Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Tantangan dan Relevansi Peran Perguruan Tinggi

Muhammad Aufal Fresky by Muhammad Aufal Fresky
11/07/2025
in Cecurhatan
Tantangan dan Relevansi Peran Perguruan Tinggi

Relevansi Perguruan Tinggi

Kemajuan teknologi menyimpan sebuah pertanyan penting, apakah Perguruan Tinggi masih punya peran yang relevan?

Di Era Society 5.0, tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi di Tanah Air semakin banyak dan kompleks. Bukan sekadar bagaimana menelurkan sebanyak mungkin sarjana, magister, dan doktor. Lebih dari itu, bagaimana menigkatkan kualitas lulusannya agar tidak hanya ibarat buih di lautan.

Mudah terombang-ambing dan terhempas gelombang. Sebab, saat ini kita semua bisa menengok data dan faktanya bahwa ternyata tidak semua lulusan perguruan tinggi terserap di dunia industri. Tidak juga tergerak untuk menjadi wirausaha atau menciptakan lapangan pekerjaan.

Tentu saja, tidak sinkronnya kualitas perguruan tinggi dengan kebutuhan industri juga menjadi salah satu penyebab pengangguran terdidik seakan sukar dientaskan. Apa yang dipelajari di kampus ternyata kurang relevan dengan apa yang dikehandaki dunia industri.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta per Februari 2025. Angka tersebut mengalami peningkatan sekitar 83.450 orang atau 1,11 persen dibanding tahun sebelumnya.

Di lain sisi, berdasarkan World Economic Outlook edisi April 2025, Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF), seperti halnya yang dilansir Tempo.co, juga mencatat tren pengangguran di Indonesia yang terus naik. Pada 2024 sebesar 4,9 persen, tahun ini menjadi 5,0 persen, dan tahun 2026 diprediksi bakal mencapai 5,1 persen.

Tentu saja, dari sejumlah data itu, lulusan universitas ada di dalamnya. Selaku penulis, saya pun bertanya-tanya, sejauh mana relevansi peran perguruan tinggi dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu? Jangan-jangan, dunia perguruan tinggi menutup mata terkait kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia industri.

Saya rasa, ini akan menjadi faktor pemicu sejumlah kaum muda, khususnya Gen Z untuk tidak melanjutkan kuliah. Survei Deloitte Global Gen Z & Millenial 2025 menunjukkan 31 persen Gen Z global memilih untuk tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Ada beberapa alasan yang menyebabkan sebagian Gen Z tidak memilih kuliah.

Di antaranya yaitu: kesulitan biaya, kondisi keluaraga atau pribadi, keinginan belajar fleksibel, memilih jalur karier non-kampus, tidak berminat pada pendidikan tradisional, khawatir soal beban pinjaman mahasiswa, ingin berwirausaha, dan merasa pendidikan tinggi tidak menyediakan skill yang dibutuhkan setiap lulusan seperti halnya artificial intelligence (AI) yang kini berkembang pesat.

Data tersebut mestinya menjadi alarm pengingat bagi perguruan tinggi untuk berbenah. Sebab, bukan tidak mungkin, cepat atau lambat, sejumlah kampus negeri maupun swasta, bisa saja jumlah pendaftarnya mengalami penurunan sebab tidak lagi diminati.

Atau kemungkinan terburuknya bisa saja gulung tikar. Sebagian kaum muda justru memilih mengikuti kursus-kursus di dunia maya yang bisa melejitkan potensinya.
Selain biayanya yang lebih terjangkau, materi-materi yang diberikan juga dianggap relevan dengan kebutuhan zaman.

Apalagi, saat ini, sudah banyak perusahaan yang merekrut tenaga kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. Bukan berdasarkan latar belakang dan tingkat pendidikan. Era meritokrasi sudah mulai berjalan. Era di mana kompetensi menjadi penilaian utama dalam perekrutan tenaga kerja.

Mengenai hal itu, Muchsin (2021) mengemukakan bahwa memasuki Era Society 5.0, perguruan tinggi dihadapkan suatu tantangan yang sangat hebat yakni bagaimana bisa berpacu dengan masyarakat digital yang menutut pelayanan pendidikan serba cepat dan akurat.

Langkah yang harus dilakukan perguruan tinggi yaitu memperbaiki pengelolaan data kampus dan informasi yang harus tersampaikan dengan baik, serta mengakomodir penerapan teknologi pembelajaran maupun perkuliahan secara daring.

Tidak hanya itu, Megayanti et al., (2022) juga menambahkan bahwa dari segi SDM yang bertindak sebagai pengajar dan pendidik, harus memiliki keterampilan di bidang digital dan berpikir kreatif. Pendidik dituntut untuk lebih inovatif dan dinamis dalam mengajar di kelas.

Kemudian, saya pribadi, menambahkan bahwa memang betul, ragam ide brilian, terobosan, dan inovasi terkait upaya adaptasi dunia kampus dengan pekembangan dunia digital mutlak diperlukan.
Khususnya bagi dosen sebagai garda terdepan pendidikan tinggi.

Sebab, hampir setiap hari, mereka beriteraksi dengan mahasiswa. Mau tidak mau, suka tidak suka, dosen mesti membekali diri dengan kemampuan digital sebagai upaya memenuhi tuntutan zaman. Jika tidak, perlahan dosen akan mudah digilas oleh masifnya perkembangan teknologi infomasi dan komunikasi.

Perguruan tinggi kita hari ini, sekali lagi, dituntut untuk bergerak cepat dan cekatan dalam memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan. Terutama dalam mencetak generasi yang unggul dan berdaya saing tinggi.

Termasuk pemerintah, tidak boleh berpangku tangan dalam melahirkan jebolan-jebolan universitas yang berkualitas. Dalam hal ini, dibutuhkan intervensi berupa aturan, kebijakan, dan program yang tujuannya menstimulus perguruan tinggi agar mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang kompeten.

Ditambah lagi dengan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi anak-anak muda. Juga mendorong mereka untuk memiliki jiwa wirausaha. Saya kira, langkah itu, menjadi salah satu bentuk langkah nyata pemerintah dalam mengentaskan, atau setidaknya menurunkan angka pengangguran di negeri ini.

Terakhir, saya pun berharap, agar seluruh perguruan tinggi di negeri ini juga bisa menghasilkan jebolan-jebolan yang top markotop. Top dari sisi intelektual, emosional, dan spritual. Sebab, modal keilmuan saja tidak cukup untuk mengarungi bahtera kehidupan yang kian menantang.

Perguruan tinggi, menurut pandangan saya, memang sudah saatnya mencetak generasi-generasi yang bermental baja, berjiwa pemimpin, dan memiliki spirit perjuangan yang tak pernah padam. Kecerdasan dan kepintaran memang dibutuhkan. Namun, tanpa diimbangi dengan moralitas yang mumpuni, semua akan menjadi sia-sia.

Bahkan, sarjana-sarjana tersebut, bisa menjadi problem maker di tengah masyarakat. Tentu saja, kita semua tidak menghendaki akan hal itu. Perguruan tinggi mesti aktif mengambil peran mencetak lulusan yang kompeten, jujur, berintegritas, terampil, dan adaptif.

*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi, Magister Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya

Tags: Cecurhatan JurnabaRelevansi Perguruan Tinggi
Previous Post

Sale Sukoharjo, Desa yang Mengakrabi Bengawan

Next Post

‎Sendangharjo, Peradaban Alas Gebang Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: