Jerman menjelang awal abad ke-20, merupakan tempat berkelindan antara ekonomi, industri, dan kekuasaan. Terjadi urbanisasi besar-besaran seiring tumbuhnya industrialisasi yang begitu cepat. Akibatnya, terbentuk struktur sosial baru―kelas pekerja versus kelas menengah.
Pertarungan antar kelas ini berujung dengan meningkatnya jumlah angka pengangguran dan kemiskinan yang signifikan. Sebagai antitesa terhadap realitas itu, lahirlah beberapa pemikir bercorak progresif-realistis, salah satunya Bertholt Brecht (1898-1956).
Brecht, penyair dan dramawan kelahiran Augsburg, 10 Februari 1898, merupakan seniman besar pada masanya. Ada yang berpendapat, ketenaran Brecht hanya bisa dilampaui oleh Goethe dan Shakespeare.
Baca juga: Kekaguman Goethe pada Kanjeng Nabi Muhammad
Terbukti, gagasan-gagasan Brecht berpengaruh terhadap pemikir dan seniman besar setelahnya, seperti Walter Benjamin, Jean-Luc Godard, Alexandre Kluge, Bob Dylan, atau Nagisa Oshima.
Ada yang menarik dengan sisi-sisi hidup Brecht, terutama puisi-puisinya yang menyuarakan ketimpangan sosial―dibalut dengan gugatannya terhadap klise-klise keagamaan.
Inilah fragmen hidup Bertholt Brecht, penyair sosialis yang kritis.
Bertholt Brecht: Sebuah awal mula
Lahir dari pasangan Bertolt Freiederich Brecht dan Sofie Brecht―Keluarga Brecht tergolong kelas menengah. Ayahnya bekerja di sebuah pabrik kertas, yang di kemudian hari diangkat sebagai direkturnya. Brecht mengatakan,bahwa kehidupannya diatas rata-rata banyak orang,
“Aku terlahir sebagai anak laki-laki, orang-orang kaya termasuk orang tuaku mengikatku dengan kerah baju, demikian aku dididik. Sebuah kebiasaan yang selalu dilayani dan diajari cara memerintah. Setelah dewasa dan mulai sadar, tidak tertarik terhadap orang-orang di sekitarku, tak mau memerintah maupun diperintah. Dan aku meninggalkan kelasku, lantas bergabung dengan rakyat biasa.”
Masa kecil yang relatif enak―menyebabkan Brecht mengidentikkan diri dengan Pangeran Sidarta Ghautama ketika ia memutuskan bergabung dengan rakyat. Seperti yang terekam dalam salah satu puisinya, Gleichnis des Budha vom brennenden Haus (perumpamaan Sang Budha tentang Rumahnya yang Kebakaran). Nenek Brecht dari pihak Ibu, merupakan penganut Kristen Lutheranian yang taat. Ia telah memperkenalkan Brecht kecil dengan dogma-dogma Alkitab.
Pada tahun 1926, sesuatu telah mengubah pandangan hidup seorang Brecht. Ia mulai berkenalan dengan teori-teori Marxisme yang menjadi trade mark pemikiran di Jerman awal abad-2o. Brecht mempelajari Das Kapital dengan cukup serius. Ia memutuskan menjadi seorang Komunis. Latar belakang dari keluarga kelas menengah yang religius, ditambah teori-teori Karl Marx―mengantarkan sosok Bertold Brecht sebagai penyair sekaligus dramawan yang getol menyuarakan ketimpangan sosial.
Puisi, Tuhan, dan Kritik Sosial
Puisi, dalam narasi Bertolt Brecht, tak dimaksudkan untuk membuat pembaca tersentuh, apalagi terharu. Dengan gaya epic theater ia ingin pembacanya terbangun dan berfikir. Bahkan, bila perlu juga marah. Seperti dalam puisi Hyimne an Gott (Hymne kepada Tuhan),
Nun jauh di lembah gelap orang-orang lapar sekarat
Kau hanya menunjukkan roti dan membiarkan mereka mati
Kita tahu, “kau” di sini bukan sekadar entitas ilahiah, tetapi melingkupi institusi agama yang tak berpihak kepada kaum lemah. Kata “menunjukkan” menjurus kepada gugatan dalam bentuk langsung. Bahwa kelaparan adalah fakta. Terdapat roti, tapi tak diberikan. Dalam kritik sastra, ini adalah jenis alegori sosial―metafora yang digerakkan struktur ketimpangan.
Masih dalam puisi yang sama Brecht berkata,
Kau biarkan mati yang muda, juga mereka yang menikmati kebahagiaan
Tapi Kau halangi mereka yang memilih mati
Banyak dari mereka yang membusuk
Beriman kepadamu, dan mati penuh harapan.
Terdapat paradoks disini: mereka yang ingin mati―mungkin terlalu sengsara―tidak diberi kematian. Sementara mereka yang sedang menikmati kebahagiaan justru dijemput paksa. Disini timbul pertanyaan, apakah ini metafora dari sistem keyakinan yang membenarkan penderitaan sebagai ujian dan ajal sebagai berkat? Mungkin saja. Namun Brecht tak sedang menawarkan filsafat spekulatif, ia hanya membuat ironi tersebut tampak nyata.
Yang lebih menohok adalah bait ketiga dari puisi Hymne kepada Tuhan,
Si miskin Kau biarkan miskin dari tahun ke tahun.
Karena kerinduan mereka lebih elok daripada surgaMu
Bila mereka mati, sayang sekali, sebelum cahayaMu tiba
Mereka toh mati Bahagia dan busuk seketika
Narasi Brecht, “Kerinduan mereka lebih elok daripada surgaMu” menjadi pembalikan yang tajam akan dogma religius yang ia dengar―bahwa dunia adalah ilusi dan surga adalah kerjaan yang kekal. Namun, Brecht berkata dengan jujur, bahwa kerinduan orang miskin sebagai kenikmatan. Namun tragisnya, kenikmatan itu tak terjamah oleh mereka. Dan mereka mati.
Tidak hanya dalam Hymne an Gott Brecht mengolok sistem teologis yang seolah netral, namun bekerja sesuai logika kelas. Dalam Hollywood-Elegien (Elegi-elegi Hollywood) ia berkata,
Disini mereka telah menyimpulkan
Bahwa Tuhan yang perlu surga dan neraka,
Sebetulnya tak perlu merancang dua Lembaga, cukup satu saja yaitu surga.
Dan bagi mereka yang miskin dan gagal
Ia berfungsi sebagai neraka.
Di sini Surga bermanifestasi sebagai ilusi bagi si Miskin―surga bukan sebagai tempat tinggal, tapi menjadi representasi neraka. Dan Brecht masih belum puas, ia masih menulis sanggahan atas tuntunan moral zaman. Hemat kami, narasi ini bukan ambisi pribadi, namun semangat perubahan. Dalam Warum soll mein Name genannt werden? (Mengapa namaku mesti disebut?) Brecht berkata,
Karena kupuji hal berguna,
Yang di zamanku dianggap tak mulia.
Karena aku menentang agama-agama
Karena aku menentang penindasan
Atau karena alasan lainnya.
Dalam jeritannya, Brecht tahu, bahwa meneriakkan kebergunaan―yang konkret, yang duniawi―acapkali dianggap menistakan nlai-nilai luhur. Tapi baginya, justru kemuliaan seharusnya di ukur dari keberpihakan kepada yang tertindas, bukan seberapa banyak melakukan ritual, namun acuh akan realitas sosial.
Epilog
Mengutip Goenawan Muhamad dalam Catatan Pinggir Tempo, dalam Mein Jahrhundert Günter Grass membuat anekdot percakapan imajiner antara Brecht dan Gottfried Benn (1886-1956), penulis terkemuka Jerman. Seorang mahasiswa menguping pembicaraan kedua sastrawan tersebut. Bahwa ironi acapkali datang dalam kehidupan. Bukan pembaca yang membentuk arah berfikir mereka berdua. Selalu ada jarak―selalu ada selisih dan selalu sang sastrawan yang tak bisa apa-apa lagi. Mungkin karena di jalan ada suara 3.800 nabi (Goenawan: 2017).
Alhasil, Brecht sedang marah sembari mengolok sistem teologis yang seolah netral, namun berpihak terhadap kelas. Dan surga, sebagai orientasi pemeluk agama berubah menjadi institusi yang dapat di akses oleh mereka yang sukses secara sosial. Maka Brecht menulis puisi agar di dengar karena marah. Dalam marah itulah, kita ditantang untuk mengukur kembali makna iman, keadilan, dan esensi puisi itu sendiri. Wallahu a’lam.
Daftar Pustaka
Goenawan Muhamad, 2017, Catatan Pinggir 3, Jakarta: Pusat Data Tempo.
Bertolt Brecht, 2004, Zaman buruk bagi puisi, Jakarta: Horison.
John Willet, 1978, Brecht on Theatre, New Delhi; Radha Khrisna.








