Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Memburu Malam Keagungan bersama Grand Syaikh al-Azhar ke-40

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
21/03/2025
in Cecurhatan
Memburu Malam Keagungan bersama Grand Syaikh al-Azhar ke-40

Syekh Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud

Telah Kami turunkan ia di Malam Keagungan.Tahukah kau, apakah Malam Keagungan itu? Malam Keagungan (adalah malam yang) lebih baik tinimbang seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Malaikat Jibril a.s.) turun di malam itu, dengan izin Tuhan Pelantan mereka. Untuk menjalankan segala perintah. Damailah Malam Keagungan. Hingga fajar pagi memancar. (QS al-Qadr [97]: 1-5)

Di tengah sunyi malam Ramadan, ketika langit diselimuti kegelapan yang pekat, seperti dikemukakan dalam ayat Alquran di atas, ada sebuah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Itulah Lailatul Qadar, malam yang dijanjikan Allah sebagai saat turunnya berkah, ampunan, dan ketenangan.

Namun, di manakah malam sarat berkah itu bersembunyi? Bagaimana kita dapat menemukannya? Bersama Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud, seorang ulama besar al-Azhar al-Syarif, Kairo, Mesir, yang dikenal sebagai “Sang Sufi Modern”, mari kita memburu Lailatul Qadar. Bukan hanya dengan mata dan telinga. Namun, dengan kalbu dan jiwa yang terjaga.

Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud (1328-1398 H/1910-1978 M) adalah Syaikh al-Azhar al-Syarif ke-40, seorang pemikir Muslim terkemuka. Juga, seorang penulis produktif yang karyanya telah menginspirasi beberapa generasi.

Lahir pada Selasa, 29 Rabi‘ al-Akhir 1328 H (10 Mei 1910 M) di Desa Abu Ahmad (sekarang Desa Salam), Bilbis, Provinsi Syarqiyah, Mesir, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dikenal dermawan dan penghafal Alquran. Nama lengkapnya adalah Abdul Halim bin Mahmud bin Ali bin Ahmad.

Sejak kecil, Abdul Halim Mahmud belia telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Ia memulai pendidikannya di Al-Azhar dan meraih gelar al-‘âlimiyyah (setingkat magister) dalam usia 22 tahun. Sehingga, menjadikannya lulusan termuda sepanjang sejarah al-Azhar al-Syarif.

Tak puas dengan pencapaiannya, Abdul Halim muda melanjutkan studi ke Universitas Sorbonne, Paris, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II. Pada tahun 1359 H/1940 M, ia meraih gelar doktor dalam bidang tasawuf di bawah bimbingan orientalis terkemuka, Louis Massignon. Disertasinya tentang al-Harits bin Asad al-Muhasibi, seorang tokoh sufi abad pertengahan, menunjukkan kedalaman pemahamannya tentang spiritualitas Islam.

Kembali ke Mesir, Dr. Abdul Halim Mahmud mengabdikan dirinya sebagai dosen, penulis, dan pemimpin spiritual. Pada tahun 1393 H/1973 M, ia diangkat sebagai Syaikh al-Azhar al-Syarif, posisi tertinggi dalam hierarki keulamaan di al-Azhar.

Selama masa kepemimpinannya, Syeikh Prof. Dr. Abdul Mahmud dikenal sebagai sosok yang membawa pembaruan dalam pendidikan Islam, menggabungkan tradisi keilmuan klasik dengan pendekatan modern, hingga wafat pada Selasa, 14 Dzulqa‘dah 1398 H (17 Oktober 1978 M) di Kairo.

Nah, Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud, dalam sebuah karyanya yang mendalam, mengajak kita untuk merenungkan hakikat Lailatul Qadar. “Malam itu”, menurut Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud, “bukan sekadar malam biasa.

Namun, pada malam itu pintu langit terbuka lebar, doa-doa diijabah, dosa-dosa diampuni, dan takdir manusia ditetapkan.” Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim mengingatkan kita bahwa Lailatul Qadar adalah hadiah terindah dari Allah kepada umat Nabi Muhammad Saw. Namun, seperti halnya harta karun yang tersembunyi, malam itu tidak mudah ditemukan.

Dalam salah satu tulisannya, Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim menulis, “Lailatul Qadar adalah malam yang tersembunyi. Bukan karena Allah ingin menyulitkan kita. Namun, ini karena Dia ingin menguji kesungguhan kita. Dalam beribadah.” Malam yang satu itu sengaja dirahasiakan. Dirahasiakan, mengapa?

Supaya bersemangat menghidupkan setiap malam Ramadhan. Bukan hanya menunggu di sepuluh malam terakhir.
Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud mengajarkan bahwa untuk menemukan Lailatul Qadar, kita tidak dapat hanya mengandalkan fisik kita saja. Kita perlu mempersiapkan kalbu dan jiwa kita.

Dalam berbagai karyanya, ia menjelaskan beberapa langkah utama untuk memburu malam mulia ini: Pertama, Taqwa: menjaga hati dari kotoran dunia. Taqwa adalah kunci utama. Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim menegaskan, kalbu yang lusuh dengan dosa dan kesombongan tidak akan mampu merasakan kehadiran Lailatul Qadar.

Ia mengibaratkan kalbu bagaikan cermin: jika berdebu, ia tidak akan dapat memantulkan cahaya Ilahi. Karena itu, sebelum memburu Lailatul Qadar, kita harus membersihkan kalbu kita dengan tobat, istighfar, dan meninggalkan segala yang haram.

Kedua, Ikhlas: menghidupkan malam dengan niat yang tulus. Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim mengingatkan bahwa ibadah tanpa ikhlas bagaikan tubuh tanpa nyawa. Dalam salah satu karyanya, ia menulis, “Amal yang sedikit tapi ikhlas, lebih baik daripada amal yang banyak tapi karena riya’.”

