Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Fragmen Hujan, Seorang Perempuan di Depan Terminal (2)

Imron Nasir by Imron Nasir
30/04/2025
in Cecurhatan
Fragmen Hujan, Seorang Perempuan di Depan Terminal (2)

Sebuah bus biru merangkak pelan dari pintu keluar terminal. Di bagian sampingnya terdapat sebuah tulisan besar “Jaya Utama”.

Setelah berhenti sebentar di depan terminal, kemudian ia melaju, menggilas genangan air hujan yang tak mau pergi dari hitamnya aspal.
Seorang perempuan melambaikan tangannya kepada lelaki yang telah duduk di dalam bus, ia terlihat dari balik wagon kaca, melambai, juga tersenyum, dan membuat tanda dengan jemarinya (telepon!).

Tanda dari jari itu juga tertebak olehku. Aku memahaminya, mungkin nanti malam, atau setelah lelaki itu sampai di kota tujuan, mereka akan saling berkabar melalui telepon.

Aku duduk di kursi taman yang sengaja dipasang di atas trotoar di depan terminal. Kusaksikan perempuan itu akan meninggalkan terminal. Ia mengenakan helmnya, dan sebuah helm hitam yang dikenakan lelaki tadi ia letakkan di bawah lututnya, sebuah lekukan di motor matic.

***

Minggu selanjutnya, aku tak sengaja lagi melihat mereka berdua berdiri di tempat yang sama dengan beberapa waktu lalu. Mereka juga menanti bus yang sama, Jaya Utama.

Kali ini, aku duduk lebih dekat dengan mereka. Aku sendiri juga bingung, mengapa harus di sini, di tempat menunggu bus keluar dari terminal.

Meskipun ruang tunggu di dalam terminal jauh lebih nyaman dan bersih, beberapa orang mungkin enggan masuk ke terminal karena harus berjalan kaki ke dalam. Toh, bus-bus yang akan ke kota-kota lain, mereka juga akan berhenti sebentar di sini.

Aku amati wajah perempuan itu, sedikit lebih pucat dan datar dari minggu lalu. Dan lelaki yang ia antarkan itu, tetap berwajah sama. Aku mencurigai sesuatu sebagai sesama lelaki. Ia menyimpan suatu kepicikan.

Bus keluar dari terminal pukul 15.30, ia akan bermuara di terminal Purwodadi. Lelaki itu segera mencangklong ransel hitamnya. Mereka saling berjabat tangan, tidak ada sepatah kata pun, sebelum akhirnya perpisahan benar-benar terjadi di antara mereka.

Aku asik memperhatikan lalu lalang jalanan veteran. Entah mengapa, sensor mataku mengarah ke perempuan itu lagi. Dengan detail aku melihat, setetes air jatuh dari langit mata perempuan itu. Kemudian tubuhnya lemas dan jatuh ke tanah.

***

Di ruang IGD, dengan cemas aku menunggu hasil pemeriksaan dokter. Entah, apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan ini. Di rumah sakit yang serba surat-menyurat dan uang ini aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku seperti menyalahkan diriku sendiri yang terlalu mudah menolong orang lain. Untuk apa aku harus masuk ke mobil hitam itu dan membopong perempuan ini sampai ke sini.

Perempuan itu belum juga tersadar. Untuk keperluan administrasi rumah sakit, aku terpaksa membuka tas kecil yang sebelumnya melingkar di tubuh perempuan itu. Kuambil sebuah kartu identitas dari dompet warna hitam.

Aku menemukannya di bawah kartu SIM. Belum juga sempat aku membaca namanya, seorang perawat yang tidak punya senyum di wajahnya segera menyergap kartu itu. Ia menyergap dengan cepat, seperti cicak menyergap nyamuk di dinding.

Dengan kurang ajar ia menanyaiku begini, “Mas suaminya, kan?”

Suami? Perempuan ini? Aku bingung dan belum sempat kujawab perawat itu telah pergi dan memunggungiku.

Tak berselang lama perempuan itu tersadar dengan batuk-batuk. Ia merasakan kebingungan. Aku tak perlu menjelaskannya bahwa dia kini sedang di rumah sakit. Dia telah mengetahui dari infus yang terpasang di tangannya, dan orang-orang yang merintih kesakitan.

Tapi yang paling ia pertanyakan melalui sorot matanya, siapa lelaki yang saat ini menemaninya?

Kusodorkan padanya air minum. Ia segera mengangkat kepalanya sedikit dan meneguknya. Aku yang memegang sebotol air minum kemasan itu. Ia meneguk dengan rasa haus yang menggapai kesegaran tak terkira.

Kami mengobrol dengan kaku. Aku memperkenalkan diri dan meminta maaf atas kelancanganku membuka tasnya untuk mencari kartu identitas. Namun, ia hanya tersenyum, dan senyuman itu lengkap dengan terima kasih.

Setelah itu, ia mempersilakanku meninggalkannya sendirian di rumah sakit. Ia merasa tak enak. Dan sebelum aku melangkah, ingin rasanya kupastikan siapa yang akan menemaninya?

“Saya sudah terbiasa sendiri. Pacar saya sedang ke Blora. Saya di kota ini sendirian. Tidak apa-apa tinggalkan saya di sini, Mas.”

Sewaktu ia bilang begitu padaku, kulihat seorang Ibu menempelkan telinganya di tirai pembatas ruangan ini. Ia seperti penasaran apa yang sesungguhnya terjadi pada kami. Dan kedatangan dokter menahanku untuk segera meninggalkan tempat ini.

Aku begitu kaget ketika mendengar ucapan dokter itu bahwa perempuan ini sedang hamil. Setelah dokter itu pergi, suasana jadi canggung. Perempuan itu kembali meneteskan air mata. Aku tidak berani berkata apa pun sebelum akhirnya ia kembali mengajakku bicara.

“Maukah Mas menemani saya?”

Tak ada satu pun kata yang kuucapkan untuk menjawab pertanyaan perempuan itu, selain anggukan kepala, yang sebenarnya aku pun tak sadar betul kenapa harus mengangguk.

Malam hampir larut dan dingin sekali. Hari ini aku terpaksa tak mencari penumpang. Sekitar tiga puluh menit kutinggalkan dia sendirian untuk mengambil motor yang tertinggal di depan terminal. Setelah itu, dengan mengendarai motor aku kembali ke rumah sakit, untuk menemani Kumala.

Tags: Fragmen HujanHujan
Previous Post

Poneglyph: Berkomunikasi dan Mendengar Pohon Bercerita

Next Post

Sedemikian, Melayatkan Keikhlasan

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah
Cecurhatan

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future
Cecurhatan

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori
Cecurhatan

Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

09/06/2026

Anyar Nabs

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

09/06/2026
Berkah Bumi: Berawal Rembesan Alami, Diubah Jadi Konsesi

Berkah Bumi: Berawal Rembesan Alami, Diubah Jadi Konsesi

08/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: