Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Falsafah Rumah Berlantai Tanah

Usman Roin by Usman Roin
14/04/2025
in Cecurhatan
Falsafah Rumah Berlantai Tanah

Rumah Berlantai Tanah

Rumah berlantai tanah, kini keberadaannya sulit ditemui. Tetapi, rumah milik Pae, Mae –panggilan penulis untuk Bapak dan Ibu, alhamdulillah masih berlantai tanah.

Tulisan ini, tidak untuk menunjukkan “keprihatinan” penulis kepada pemimpin. Lalu, dikasih bantuan bedah rumah. Tidak. Tetapi, penulis ingin mengulik hakikat terdalam (filosofis) perihal rumah berlantai tanah.

Pertama, rumah berlantai tanah –kala tanah kita injak, itu seperti mengingatkan kepada hari kembali. Yakni, kematian. Beda bila dibatasi keramik –sebagai misal. Secara tekstur, kita tidak bisa merasakan tanah secara langsung. Bisa dibilang agak “tidak” ingat terhadap kematian.

Tanda bila “agak” tidak ingat kepada kematian, menganggap dunia ini segalanya. Tujuan akhir. Sehingga, jabatan diperebutkan dengan segala cara. Kekayaan juga ditumpuk dengan setinggi-tingginya. Kemudian hawa nafsu, diliarkan dengan sebringas-bringasnya.

Jika realitasnya sudah seperti itu, ada tanda “lupa” daratan terjadi. Atau meminjam bahasa M. Habib Mustopo dkk. (1989:181) cita-cita yang berkecenderungan pada keduniaan akan membuat lupa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tidak ayal, lahirlah kemudian pribadi-pribadi angkuh. Menoleh kepada sesama saja enggan. Sebab, “ada” kasta. “Saya dan kamu berbeda”.

Padahal, kita sering diingatkan akan hari akhir. Agar, dunia ini tidak menjadi tujuan –akhir, yang cara meraihnya dengan menghalalkan segala cara. Sehingga, namanya pengerusakan, penguasaan dan sebagainya, akanlah menjadi pemandangan nyata di sekitar kita.

Kedua, pesan kerelaan. Satu ilustrasi kecil dari penulis, kala kita –mohon maaf, mau meludah, air ludah tersebut akan mudah meresap ke dalam tanah. Itu bila rumahnya masih berlantai tanah.

Rumah Berlantai Tanah (Jurnaba)

Coba bila kita meludah di keramik, maka bekasnya akan awet. Bisa mengenai orang lain. Entah kala duduk, atau yang sedang tidur-tiduran. Bahkan, saat kebelat akan membuang air ludah di rumah yang berkeramik, kita butuh keluar rumah atau membuka cendela untuk mencari tanah.

Yang penulis maksud kerelaan, tanah secara langsung berinteraksi dengan aktivitas kita –sebagai manusia, secara harmonis. Ia –tanah, rela “menelan” ludah yang kita keluarkan. Inilah pesan filosofis kerelaan yang penulis maksud.

Ketiga, rumah tanah itu fleksibel. Yang penulis maksud, tamu yang datang tidak perlu repot-repot untuk mencopot sandal dan sepatu yang bermerek. Ia “los dol” bisa masuk di ruang manapun. Sehingga, tidak ada istilah kehilangan atau tertukar –sandal -sepatu, ketika bertamu di rumah yang masih berlantai tanah.

Fleksibelitas yang lain, ini bagi orang yang ahli hisab (perokok). Yakni, keluwesan kala tidak ada asbak, namun abu rokok ingin dibuang. Kala memiliki rumah tanah, abu sisa pembakaran rokok akan mudah dibuang langsung ke tanah. Bahkan, untuk mematikan puntung rokok, tinggal dituncepkan –di tanah, maka bara api rokokpun akan padam seketika.

Keempat, mudah untuk membersihkan. Rumah berlantai tanah, memang bila tidak rutin dibersihkan akan terlihat tidak terawat. Beda bila setiap saat disapu –lidi, akan kentara bersihnya. Justru yang menarik, cara perawatannya mudah. Cukup disapu, tanpa perlu dipel. Kalau keramik, sebelumnya perlu disapu terlebih dahulu dan dipel.

Dengan menimbang empat falsafah sebagaimana paparan di atas, penulis ingin menegaskan, bila kita yang masih memiliki rumah berlantai tanah, tidak perlu untuk ciut diri. Melainkan bangga. Alhamdulillah, masih punya rumah. Daripada, banyak yang terlantar di pinggir-pinggir jalan. Na’uzubillah.

*Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.

Tags: Falsafah RumahMakin Tahu IndonesiaRumah Berlantai Tanah
Previous Post

Beruntungnya Dilahirkan Di Bumi Penuh Perayaan

Next Post

Nobita: Representasi Perlawanan Dehumanisasi Manusia

BERITA MENARIK LAINNYA

Membaca NU di Bawah Dua Kyai Terpilih dari Jawa Timur
Cecurhatan

Membaca NU di Bawah Dua Kyai Terpilih dari Jawa Timur

31/08/2026
Kota Iram: Misteri dalam Al Quran dan Badai Gurun Pasir
Cecurhatan

Kota Iram: Misteri dalam Al Quran dan Badai Gurun Pasir

28/08/2026
Muktamar NU 2026: Saatnya Menghidupkan Khitah Ekologis
Cecurhatan

Muktamar NU 2026: Saatnya Menghidupkan Khitah Ekologis

26/08/2026

Anyar Nabs

Membaca NU di Bawah Dua Kyai Terpilih dari Jawa Timur

Membaca NU di Bawah Dua Kyai Terpilih dari Jawa Timur

31/08/2026
BALKONDES Bonorejo Resmi Dibangun, Jadi Harapan Baru Untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa

BALKONDES Bonorejo Resmi Dibangun, Jadi Harapan Baru Untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa

29/08/2026
Kota Iram: Misteri dalam Al Quran dan Badai Gurun Pasir

Kota Iram: Misteri dalam Al Quran dan Badai Gurun Pasir

28/08/2026
Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia

Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia

27/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: