Berdialog dengan pohon adalah keahlian tradisional leluhur kita, dalam menganalisa fenomena ekologis. Metode komunikasi yang melibatkan referensi intelektual, emosional, dan spiritual ini, saat ini gencar diadopsi Dunia Barat sebagai disiplin ilmu.
Setiap wilayah, pasti mengandung sesuatu yang oleh Eiichiro Oda, disebut sebagai Void Century (abad kekosongan), atau periode sejarah yang dihilangkan dan ditutup imperial-kolonial (World Govt). Informasi tentang Void Century selalu dimanipulasi, agar nilai luhur dan kebijaksanaan di dalamnya tak pernah dipelajari.
Bale Lantung, kawasan historis yang pada abad 10 M sudah dipenuhi strata sosial Wiku Brahmana — Kalang, Gusti, Variga, Vinkas, Kalima dan Rama — pada abad 18 M tiba-tiba berganti menjadi kisah manusia “liyan” yang hidup di tengah hutan. Oda mencontohkan, jarak antara abad 10 M dan 18 M di atas sebagai Void Century.
Baca Juga: Bale Lantung, Peradaban yang Terlupakan
Secara harfiah, void bermakna tidak sah (gelap). Void Century adalah abad yang di-void kan atas kepentingan tertentu. Menurut Oda, World Govt sangat tertarik pada sejarah Void Century dan berusaha keras memonopoli ilmu pengetahuan yang terkait periode tersebut. Sebab, di dalam Void Century itulah, kebijaksanaan Poneglyph, Grand Line, dan One Piece berada.

Eiichiro Oda memaknai Poneglyph sebagai prasasti bertuliskan huruf kuno yang memuat informasi dari masa silam. Dalam tulisan ini, Poneglyph Ekologi secara tegas kami maknai sebagai pohon raksasa yang berjasa merekam banyak peristiwa di batang dan kulit kayunya. Sebab, pohon adalah prasasti hidup penyimpan peristiwa.
Berkomunikasi dengan Pohon
Guru kami, Dr. Noer Fauzi Rachman, PhD pernah mengajak kami transect lapangan, untuk meneliti pepohonan langka yang harus kami rawat, lindungi, dan kembangkan. Di tengah perjalanan, ia berkata: “Kalian harus bisa berkomunikasi dengan pohon, bukankah itu keahlian leluhur kita?”
Ucapan Dosen Psikologi Lingkungan yang akrab kami panggil Om Oji itu, membuat ingatan saya terlempar pada masa kecil nun jauh di sana. Ingatan pada sebuah hikayat tentang bagaimana para leluhur di kampung kami, memiliki kemampuan komunikasi dengan berbagai entitas pohon.
** **
Masyhur, para leluhur di kampung kami berhubungan baik dengan pohon. Jika ingin mengambil buah, mereka tak pernah memetik atau memanjatnya. Tapi cukup mengucap salam. Sebab, pohon akan menjawab salam mereka dengan cara menjatuhkan buahnya.
Hikayat hubungan baik dengan pohon itu, tergambar dari sejumlah “tarekat” kuno yang pernah ada di kampung kami. Tarekat yang meyakini hubungan baik dengan alam (pohon), adalah manifestasi kecintaan hamba pada Tuhan. Tarekat yang setiap melihat pohon, mengingat rahmat dari Tuhan.
Tarekat kuno di kampung kami itu, kini telah hilang. Hegemoni modernisasi membuat kaidah luhur itu terpojok di sudut sempit peradaban. Padahal, tarekat itulah, yang kelak ketika saya dewasa, dunia akademik memuliakannya sebagai “ekosufisme”. — Salamun qaulam mir rabbir rahim …
** **
“Kalian tahu, berbicara dengan pohon itu bukan hal ghaib. Ini ilmiah. Kalian harus belajar!” ucapan Om Oji yang cukup kencang itu, langsung membuyarkan lamunan saya.
Serupa makhluk hidup lainnya, pohon sering mengirim sinyal pesan kepada manusia. Hanya, karena tak berbentuk sebuah bahasa, maka sinyal itu sulit dipahami. Pohon berkomunikasi lewat sinyal-sinyal pertanda. Pohon sering “bercerita” pada manusia, baik dalam bentuk suara maupun aroma, yang menunjukan sebuah kondisi.

