Sejumlah pihak kerap menyebut Bojonegoro sebagai Norwegia Van Java. Berikut 5 data-fakta yang memperkuat penyebutan Bojonegoro sebagai Norwegia-nya Jawa.
Dalam sejumlah hal, Bojonegoro dan Norwegia memang berbeda, bahkan bertolak belakang. Namun, wajib diketahui: setiap titik tolak adalah titik temu. Tergantung bagaimana teknik membaca dan menarasikan perbedaan itu. Bojonegoro Norwegia Van Java, terbangun atas prinsip itu.
Boyolali mengklaim diri sebagai New Zealand Van Java, hanya karena memiliki produksi susu sapi sebagai khazanah lokal. Karimun Jawa mengklaim diri sebagai Caribbean Van Java, hanya karena berbentuk kepulauan. Bandung dikenal sebagai Paris Van Java, karena jadi pusat mode dan kreativitas.
Kota-kota itu, membangun brand atas dasar kemiripan dengan negara idola mereka. Tentu, itu perihal positif. Dengan teori, metodologi, dan landasan filosofis yang sama dengan kota-kota di atas, Bojonegoro juga punya kekuatan untuk “tafaulan” sebagai Norwegia Van Java.
Norwegia dikenal sebagai negara dingin di Eropa Utara. Norwegia, bahkan berstatus negara terdingin di Dunia. Sementara Bojonegoro dikenal wilayah bersuhu panas di Pulau Jawa. Bojonegoro, bahkan berpredikat sebagai wilayah paling panas se- Jawa Timur. Namun, sekali lagi, setiap titik tolak adalah titik temu.
Meski memiliki perbedaan ekstrem dalam hal suhu udara dan letak geografi, Bojonegoro dan Norwegia, justru punya keterhubungan dalam berbagai bidang. Mulai dari pengelolaan SDA, kultur, tradisi, hingga falsafah hidup.
Bojonegoro dan Norwegia terhubung pada berkah Sumber Daya Alam (SDA) cadangan Migas. Jika Norwegia dikenal sebagai negeri Pemasok Migas Eropa, Bojonegoro masyhur sebagai kota Penyangga Migas Nusantara.
Wajib diketahui, kemiripan Bojonegoro dan Norwegia bukan sekadar faktor hasil Migasnya saja. Ada banyak data-fakta hingga falsafah sosial yang seolah menyelaraskan, atau bahkan membangun hubungan ideologis antara Bojonegoro dan Norwegia.
1. Pengusung Sovereign Wealth Fund
Norwegia dikenal dunia sebagai raksasa Sovereign Wealth Fund (SWF) dunia. Norwegia mengusung konsep SWF dalam bidang pengelolaan Sumber Daya Alam atau Natural Resources Fund (NRF) di bidang Migas. Kebesaran Norwegia dibangun atas kebijaksanaan dalam mengelola sumber Migas.

Tak hanya sama-sama mengusung SWF. Bojonegoro dan Norwegia bahkan punya jenis SWF yang sama, yaitu Natural Resources Fund (NRF) di bidang Migas. Tentu, melalui komitmen Perda Dana Abadi Migas, Bojonegoro jadi kabupaten pertama di Indonesia, yang fokus mengelola NRF bidang Migas — NRF yang sama dengan Norwegia.
Kaidah pengelolaan SDA di atas, hanya bagian kecil dari kemiripan Bojonegoro dengan Norwegia. Dalam konteks lebih luas, kemiripan Bojonegoro dan Norwegia juga terhampar di berbagai bidang dan sudut pandang. Tentu, melalui data-fakta yang bisa dipertanggungjawabkan.
2. Penjaga Kerajinan Kayu
Selain sebagai penghasil Migas, Norwegia dikenal dunia dari hasil kerajinan kayunya. Di Norwegia, kerajinan kayu disebut dengan istilah snikring (sloyd). Kerajinan kayu Norwegia merupakan warisan turun-temurun yang terus dipertahankan hingga kini. Di Norwegia, seni pertukangan kayu menjadi kebanggaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Jauh sebelum dikenal sebagai penghasil Migas, Bojonegoro dikenal sebagai penghasil Jati Alam kelas dunia. Cukup banyak literatur Belanda (Delpher) menceritakan fakta itu. Penjaga hutan Bojonegoro (Kalang), dikenal sebagai pengrajin kayu jati handal. Produksi kapal jati mereka, dikirim ke Jepara hingga Malaka, sejak abad 16 M silam.
Di Bojonegoro, kerajinan kayu menjadi kearifan lokal diwariskan turun temurun. Ada banyak titik sentra kerajinan kayu di Bojonegoro. Mulai dari Sukorejo, Bandar, hingga Margomulyo. Sampai saat ini, Margomulyo menjadi kawasan identik kerajinan Jati, yang kemasyhurannya dikenal hingga Eropa. Hampir tiap sebulan sekali, ada turis Eropa berkunjung ke Margomulyo.
3. Kesenian Urban

Kota Stavenger, yang dikenal sebagai Ibukota Energi Norwegia, masyhur sebagai pusat seni mural. Di Kota Stavenger, mural jadi medium edukasi yang tak terpisah dari denyut kota. Dalam festival Nuurart Stavanger misalnya, warga bahkan menyediakan tembok rumah mereka untuk dimural. Melalui kesenian mural, Stavenger mendapat pengakuan global sebagai pusat seni-budaya urban.

Stavenger termasuk kota yang memberi pencerahan bahwa mural dan grafiti, berbeda dengan vandalisme. Di Stavenger, mural dan grafiti adalah bagian dari denyut informasi, sekaligus medium edukasi. Mural adalah perwujudan dari kesenian urban.
Meski belum pernah difestivalkan secara formal, Bojonegoro sebagai Ibukota Energi Jawa Timur, juga memiliki spot-spot kesenian mural. Jl. Dr Sutomo, Jl. Hayam Wuruk, Jl. R. Sunjani dikenal sebagai spot mural di wilayah Kota. Sementara di luar kawasan Kota, Jl. Pahlawan Padangan juga jadi pusat mural yang sarat akan pesan.
4. Spirit Toleransi dan Harmoni
Masyarakat Norwegia cenderung memiliki ikatan sejarah dan keterlibatan sipil, serta sentimen kedaerahan yang sangat kuat. Sejumlah nilai penting yang dijunjung tinggi dalam budaya Norwegia, adalah sikap toleransi, saling menghormati, serta kesetaraan terhadap orang lain. Sikap nan membudaya ini, bahkan diakui dunia.
Baca Juga: Bhinnasrantaloka, Konsep Harmoni dan Toleransi dari Bojonegoro
Primordialisme kedaerahan juga jadi identitas kuat masyarakat Bojonegoro. Melalui Falsafah Bhinnasrantaloka; toleransi, harmoni, dan primordialisme positif, bahkan menjadi ajaran turun-temurun yang telah men-DNA dalam karakter kolektif masyarakat Bojonegoro. Spirit nan membudaya ini, bahkan diakui Gus Dur melalui tulisan maupun ucapannya.
5. Solidaritas Sosial
Norwegia sebagai negara yang mendapat skor tinggi dalam daftar kualitas hidup, indikator ekonomi, serta ukuran kebahagiaan, faktanya memiliki tradisi sosial yang amat dilestarikan. Tradisi itu dikenal dengan istilah Dugnad. Sebuah istilah merujuk pada pekerjaan sukarela secara kolektif, yang melibatkan pertemuan sosial (gotong royong / kerjabakti).
Masyarakat Bojonegoro mengenal kerjabakti dengan berbagai istilah dan klasifikasi. Mulai dari Gra’an, Nyambat, hingga Mladenan — semuanya sukarela dan tak mendapat bayaran. Gra’an merujuk pada kerja bakti membuat jalan, selokan, dan bersih-bersih makam; Nyambat merujuk pada membantu tetangga mendirikan rumah; sementara Mladenan merujuk pada membantu tetangga saat memiliki hajatan.
Istilah-istilah seperti Gra’an, Nyambat, hingga Mladenan, selain hampir punah, juga tak banyak diketahui generasi muda Bojonegoro sendiri. Untungnya, banyak daerah masih menggunakannya. Istilah Gra’an, misalnya, sampai kini digunakan dan dilestarikan di daerah Gamongan Tambakrejo, Tinggang Ngraho, Ngambon, dan desa-desa di Margomulyo Bojonegoro.








