Desa Sendangharjo KecamataNgasem merupakan salah satu laboratorium budaya Bojonegoro. Tempat yang menyimpan Peradaban Alas Gebang, skriptorium kuno, hingga “dusun ekologi” dari masa silam.
Sendangharjo Ngasem memang tak begitu populer. Bahkan lokasinya tak banyak diketahui. Sampai tulisan ini ditulis, Google Maps bahkan tak menyediakan titik lokasi di mana Balai Desa Sendangharjo berada. Ini bukan perihal mistis, tapi karena memang Sendangharjo tak pernah diperbincangkan dalam diskursus paradigma pengetahuan.
Sejauh ini, nama Sendangharjo tertutup hegemoni wisata Kayangan Api. Meski sesungguhnya, Kayangan Api hanya bagian dari Sendangharjo. Sementara Desa Sendangharjo sendiri, justru tak banyak diulas, apalagi diperbincangkan. Padahal, secara empiris, Sendangharjo merupakan Laboratorium Kebudayaan.
Meski tak setenar Wisata Kayangan Api, Desa Sendangharjo merupakan satu di antara laboratorium budaya Bojonegoro yang masih menjaga nilai keluhuran tradisi. Sendangharjo tak hanya menyimpan warisan geologi, namun juga khazanah ragam hayati, serta cakrawala nilai-nilai tradisi.
Secara demografi, Sendangharjo memiliki lima dusun cukup asri; Dusun Tawaran, Klumpang, Karangpahing, Mundu, dan Soko. Desa ini dilintasi dua aliran sungai kecil bernama Kali Gebang dan Kali Tidu. Sementara mayoritas masyarakatnya, berkegiatan sebagai petani hutan.
Sendangharjo sesungguhnya desa kuno berperadaban tinggi. Namun karena namanya diganti, ia seperti kehilangan jati diri. Untungnya, nilai tradisi dan data-fakta Sendangharjo kuno masih sempat dijumpai. Kawasan ini punya khazanah pengetahuan cukup lengkap. Dari masa kolonial, maupun zaman kekunoan.
Peta Kolonial 1900 M
Nama Sendangharjo sesungguhnya nama baru. Belum lama. Nama ini baru dibuat pada akhir 1900 M. Sebab faktanya, sampai pada 1917 M, wilayah ini masih dikenal sebagai hutan alam, dan hanya memiliki sedikit pedusunan yang dihuni masyarakat. Pedusunan itu adalah Ngasem, Tawaran, Djambe, Klumpang, Soko, Kedung Ingas, Mundu, dan Ngadiluwih.

Dari peta 1917 M ini, terlihat secara sahih bahwa Sendangharjo adalah nama baru. Sendangharjo dibuat sebagai nama yang menyimpul pedusunan Tawaran, Djambe, Klumpang, Soko, Mundu, dan Kedungingas. Faktanya, nama Tawaran, Mundu, Klumpang, dan Soko masih ada hingga kini sebagai bagian dari Desa Sendangharjo.
Sementara Djambe dan Kedung Ingas tak terlacak lagi. Besar kemungkinan, nama Djambe dan Kedung Ingas sudah menjadi bagian dari Dusun Tawaran atau Karangpahing di Desa Sendangharjo. Menghilangkan dan melebur nama tempat, adalah mekanisme kolonial dalam membangun kewilayahan.
Peta Kolonial 1800 M
Pada peta yang jauh lebih tua, yaitu 1860 M, kawasan Sendangharjo masih dikenal sebagai hutan maha luas yang masyhur disebut Alas Gebang. Pada periode ini, Dusun Tawaran sudah ada. Di kawasan Alas Gebang ini, terdapat Dusun Tawaran, Tawung, dan Karang Pelem. Selebihnya, masih berupa hutan dan savana pepohonan.

Pada peta tahun 1860 ini, terlihat sebuah fakta bahwa Dusun Tawaran merupakan kawasan penting yang selalu ada di berbagai zaman. Baik itu peta 1860 M, peta 1917 M, maupun peta hari ini. Sebab faktanya, sampai saat ini pun, Dusun Tawaran ini masih ada, sebagai bagian dari Desa Sendangharjo. Bisa dikatakan, Dusun Tawaran merupakan pusat dari Desa Sendangharjo saat ini.
Pada peta 1860 M ini juga terlihat sebuah landskap bahwa kawasan Sendangharjo dilintasi sebuah anak sungai bernama Kali Tidu. Anak sungai ini membentang dari arah selatan ke utara. Tampaknya, sampai hari ini pun, Kali Tidu yang melintas di Tawaran (Sendangharjo) ini masih ada, dan tak mengalami perubahan yang signifikan.
Dusun Ekologi Tawaran
Desa Sendangharjo, semula savana hutan bernama Alas Gebang. Sampai periode 1800 M, kawasan ini masih dikenal sebagai wilayah savana Alas Gebang. Di tengah-tengah savana Alas Gebang itu, terdapat tempat istimewa yang bernama Dusun Tawaran.
Nama Dusun Tawaran selalu muncul di Peta Kolonial. Baik periode 1800 M maupun 1900 M. Namun yang lebih menarik dari itu, di Dusun Tawaran terdapat dua kawasan bernama Djambe dan Kedung Ingas. Sayangnya, dua lokasi ini sudah tak diketahui.

Djambe dan Ingas adalah nama-nama pohon istimewa. Ia bukan sekadar simbol ekologi. Lebih dari itu, Djambe dan Ingas adalah simbol intelektual. Sebab, pohon Jambe (palma) dan pohon Ingas (ficus/beringin) adalah pohon yang memiliki kedekatan dengan tradisi Para Begawan Medang.
Sebagai bagian dari jenis palma (termasuk aren, palem, lontar, dan nipah), pohon jambe adalah pohon yang dibudidayakan oleh para intelektual kuno yang dikenal dengan nama Rakawi dan Citralekha. Maka bukan kebetulan jika dalam relief candi Borobudur, pohon Jambe dikenal dengan Kalpataru, yang bermakna pohon harapan.
Baca juga: Trembes Malo, Jejak Para Citralekha
Sementara Ingas adalah jenis Beringin (Ficus Religiosa), pohon Pertapa. Dalam konteks Hindu-Budha, Ingas dikenal sebagai Pohon Bodhi, ia dihormati sebagai tempat Siddhartha Gautama mencapai pencerahan (Bodhi). Dalam tradisi Hindu, pohon ini dihormati karena dikaitkan dengan keberadaan dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Nama Djambe dan Kedung Ingas yang kini melebur jadi Dusun Tawaran, menunjukan bahwa sejak zaman kuno, kawasan ini bukan sekadar hutan biasa. Namun laboratorium Kadewaguruan yang dipenuhi pohon Jambe (Kalpataru) dan pohon Beringin (Bodhi) — indikasi keberadaan para intelektual kuno: Wiku Pertapa dan Citralekha.
Dusun Tawaran bukan hanya tempat kuno. Tapi “tanah penyimpan nilai” yang menggambarkan konjungsi ekologis dan kesantunan etis, antara manusia terhadap alam dan Sang Pencipta. Maka tidak heran jika di Dusun Tawaran, pernah ditemukan cukup banyak peninggalan artefak dari masa silam.
Peradaban Alas Gebang
Secara geografis, Alas Gebang merupakan savana hutan yang maha luas. Peta Leiden menunjukan, kawasan ini membentang panjang dari arah selatan ke utara, dari Kecamatan Bubulan, Ngasem, hingga Kecamatan Kalitidu. Rapatnya bentuk hutan, menunjukan bahwa sistem kolonial tak mampu meng-intervensi kawasan kuno Alas Gebang ini.

Secara toponimi, Alas Gebang berarti hutan yang dipenuhi pohon gebang — bagian dari jenis pohon palma (termasuk aren, palem, lontar, nipah, dan jambe). Di wilayah Alas Gebang ini, kemungkinan besar terdapat banyak jenis pohon jambe. Hilangnya nama Alas Gebang, karena habisnya pohon jambe di kawasan ini.
Istilah Alas Gebang, sejauh ini, memang selalu digambarkan dengan penuh mitos dan keangkeran. Di Jawa Barat, misalnya, Alas Gebang dimitoskan sebagai hutan cikal bakal Cirebon yang sangat angker. Begitupun di tempat lainnya. Namun sesungguhnya, Alas Gebang adalah simbol peradaban.
Secara kodikologi (ilmu yang mempelajari material naskah kuno), Pohon Gebang adalah syarat utama keberadaan ekosistem naskah kuno, literasi lontar abad 10 M. Karena itu, pohon gebang identik skriptorium (ruang pernaskahan), tempat para Begawan Citralekha.
Dalam konteks ini, para Begawan telah memberi tauladan ekologis yang amat penting. Bahwa untuk bisa bekerja (menulis karya), mereka harus menanam Pohon gebang. Pohon gebang adalah pohon yang ditanam Para Begawan Citralekha. Ini alasan utama, keberadaan Pohon gebang selalu identik Begawan Citralekha.
Secara ideografis, Pohon gebang adalah simbol peradaban intelektual. Candi Borobudur yang dibuat pada abad 8 M, misalnya, bahkan mengabadikan pohon gebang sebagai “kalpataru” yang bermakna pohon pengharapan. Keberadaan pohon gebang, selalu diikuti besarnya peradaban.
Di Sendangharjo, Peradaban Alas Gebang tidak benar-benar hilang. Sebab, nama Gebang terdeteksi sebagai nama aliran sungai kecil yang melintas di desa tersebut: Kali Gebang. Selain itu, deretan Pohon Gebang tua juga masih ditemui, sebagai sisa jejak besarnya peradaban di kawasan tersebut.
Laboratorium Kebudayaan
Sebagai bagian dari Alas Gebang, Sendangharjo telah banyak kehilangan aset budaya. Sebab, selain tak pernah diperbincangkan, benda-benda kuno di tempat itu juga banyak dibawa orang. Untungnya, kawasan ini masih menyimpan titik-titik yang menggambarkan kuatnya nilai budaya. Meski, secara kualitas maupun kuantitas, sudah tak seutuh sebelumnya.
1. Situs Tegal Gong

Situs Tegal Gong berada di tengah persawahan Dusun Tawaran Desa Sendangharjo. Di lokasi tanah kramat ini, pernah ditemukan sejumlah artefak seperti; Keramik Piring Panjang motif Dinasti Tang, Gong Perunggu, Piranti Perunggu, Uang Gobok, Peralatan tete Gamelan, Batu Karupadhani, hingga Dandang Perunggu. Benda-benda ini, diperkirakan dari zaman Kerajaan Medang (abad 10 M).
1. Situs Klumpang

Terdapat lumpang kuno yang terletak di Dusun Klumpang, Sendangharjo. Masyarakat menyebut, keberadaan lumpang kuno ini, menjadi cikal bakal tempat itu disebut Dusun Klumpang. Yang menarik, lumpang kuno ini berada di atas bukit kapur kecil berada di tepi aliran Kali Tidu. Sebuah posisi menggambarkan para Citralekha dari zaman Medang abad 10 M.
3. Situs Gebang

Situs Gebang menjadi satu-satunya jejak Alas Gebang yang masih tersisa. Situs Gebang merupakan deretan Pohon Gebang tua di lembah Bukit Kapur, yang berlokasi di Dusun Tawaran. Sejumlah Pohon Gebang tua berada di lokasi tersebut, menjadi bukti penting bahwa sisa jejak Peradaban Alas Gebang, ternyata masih ada.
4. Lokal Genius
Selain peninggalan berwujud fisik, jejak peradaban Alas Gebang juga masih tampak dari kedekatan masyarakat dengan alam. Ini terlihat dari ritus pertanian yang masih dilakukan hingga kini. Seperti upacara tanam padi, upacara merayakan kehamilan padi, upacara memulai panen, upacara pasca panen, hingga upacara mengusir angin saat musim laboh, untuk menyelamatkan tanaman.
Selain ritus Pertanian, di Sendangharjo masih terdapat ritus sosial seperti Sesajen Cuk Bakal untuk mendirikan rumah, dan Sesajen Sumur Dawet untuk membuat sumur. Sementara saat terjadi gerhana, misalnya, masyarakat Sendangharjo masih melakukan ritual menepuk pohon dan hewan ternak.
Ritus-ritus kuno yang masih lestari di Sendangharjo, adalah wujud “konjungsi ekologis” yang terus hidup hingga kini. Ritus-ritus di atas, bagian dari warisan luhur Peradaban Alas Gebang yang sudah mendarah-daging dengan masyarakat sekitar. Meski eksistensinya berubah wujud, esensi kedekatan pada alamnya masih tetap sama.
Kereta Api Sancaka Utara, 12 Juli 2025