Om Oji menerangkan, keahlian para leluhur dalam berkomunikasi dengan pohon, adalah inovasi yang ter-kolonisasi. Sehingga keahlian itu kini hilang sama sekali. Sementara di Dunia Barat, kata Om Oji, justru gencar kampanye berkomunikasi dengan pohon, yang terinspirasi leluhur kita.
Pohon tak sekadar memberi oksigen, tapi juga merekam bermacam peristiwa di sekitarnya. Semakin tua usia pohon, semakin besar “galih” kapasitas data yang disimpannya. Para leluhur, tentu sudah memahami konsep hablu minal alam ini sejak dulu kala.
Kita Menginspirasi Eropa
Di Eropa, ada cukup banyak buku-buku yang membahas “komunikasi dengan pohon” ini, tampak begitu sangat ilmiah. Keahlian leluhur kita yang dulu dicap sebagai kemunduran zaman, bagi orang Eropa, justru diambil saripatinya, dan terus dikembangkan.
Wohlleben (2016) menjadikan komunikasi dengan pohon sebagai sebuah disiplin ilmu yang mampu mengintervensi gerakan-gerakan ekologis forestry di Jerman dan sekitarnya. Padahal, tesis Wohlleben adalah tradisi dan keahlian leluhur kita di kampung dulu.
Holly Worton (2019) menjadikan konsep berbicara dengan pohon sebagai metode menghargai kehidupan. Menurutnya, pohon memiliki ribuan tahun kebijaksanaan yang nilai manfaatnya bisa diambil manusia. Padahal, gagasan Worton tentang komunikasi dengan pohon, adalah keahlian leluhur kita sejak lama.
Ordo spiritual Eropa mulai bermunculan sejak abad 20 M. Banyak dari mereka terinspirasi kaidah tarekat, khususnya dalam berkomunikasi dengan alam, untuk dikembangkan secara metodologis. Sementara di tempat kita, tarekat-tarekat kuno yang mengajarkan komunikasi dengan alam justru pudar dengan sendirinya.
Tarekat-tarekat kuno yang pernah dianggap primitif oleh kaum modernis itu, ternyata menginspirasi lahirnya ordo-ordo spiritual di Eropa, terutama dalam berkomunikasi dengan pohon. Sementara kita yang hidup hari ini, harus belanja ilmu pengetahuan dari Eropa.
Sebuah Void Ekologi
Secara harfiah, Void bermakna sesuatu yang tidak sah. Serupa Void Century (abad yang dihilangkan), keahlian tradisional kita dalam berkomunikasi dengan pohon adalah void ekologi atau kecerdasan ekologis yang di-void-kan. Keluhuran yang di-primitifkan dan di-tidaksah-kan, agar kita tak mempelajarinya.
Dunia Barat banyak mengambil intisari keilmuan dari tempat kita. Untuk dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan khas Barat. Lahirnya ordo-ordo spiritual Eropa, sangat terinspirasi Tarekat-tarekat kuno di tanah kita. Sementara kita, kehilangan jejak atas nilai kebijaksanaan leluhur kita.
Meminjam istilah Eiichiro Oda dalam Void Century, World Govt telah mengambil intisari keilmuan kita, untuk mereka kembangkan secara elegan. Sementara kita hanya diberi mitos-mitos ampas keilmuan agar tak berpotensi untuk dikembangkan.
Sebagai bangsa yang besar, bangsa yang sejak abad 10 M sudah mampu mengelola keseimbangan ekologis berdasar kaidah “Lengo Urup Banyu Urip“, kita tak boleh marah melihat kenyataan itu. Sebab, semua kejadian pasti membawa ibrah.
Mewarisi apa yang dimiliki para pendahulu, sudah sepatutnya kita punya DNA kebijaksanaan hidup sekokoh Kendeng dan se-fleksibel kelokan Bengawan. Karena itu, kita harus mengokohkan diri dan berkelok-kelok tiada henti, untuk memuliakan kembali kebesaran para pendahulu.
Tugas kita, adalah kembali memuliakan kebijaksanaan para pendahulu dengan bermacam cara. Termasuk men-scientifikasi dan membuatnya tampak metodologis untuk tampil di panggung dunia. Menarasikan kearifan lokal pada ranah global — ranah kita yang sesungguhnya.








