Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

NgaostikFest 12, Membaca Alam Semesta

Bakti Suryo by Bakti Suryo
05/04/2025
in Peristiwa
NgaostikFest 12, Membaca Alam Semesta

NgaostikFest #12

NgaostikFest #12 jadi bukti bahwa Ngaostik tak pernah mati, ia bara yang terus menyala dengan rendah hati. 

NgaostikFest kembali hadir mengisi ruang udara Bojonegoro. Tepatnya pada Sabtu (5/4) sore dan malam, NgaostikFest digelar di Hela Coffe, Kauman, Bojonegoro. Ini NgaostikFest ke 12 kali, setelah tidur panjang. NgaostikFest digelar sebagai penutup libur panjang lebaran 2025.

NgaostikFest 12

NgaostikFest merupakan even literasi rutin di Bojonegoro. Wabil khusus para pegiat literasi dan pelaku seni. Event ini sudah berjalan sejak 2017. Namun, beberapa tahun silam, Ngaostik memilih tidur. Atau mungkin tidak sengaja ketiduran. Tepatnya, sebelum pandemi Covid-19 menyerang bumi.

Akhirnya, NgaostikFest #12 merasa harus dibangkitkan. Ini sebagai bentuk respon atas berbagai isu di Indonesia. Dengan mengusung tema “Baca Alam Semesta/Acab Mala Semesta”, NgaostikFest #12 mengajak kawan-kawan untuk membaca alam semesta sejenak. Di masa seperti ini, tradisi membaca sangat penting.

“Baca Alam Semesta/Acab Mala Semesta” bisa dimaknai sebagai sebuah metode pembacaan. Setiap kejadian alam pasti ada pertanda. Termasuk fenomena sosial, budaya, politik dan lainnya. Segalanya memiliki sebab-akibat. Ini bisa dipahami melalui analisis dan pikiran yang logis.

Ngaoskusi

Syahdunya senja di bantaran Sungai Bengawan menghadirkan nuansa yang dekat dengan alam. Seolah tanpa sekat dengan aroma kopi yang pekat. Sehingga, kegiatan bisa berlangsung begitu khusyuk dan khidmat. Hela Cafe sebagai lokasi tentu sangat tepat dan selaras dengan tema Ngaostik #12 itu sendiri.

Pentolan Ngaostik, Mohamad Tohir, dalam sambutannya menyatakan, Ngaostik sebagai makhluk hidup. Maksudnya, sebagai sebuah kegiatan non-profit, ia bisa hidup karena energi dan semangat dari para pegiatnya. Karena itu, ia sangat senang ketika menyaksikan NgaostikFest kembali diadakan.

“Ngaostik itu makhluk hidup” ucapnya.

Senada dengan Mohamad Tohir, Wahyu Rizky mengatakan bahwa Ngaostik adalah rumah besar. Tempat berkumpul para saudara dan keluarga. Menurut Rizky, mereka yang tak disatukan ikatan darah, disatukan ikatan hobi. Ngaostik memiliki rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang amat kuat.

“Ngaostik itu rumah, tempat kumpul para saudara” katanya.

Sementara itu Oki Dwi Kocin menambahkan, keberadaan NgaostikFest sebagai kegiatan rutin, memang menyatukan banyak pegiat dari berbagai disiplin bidang. Mulai musik, teater, seni rupa, dan sastra. Menurut Kocin, Ngaostik menjadi gambaran tentang apa itu harmoni.

“Ngaostik itu lagu, menjadi enak didengar karena perbedaan chord” ujarnya.

Seperti yang sudah-sudah, NgaostikFest #12 diisi dengan 3 Mata Acara utama. Di antaranya; Ngaoskopi (bersantai, menikmati lapak baca dan kopi), Ngaoskusi (duduk melingkar sambil berdiskusi), dan Ngaostage (perform apresiasi seni).

Di Ngaoskopi, ada lapak berbagai macam buku. Mulai dari buku kiri hingga religi, buku novel hingga essay. Tak ketinggalan pula buku anak dan komik. Jendela dunia ada semuanya dan bisa dibaca langsung. Gokilnya, secara gratis. Juga, boleh dipinjam untuk dibawa pulang. Tergantung kesepakatan.

Di Ngaoskusi, diskusi membahas peningkatan minat baca, ketersediaan buku bacaan dan aksesnya, produksi karya tulisan fisik maupun digital, serta  penyatuan simpul frekuensi antar komunitas. Serta, event lanjutan agar diskusi tak berhenti di meja kopi.

Ngaostage menjadi pncak acara. Tafsir dari nama Ngaostik: Ngaos dan akustik, membaca dan bermusik. Sajak atau puisi, lagu atau orasi, semua diperbolehkan. Yang dilarang hanyalah bersedih. Sebab, semua yang hadir di Ngaostik harus bahagia.

Kini, NgaostikFest #12 dihidupkan lagi sebagai makhluk astral. Makhluk tak kasat mata yang terdiri dari berbagai spirit komunitas. Mulai dari Bojaksara, Guneman, Perpus Gatda, Angkringan Buku Emperan dan banyak lagi.

Termasuk pelaku seni seperti seniman teater, sandur, dan musisi. Di NgaostikFest #12 juga hadir para penerus estafet Ngaostik, para kader-kader muda seperti Komunitas Jenggala.

Dengan kembalinya NgaostikFest, diharap atmosfer literasi kembali jadi perbincangan hangat. Minat baca dan tulis turut meningkat. Simpul komunitas juga semakin erat. Literasi bukan hanya kegiatan komunitas. Namun, jadi bagian dari budaya yang mampu menerangi kegelapan.

Tags: Makin Tahu IndonesiaNgaostikNgaostikFest
Previous Post

Menjaga Kebersihan Diri

Next Post

Bojonegoro Norwegia Van Java

BERITA MENARIK LAINNYA

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro
Peristiwa

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual
Peristiwa

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa
Peristiwa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: