Benarkah kesuksesan ada polanya? Seperti halnya ketika kita mengerjakan soal deret aritmatika atau deret geometri yang bisa memakai rumus? Tentu jawabannya: Tidak. Tidak semua bisa dilogikakan dan dirasionalisasikan.
Lagian sangat mononton hidup ini jika setiap peristiwa ataupun momentum bisa kita duga secara tepat tanpa meleset sedikitpun. Lagian, siapa kita, sampai-sampai punya angan-angan semacam itu. Sebab, pada diri kita sendiri kita tak punya kendali penuh.
Seperti halnya menentukan dari rahim siapa kita dilahirkan. Begitu juga dengan kesuksesan hidup yang oleh kebanyakan orang dianalogikan dengan beberapa lambang kejayaan dan kepemilikian pernak-pernik duniawi.
Sebagian dari kita beranggapan kesuksesan hidup adalah ketika kaya, berkuasa, dan masyhur. Sah-sah saja anggapan semacam itu. Sebab, tidak semua manusia memiliki pengetahuan, ilmu, dan penghayatan hidup yang sama.
Begitu juga dengan saya selaku penulis, yang sampai saat ini masih mengira-ngira dan berupaya menafsirkan sendiri sebenarnya apa arti dan makna sebenarnya dari kesuksesaan sejati itu?
Kenapa begitu banyak manusia yang rela siang malam, tanpa peduli hujan dan teriknya matahari, mengejar mati-matian sesuatu yang nantinya akan ditinggalkan. Belum lagi, sampai ada yang rela tanpa merasa bersalah ketika meninggalkan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Merasa bahwa dunia bisa diperolehnya hanya dengan kecerdasan, relasi, dan kerja kerasnya Padahal itu semua bukan variabel atau faktor mutlak yang menentukan. Sebab, yang membagikan rezeki iu adalah Allah.
Kita hanya bertugas dan berkewajiban menjemputnya. Artinya, takarannya semua telah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Tanpa kehendak-Nya, meskipun siang malan tanpa henti mengejar duit, kita akan pulang dengan tangan kosong.
Ironinya, sebagian dari kita lupa atau barangkali pura-pura lupa bahwa Allah lah yang telah menentukan kepada siapa, jam berapa, dan sejumlah berapa rezekinya akan dibagikan. Mutlak kekuasaan Allah. Sebab itu, salah kaprah jika kita menjauh dari Allah yang sangat berkuasa dalam mengatur dan mengendalikan hidup kita.
Manusia, sebagai makhluk yang lemah dan terbatas, hanya diwajibkan untuk selalu berusaha dalam hidupnya. Entah itu berusah mencari ilmu ataupun menjemput rezeki. Tidak boleh hanya duduk diam di rumah lalu berharap menjadi orang yang kaya dan berilmu. Itu ibarat mimpi di siang bolong.
Seperti halnya kita lapar tapi tidak bergerak untuk mencari sesuap nasi. Berharap bisa kenyang hanya dengan tiduran di kasur empuk. Lebih-lebih anak muda, yang mana kesempatan dan waktunya masih banyak.
Sangat disayangkan jika dibuang untuk hal-hal yang tidak berfaedah. Enggan untuk menempa diri, Malas untuk berproses menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan bermanfaat. Padahal, pemuda adalah harapan bangsa. Padahal, generasi muda hari ini adalah generasi yang didamba-dambakan menjadi generasi emas beberapa tahun mendatang.
Sudah saatnya, pemuda memilih untuk bergerak dan produktif belajar dan berkarya. Tidak ada jalan pintas untuk sukses. Tidak ada karpet merah untuk mendapatkan sesuatu hal yang luar biasa. Kita harus rela berkorban untuk mewujudkan mimpi-mipi kita menjadi kenyataan.
Berkoban waktu, pikiran, tenaga, materi, dan sebagainya. Tanpa pengorbanan dan perjuangan, semua mimpi hanyalah ilusi. Meskipun secara nasab kita boleh dibilang keturunan orang-orang alim dan bijaksana, tapi semua itu tidak berpengaruh seratus persen menentukan. Mungkin hanya sekian persen pengaruhnya.
Tapi kalau boleh jujur, pemuda yang selalu menempel atau bergandolan pada nama besar leluhurnya, cepat atau lambat, akan kehilangan jati diri. Hidupnya hanya dihabiskan dengan membawa-bawa kemasyhuran buyutnya. Padahal, yang alim, masyhur, dan arif itu buyutnya. Dia sendiri belum tentu.
Artinya, masih perlu diragukan dan dipertanyakan. Kita semua tentunya juga melihat bukti nyata. Sebab, tidak semua keturunan orang alim itu otomatis menjadi alim. Kecuali dia memilih untuk tekun belajar dan berproses sendiri tanpa berlindung dalam kebesaran bayang-bayang ayah, kakek, atau buyutya.
Itupun masih belum tentu. Sebab, yang membukakan pintu-pintu ilmu adalah Tuhan. Namun setidaknya dengan belajar bisa selangkah lebih dekat untuk membuka gudang-gudang ilmu itu.
Apalagi, ditambah fakta yang saya kira tidak bisa dibantah lagi, Yaitu terkait sebagian anak-anak muda sekarang, yang ingin cepat-cepat sukses Ingin cepat-cepat menjadi pintar dan cerdas. Pokoknya semua keinginan dan hasratnya harus terealisasi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jika disuruh berproses, sebagian dari mereka berdalih dengan sejuta alasan. Berkilah dengan segala jurus dan strategi. Intinya enggan untuk berpayah-payahan.
Maunya bim salabim abrakadabra semua keinginan terwujud sekejap mata. Maka tak heran jika kerap kali kita dengar slogan yang menyesatkan yaitu: kecil dimaja, muda berkelana, tua kaya raya, mati masuk surga. Jika dicermati, enak betul slogan itu.
Tapi percayalah, slogan itu adalah slogan sontoloyo alias ngawur. Seakan-akan dunia ini kita yang menciptakan dan mengatur. Seolah-olah kita punya orang dalam untuk masuk surge. Padahal, kesuksesan hidup, di dunia dan akhirat, itu penuh dengan ujian dan tantangan. Tidak ada orang besar yang tiba-tiba muncul tanpa ditempa terlebih dahulu. Seperti halnya tidak ada pendekar sejati tanpa melawati ragam latihan dan tirakat tentunya.
Maka dari itu, mari segera sadari akan hal ini sebelum semuanya terlambat. Waktu terus berjalan, umur kita kian berkurang. Saatnya berkemas-kemas dan beranjak dari zona nyaman untuk menjadi “Kesatria”. Nikmati setiap prosesnya. Nikmati setiap perjalanannya. Jangan pernah lepaskan Tuhan dari hidup kita. Tebarkan kebermanfaatan di mana-mana.
Pegang erat-erat idealisme kita. Jangan pernah berpikir untuk memprotes setiap proses. Setiap yang berjalan akan sampai. Setiap ada kemauan pasti ada jalan. Di balik kesulitasan pasti ada kemudahan. Bukankah setelah gelap malam akan muncul sinar mentari di pagi hari?
Baiklah, untuk menutup tulisan ini, izinkan saya mengutip perkataan Aristoteles, filsuf Yunani: “Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang. Keunggulan bukanlah perbuatan sekali jadi. Melainkan sebuah kebiasaan.”
*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi








