Menggugat diri sendiri untuk tetap berkarya dalam berbagai musim bencana.
Hujan memberkati aktivitas pameran seni rupa bertema ‘Sawang Sinawang’ yang berlangsung di warung kopi dan perpustakaan berbasis komunitas, Ndalem Garudeyan: Jl. KH.Moch.Rosyid. Rt/Rw, 01/01, Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander, Bojonegoro.
Pameran seni rupa ‘Sawang sinawang’ menyediakan waktu yang tidak seperti pada umumnya, yakni satu bulan penuh menjelang awal puasa Ramadhan, 24 februari – 12 april 2025.
Pameran ini menyajikan 30 karya berukuran kecil dengan mayoritas menggunakan medium kanvas ukuran 40×50 cm dan memilih cat sebagai material visualisasinya.
Fathurrahman Yakub aka Ayik dan Eko PY. Dua seniman Bojonegoro cukup matang dan konsisten dalam menjalani proses berkesenian pada medium seni rupa. Ayik merupakan pemilik warung kopi Ndalem Garudeyan dengan background otodidak, memulai proses berkesenian pada 1998 di usia SMP.
Ayik yang asli Bojonegoro itu, kemudian meneruskan studi formal dan otodidak seni rupa di sejumlah sanggar seni di Kalimantan dan Bali. Pengalaman belajar di sejumlah wilayah ini, tercermin pada wujud karyanya yang identik Nasionalisme Kultural.
Karya-karya Ayik Ndalem Garudeyan memang banyak membongkar tema feminisme dan konspirasi, ucapnya ketika ditanya di kediamannya yang juga sebagai tempat usaha serta lokasi pameran. Dengan Teknik seni lukis yang eksploratif dengan bermain tekstur dan alat yang tidak hanya kuas.
Ayik terbilang cukup mendalam dan focus mengungkap dan menyajikan bentuk figur realistik perempuan sebagai cara untuk bercerita pada 15 karyanya. Seperti bentuk salah satu karyanya, figur semar bersayap bulu putih menenteng buku tebal Madilog pada tangan kanannya.
Kita bisa membayangkan bagaimana Ayik cukup sibuk menkonversi cerita ke dalam bentuk/visual untuk kepentingannya dalam bertutur, dan cukup semiotis. Ayik yang juga aktif berhimpun dengan komintas baca di Bojonegoro.
Sementara Eko PY, adalah nama beken yang memulai karier berkesenian pada studi akademis 1992 di IKIP Surabaya. Pada 1993, ia pindah studi dan jurusan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, pada minat utama Seni Patung.
Pada 15 karya berukuran kecilnya, nampak sekali sisa studi patung selama bertahun-tahun di ISI Yogyakarta, goresannya tegas, jelas dan lugas pada saputan kuas dan aksen-aksen kanvas yang penuh corak warna pada bentuk anak-anak atau lebih dikenal dengan naif.
Eko PY banyak mengunggah figur-figur imajinernya yang lebih deformatif secara bentuk. Bisa jadi karena memang Eko PY selama sepulang dari Yogyakarta, cukup lama menggawangi sanggar seni Lukis anak-anak. Tema-tema social Eko PY cukup kental dan kompleks karena memang Eko PY cukup rajin berkelindan pada komunitas yang tidak hanya seni rupa namun juga teater dan musik.
Sampai hari ini pun, Eko PY masih setia memimpin kelompok Pasar Keroncong dikampunya, Ngroworejo. Dengan modal sosial yang kuat, Eko PY memindahkan ceritak ke dalam visual yang sekilas penuh keceriaan, namun cukup rentan dengan konflik.
Kedua seniman — Ayik Ndalem Garudeyan dan Eko PY — cukup kuat dan berhasil mengunggah visualisasi yang naratif kedalam satu kemasan pameran ‘Sawang Sinawang’ yang berlangsung cukup lama itu.
Secara penyajian, mereka berdua cukup terkonsep karena memang membaca ruang display dan psikologi ruang untuk di sesuaikan mulai dari ukuran karya dan Teknik penyajian agar tidak terlalu berjubel namun nyaman Ketika menikmatinya.
Dan yang lebih prinsipil lagi, penyajian pameran dengan warung bisa saling mengisi dan tidak saling mengganggu. Ayik dan Eko PY tidak terlalu risau dengan belum adanya tempat pameran yang mapan dan representatif di Bojonegoro. Justru, mereka berdua cukup eksploratif dalam memilih tempat pameran.
Dengan warung kopi sebagai media penyaji karya, pameran ternyata memang sangat bisa mendekatkan diri antara seni rupa dengan UMKM. Seperti yang sering terjadi di Bojonegoro, di mana seni tari, teater, hingga musik memang telah menjadi sarana pendukung UMKM. Mereka berdua seperti menggugat diri mereka sendiri untuk tetap berkarya dan kondusif dalam penyajian.








