telah pergi, meninggalkan dunia fana. Namun, cahaya yang ia tinggalkan tak pernah padam. Setiap kata yang ia tulis, setiap pemikiran yang ia torehkan, tetap hidup, mengalir seperti sungai yang tak pernah kering, menyirami hati dan pikiran generasi demi generasi.
Perjalanan hidup Bint al-Syathi’ adalah bukti bahwa ilmu pengetahuan bukanlah domain eksklusif kaum pria. Perempuan pun mampu berdiri tegak di panggung ilmiah, menghasilkan karya-karya yang menginspirasi dan mengubah dunia. Lewat karya-karyanya, ia telah membawa cahaya teladan itu ke dalam hati banyak orang. Kiranya langkahnya menginspirasi lebih banyak lagi ilmuwan Muslimah untuk terus berkarya, menebar kebaikan, dan mengukir jejak keabadian dalam sejarah peradaban Islam.
Selain itu, di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita teladani semangat Bint al-Syathi’. Mari kita hidup “Bersama al-Musthafa”, menjadikan Rasulullah Saw. sebagai pedoman dalam setiap jejak langkah kita. Sebab, dalam naungan cahaya beliau, hidup ini menjadi lebih bermakna, lebih indah, dan lebih abadi. “Bersama Al-Musthafa, kita bukan hanya hidup. Kita abadi dalam cahaya-Nya.”