Karena itu, ketika kita menghidupkan malam-malam Ramadhan, niatkanlah semata untuk mencari ridha Allah Swt. Bukan karena mendambakan pujian manusia atau sekadar tradisi.
Ketiga, Khusyuk: menyelami makna setiap doa dan zikir. Khusyuk adalah keadaan di mana kalbu kita benar-benar hadir dalam beribadah.

Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim mengajarkan, doa dan zikir yang dilakukan dengan khusyuk akan membukakan pintu langit. Ia menyarankan kita untuk membaca Alquran dengan tadabbur, shalat Malam dengan penuh penghayatan, dan berzikir dengan kesadaran penuh akan kehadiran Allah Swt.

Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim juga menjelaskan tanda-tanda Lailatul Qadar, yang dapat kita rasakan jika hati kita bening. Dalam berbagai karyanya, ia menyebutkan beberapa tanda, antara lain: Pertama, ketenangan yang menyelimuti kalbu. Malam itu terasa berbeda. Kalbu kita dipenuhi ketenangan yang sulit dijelaskan.

Seolah, dunia berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi kehadiran Ilahi. Kedua, cahaya yang lembut. Meski matahari belum terbit, pagi setelah Lailatul Qadar kerap kali terasa cerah dan penuh berkah. Ketiga, mimpi yang jelas dan bermakna. Beberapa orang mungkin mendapatkan mimpi yang indah atau penuh hikmah sebagai isyarat bahwa mereka telah menemukan malam mulia itu.

Namun, Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim mengingatkan, “Jangan terlalu sibuk mencari tanda-tanda lahiriah. Sebab, Lailatul Qadar lebih tentang perubahan dalam kalbu daripada fenomena di luar.”
Jika kita merasa telah menemukan Lailatul Qadar, Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim menyarankan kita untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Dalam berbagai karyanya, ia memberikan beberapa amalan utama:

Pertama, memperbanyak doa. Doa adalah senjata utama. Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim mengutip hadis, “Barangsiapa berdoa pada Lailatul Qadar dengan penuh keyakinan, maka doanya akan dikabulkan.” Kedua, memohon ampunan. Lailatul Qadar adalah malam pengampunan. Perbanyaklah istighfar dan tobat.

Ketiga, membaca Alquran. Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim menekankan pentingnya membaca Alquran dengan tadabbur, merenungkan maknanya, dan menghayati setiap ayat. Keempat, melaksanakan Shalat Malam. Shalat Tahajjud atau Qiyamul Lail adalah ibadah yang sangat dianjurkan pada malam ini.

Selain itu, Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud mengajak kita untuk melihat Lailatul Qadar bukan hanya sebagai malam yang terjadi sekali setahun. Namun, sebagai cermin dari kehidupan kita. Ia menulis, “Jika Anda kuasa menghidupkan Lailatul Qadar dengan kalbu yang bening, Anda akan menemukan keajaiban dalam setiap malam Anda.”

Dengan kata lain, Malam Seribu Bulan ini mengajarkan kita tentang kesungguhan, keikhlasan, dan kedekatan dengan Allah Saw. Lailatul Qadar adalah hadiah bagi mereka yang bersungguh-sungguh mencari-Nya, membersihkan kalbu mereka, dan menghidupkan malam itu dengan penuh pengharapan.

Karena itu, mari kita memburu Lailatul Qadar bukan hanya dengan tubuh yang terjaga. Namun, dengan kalbu yang bening dan jiwa yang khusyuk serta menunduk seraya berdoa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِي فِيهِ صِيَامَ الصَّائِمِينَ، وَقِيَامِي فِيهِ قِيَامَ الْقَائِمِينَ، وَنَبِّهْنِي فِيهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِينَ، وَهَبْ لِي جُرْمِي فِيهِ يَا إِلَهَ الْعَالَمِينَ، وَاعْفُ عَنِّي يَا عَافِيًا عَنِ الْمُجْرِمِينَ امين

“Ya Allah, jadikanlah puasaku di bulan ini sebagaimana puasanya orang-orang yang benar-benar berpuasa. Juga, jadikanlah shalat malamku sebagaimana shalatnya orang-orang yang benar-benar melaksanakan shalat Malam. Bangunkanlah aku dari kelalaian orang-orang yang lalai, ampunilah dosa-dosaku, wahai Tuhan semesta alam, dan maafkanlah aku, wahai Yang Maha Pemaaf terhadap orang-orang yang berdosa, amin.”

 

**

Dengan disajikannya tulisan ini, usai sudah “Tadarus Bulan Ramadhan” ini. Kini, saatnya saya mohon pamit dan undur diri. Apabila dalam “tadarusan” pada Ramadhan 1446 H ini ada kekhilafan kata, kekeliruan pandangan, dan ketidaknyaman hati dan pikiran yang timbul karena “tadarusan” ini, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan, pada kesempatan ini, dengan akan hadirnya Hari Idul Fitri 1446 H, perkenankan saya dan keluarga menghaturkan “Selamat Hari Idul Fitri 1446 H. Kiranya Allah Saw. Menerima Puasa Kita dan Segala Amal Kita. Juga, Mohon Maaf, Lahir dan Batin. Salam takzim dari Bandung, Jawa Barat, Indonesia: Ahmad Rofi’ Usmani dan Keluarga.”

Tags: Catatan Rofi' UsmaniGrand Syekh Al Azhar ke-40Makin Tahu IndonesiaSyekh Abdul Halim Mahmud
Previous Post

Sawang Sinawang: Repertoar Visual dalam Pameran Seni Rupa

Next Post

Tolak UU TNI, Para Pemuda Bojonegoro Sosialisasikan Darurat Dwifungsi ABRI

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: